

inNalar.com – Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, RI sempat memiliki wajah perekonomian yang cukup gemilang di hadapan penilaian Bank Dunia.
Itulah mengapa Indonesia kala itu dipandang sebagai ‘Macan Asia’. Adapun pencapaian ekonomi yang perkasa ini menjadi identitas khas prestasi Soeharto selama menjabat sebagai Presiden RI.
Namun bagaimana bisa Presiden Soeharto akhirnya lengser dari jabatannya karena krisis moneter. Benarkah ekonomi RI memang sekuat itu pada masa pemerintahannya?
Seorang ahli ekonomi bernama Emil Salim sempat mencatat adanya kenaikan 438 kali lipat pada indeks biaya hidup di Indonesia periode 1960 dan 1966.
Bukti prestasi ekonomi RI di masa pemerintahan Soeharto juga diungkap oleh Lepi T. Tarmidi, Wakil Kepala Pusat Kajian APEC dari Universitas Indonesia.
Menurut penelitian di tahun 2003, Tarmidi mengungkap bahwa perekonomian Indonesia masa 1990 – 1997, yakni setidaknya sebelum krisis moneter terjadi, terlihat ada beberapa indikator yang membuktikan bahwa stabilitas ekonomi di bawah pemerintahan Soeharto cukup apik.
Terlihat dari data BPS, pertumbuhan ekonomi RI terus mengalami pertumbuhan yang signifikan, laju inflasi juga terkendali, dan tingkat pengangguran pun relatif rendah.
Selain itu, cadangan devisa negara pun masih terbilang aman, dan realisasi anggaran pemerintah masih memiliki sedikit surplus.
Maka tidak heran jika Bank Dunia pun menyanjung pencapaian ekonomi Indonesia saat kepemimpinan Soeharto.
Lantas, bagaimana bisa prestasi yang membanggakan RI tersebut semakin lenyap sejak 8 Juli 1997 hingga berujung pada berakhirnya masa pemerintahan Presiden Soeharto usai menjabat 32 tahun?
Tarmidi pun kembali mengulik keanehan ini dan ternyata ditemukanlah beberapa jawaban yang membuktikan bahwa Soeharto tidak sepenuhnya lengser karena krisis moneter 1998.
Menurutnya, dengan dasar perekonomian RI yang terbilang kuat kala itu seharusnya masih tetap bertahan dengan gempuran krisis moneter yang terjadi di beberapa negara di Asia, seperti Korea dan Thailand.
Dikutip dari pernyataan A. Yogaswara dalam bukunya “Biografi daripada Soeharto” ia menyebut, “Awal petaka bagi Soeharto dimulai pada tanggal 8 Juli 1997 ketika krisis ekonomi yang menghantam Thailand, menular ke Indonesia.”
Kala itu, nilai USD 1 setara dengan Rp2500, tetapi sejak krisis moneter terjadi nilai rupiah terhadap dollar mengganas menjadi Rp17.000 per dollar Amerika.
Apabila kita melihat murni dari sisi perkembangan ekonomi yang jeblok, memang benar adanya krisis moneter menjadi faktor penyebab Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden.
Namun tahukah bahwa ada krisis lain yang membuat jatuhnya kekuasaan sang mantan jenderal sepuh ini.
Baca Juga: Strategi Misterius Pasukan Vietnam: Jebakan-Jebakan Mematikan yang Mengejutkan Pasukan Amerika
Tarmidi mengungkap bahwa apabila kita melihat dari kemampuan ekonomi RI tentu seharusnya krisis moneter tidak akan membuat benteng pertahanan negeri kita runtuh.
Namun krisis di Indonesia terjadi sebab adanya beberapa celah kelemahan struktural dalam beberapa kebijakan ekonomi Indonesia ditambah dengan ketidaktransparan dan kurangnya data membentuk krisis kepercayaan di kalangan rakyat Indonesia.
Ditambah lagi, terjadinya musibah nasional seperti kebakaran hutan besar di Kalimantan, serangan hama dan musim kemarau berkepanjangan yang menggoyahkan kepercayaan dan menciptakan kepanikan di tengah masyarakat.
Jadi, krisis moneter yang ditambah dengan adanya faktor alam berupa rentetan musibah nasional yang terjadi beberapa tahun terakhir, dan krisis kepercayaan menjadi sebuah situasi yang menyulitkan Presiden Soeharto kala itu.
Meski dirinya telah berupaya untuk mengajukan bantuan ke IMF, namun syarat yang diajukan dinilai tidak mungkin bisa dilakukan oleh Indonesia saat itu, sehingga pencairan dana dinilai sangat lambat di situasi genting kala itu.
Sementara bantuan dari negara lain pun juga menunggu lampu hijau dari IMF, namun situasi kian memburuk dan bantuan tidak kunjung datang.
Baca Juga: Letak Geografis di Indonesia Menjadi yang Terindah Sekaligus Juga Paling Mengerikan, Mengapa?
Oleh sebab itu, banyak yang menyorot bahwa IMF setengah hati untuk membantu situasi kritis di Indonesia kala itu.
Adapun krisis kepercayaan terhadap Presiden Soeharto dari rakyatnya juga semakin kritis, dilihat dari merebaknya demo besar-besaran di beberapa daerah yang menuntut kemundurannya.
Dengan demikian, ketiga faktor yang menyatu inilah yang sebenarnya membuat Presiden RI Soeharto memilih untuk mengundurkan diri dari jabatannya.***