

inNalar.com – Pada beberapa waktu lalu Suriah baru saja mengalami sebuah kejadian bersejarah dengan kejatuhan kepemimpinan rezim Bashar al Assad.
Setelah lebih dari satu dekade Suriah berada di tengah konflik brutal, akhirnya berakhir pada 8 Desember 2024 lalu dan berganti ke pemimpin baru.
Abu Muhammad al Julani adalah sosok kunci pada runtuhnya rezim Bassar Al Assad ini. Dia sosok pemimpin baru yang berasal dari Hayat Tahrir al-Sham (HTS), secara langsung menjadi tokoh sentral dalam transisi kekuasaan di Suriah.
Baca Juga: 5 Kategori Uang dengan Nomor Seri Cantik yang Paling Diminati Kolektor: Anda Punya Salah Satu?
Pria yang lahir dengan nama asli Ahmed Hussein al-Sharaa pada tahun 1982 di Riyadh, Arab Saudi ini merupakan seorang tokoh yang memiliki latar belakang kompleks dalam gerakan jihad.
Pada tahun 2003, Abu Muhammad al Julani bergabung dengan Al-Qaeda di Irak sebagai bagian dari bentuk perlawanan terhadap invasi Amerika Serikat di timur tengah.
Namun pada aksi perlawanan tersebut itu pria yang berhasil menggulingkan rezim Bashar Al Assad ini sempat ditangkap oleh pasukan AS dan ditahan selama lima tahun lamanya.
Baca Juga: Semakin Langka, Harga Uang Koin Logam Kuno 1000 Rupiah TE 1993 Capai Ratusan Juta per Kepingnya
Hingga akhirnya Abu Muhammad al Julani kembali ke Suriah dan mendirikan Front Al-Nusra, yang kemudian berubah menjadi HTS.
Sejak tahun 2016, Hayat Tahrir al-Sham mencoba untuk bisa lepas dari pengaruh Al-Qaeda dan fokus pada misi yang disebut sebagai republik Islam.
Misi tersebut terbukti mulai menunjukkan keberhasilan melalui serangan yang mengakibatkan jatuhnya Damaskus pada 8 Desember 2024 lalu.
Baca Juga: 3 Uang Kuno Indonesia Paling Diburu Kolektor karena Nilai Sejarah dan Harga Fantastis
Tak hanya melalui serangan secara fisik HTS juga memanfaatkan ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintahan Assad yang brutal.
Sehingga akhirnya mereka berhasil menggalang dukungan dari berbagai faksi pemberontak.
Dan membuat mereka bisa merebut kota-kota strategis seperti Aleppo dan Homs sebelum akhirnya menduduki Damaskus yang merupakan ibu kota negara tersebut dalam waktu kurang dari sebulan.
Melalui hal ini juga Abu Muhammad Al Julani berhasil memposisikan dirinya sebagai pemimpin baru yang kredibel di mata masyarakat Suriah.
Dengan dirinya mengambil posisi pemimpin baru Suriah ini, ia berjanji untuk membangun pemerintahan berdasarkan hukum Islam. Di sisi lain pemberontakan ini juga mendapatkan dukungan kuat dari berbagai faksi oposisi rezim Bashar al Assad.
Sehingga dapat dipastikan pemimpin kelompok pemberontakan ini berpotensi menjadi tokoh sentral dalam proses rekonstruksi negara pasca-konflik.
Dan sebagai pemimpin kelompok oposisi bersenjata terbesar di Suriah, dampak keputusan al-Julani akan berpengaruh secara nasional dan internasional nantinya.
Karena meskipun rezim pemerintahan Assad yang dianggap bobrok telah runtuh masih banyak tantangan besar yang akan dihadapi negara ini.
Baca Juga: Hari Gunung Internasional Jatuh Pada 11 Desember 2024, Bagaimana Cara Merayakannya?
Hal seperti masih adanya potensi ketegangan antara berbagai kelompok bersenjata yang dapat memicu kembali kekerasan jika tidak dikelola dengan baik.
Lalu banyaknya wilayah yang memerlukan rekonstruksi pada infrastruktur dan layanan publik setelah bertahun-tahun perang.
Dan juga pemenuhan pada janji untuk menuntut pertanggungjawaban atas pelanggaran selama konflik harus ditepati secara penuh pada masyarakat.***