

inNalar.com – Nama Reza Indragiri cukup ramai dibicarakan terutama setelah film tentang kasus Jessica Wongso tayang di Netflix tahun 2023 lalu.
Dalam hal ini, dirinya hanya sebagai psikolog forensik yang senang berbagi tanggapannya terhadap kasus kopi sianida dengan terpidana Jessica Wongso.
Dirinya mengaku tidak ada hubungannya dengan Jessica Wongso dan hanya berbagi keilmuan yang bisa dipertanggungjawabkannya.
Reza Indragiri mengungkap bahwa dirinya tidak yakin Jessica melakukan pembunuhan dengan racun.
Baginya tidak logis jika seseorang menyimpan racun namun tetap diam di sekitar korban yang disadari racunnya sangat berbahaya, jika memang membunuhnya.
Sebagai ahli psikolog forensik tanggapannya mengundang berbagai perspektif dari berbagai pihak termasuk petinggi-petinggi dari Lembaga penting.
Baca Juga: Badai PHK Tembus 46.000! Kemiskinan Paling Mencekik di Jawa Timur Bukan di Surabaya, Melainkan…
Reza Indragiri juga mengaku sempat mendapat panggilan dengan kosa kata yang tidak senonoh dari orang yang punya kepentingan dalam kasus ini.
Saat itu dirinya mengaku diberi peringatan keras oleh orang tersebut.
Setelah itu dirinya juga sempat mendapat panggilan dari orang yang sama beberapa tahun kemudian.
Dalam hal itu dirinya kembali dilontarkan bahasa-bahasa yang menurutnya “ngawur”, namun berkaitan dengan kasus Ferdy Sambo.
Reza juga mengaku setiap kali pejabat tersebut menelepon, pasti ada kasus yang “berbau amis”.
Menurutnya, melalui film Ice Cold: Murder, Coffee and Jessica Wongso itu berpotensi besar mempertontonkan kumuhnya penegakkan hukum di Indonesia.
Baca Juga: Nama Han So Hee Ikut Terseret Usai Berita Penangkapan Sang Ibu, Diduga Terlibat Perjudian Ilegal
Pandangannya merasa bahwa semestinya institusi negara yang berkaitan dengan penegakkan hukum harus sadar melihat film tersebut.
Reza Indragiri merasa bahwa institusi penegak hukum perlu bicara, mengkoreksikan atau menyanggah untuk memastikan bahwa tidak akan ada lagi penegakkan hukum yang kacau.
Baginya perlu dipastikan bahwa penegakkan hukum yang compang-camping tergambar di film kasus Jessica Wongso ini tidak akan terjadi lagi.
Namun faktanya belum ada pihak dari institusi penegak hukum yang berikaitan dengan kasus tersebut menanggapi yang tergambarkan di film tersebut.
Menurut Reza, sikap tersebut wajar saja jika akan mendatangkan asumsi publik seperti,
1. Negara abai terhadap penegakkan hukum professional dan berintegritas,
2. Diamnya menandakan boleh jadi karena membenarkan yang tertera dalam film.
Reza Indragiri mengaku perspektifnya itu bukan untuk membalik atau mengubah kasus Jessica Wongso.
Dirinya merasa bahwa hal tersebut untuk perbaikan atau pembenaran internal institusi penegak hukum di Indonesia ke depannya melalui kasus kopi sianida ini.
Baca Juga: Hati-Hati E-Meterai Palsu! Pelamar CPNS 2024 Wajib Cek Sebelum Unggah Dokumen CPNS 2024
Menurutnya, perbaikan atau pembenaran hanya bisa diharapkan dan tidak bisa ditebak.
Reza Indragiri beranggapan bagaimana pun keadaannya, masyarakat adalah pemegang kedaulatan tertinggi di Indonesia.
Baginya kasus Jessica Wongso ini bisa ditarik sebagai pembenaran atau perbaikan kehidupan atau penegakkan hukum di negara kita.***

inNalar.com – Nama Reza Indragiri cukup ramai dibicarakan terutama setelah film tentang kasus Jessica Wongso tayang di Netflix tahun 2023 lalu.
Dalam hal ini, dirinya hanya sebagai psikolog forensik yang senang berbagi tanggapannya terhadap kasus kopi sianida dengan terpidana Jessica Wongso.
Dirinya mengaku tidak ada hubungannya dengan Jessica Wongso dan hanya berbagi keilmuan yang bisa dipertanggungjawabkannya.
Reza Indragiri mengungkap bahwa dirinya tidak yakin Jessica melakukan pembunuhan dengan racun.
Baginya tidak logis jika seseorang menyimpan racun namun tetap diam di sekitar korban yang disadari racunnya sangat berbahaya, jika memang membunuhnya.
Sebagai ahli psikolog forensik tanggapannya mengundang berbagai perspektif dari berbagai pihak termasuk petinggi-petinggi dari Lembaga penting.
Baca Juga: Badai PHK Tembus 46.000! Kemiskinan Paling Mencekik di Jawa Timur Bukan di Surabaya, Melainkan…
Reza Indragiri juga mengaku sempat mendapat panggilan dengan kosa kata yang tidak senonoh dari orang yang punya kepentingan dalam kasus ini.
Saat itu dirinya mengaku diberi peringatan keras oleh orang tersebut.
Setelah itu dirinya juga sempat mendapat panggilan dari orang yang sama beberapa tahun kemudian.
Dalam hal itu dirinya kembali dilontarkan bahasa-bahasa yang menurutnya “ngawur”, namun berkaitan dengan kasus Ferdy Sambo.
Reza juga mengaku setiap kali pejabat tersebut menelepon, pasti ada kasus yang “berbau amis”.
Menurutnya, melalui film Ice Cold: Murder, Coffee and Jessica Wongso itu berpotensi besar mempertontonkan kumuhnya penegakkan hukum di Indonesia.
Baca Juga: Nama Han So Hee Ikut Terseret Usai Berita Penangkapan Sang Ibu, Diduga Terlibat Perjudian Ilegal
Pandangannya merasa bahwa semestinya institusi negara yang berkaitan dengan penegakkan hukum harus sadar melihat film tersebut.
Reza Indragiri merasa bahwa institusi penegak hukum perlu bicara, mengkoreksikan atau menyanggah untuk memastikan bahwa tidak akan ada lagi penegakkan hukum yang kacau.
Baginya perlu dipastikan bahwa penegakkan hukum yang compang-camping tergambar di film kasus Jessica Wongso ini tidak akan terjadi lagi.
Namun faktanya belum ada pihak dari institusi penegak hukum yang berikaitan dengan kasus tersebut menanggapi yang tergambarkan di film tersebut.
Menurut Reza, sikap tersebut wajar saja jika akan mendatangkan asumsi publik seperti,
1. Negara abai terhadap penegakkan hukum professional dan berintegritas,
2. Diamnya menandakan boleh jadi karena membenarkan yang tertera dalam film.
Reza Indragiri mengaku perspektifnya itu bukan untuk membalik atau mengubah kasus Jessica Wongso.
Dirinya merasa bahwa hal tersebut untuk perbaikan atau pembenaran internal institusi penegak hukum di Indonesia ke depannya melalui kasus kopi sianida ini.
Baca Juga: Hati-Hati E-Meterai Palsu! Pelamar CPNS 2024 Wajib Cek Sebelum Unggah Dokumen CPNS 2024
Menurutnya, perbaikan atau pembenaran hanya bisa diharapkan dan tidak bisa ditebak.
Reza Indragiri beranggapan bagaimana pun keadaannya, masyarakat adalah pemegang kedaulatan tertinggi di Indonesia.
Baginya kasus Jessica Wongso ini bisa ditarik sebagai pembenaran atau perbaikan kehidupan atau penegakkan hukum di negara kita.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi