Reduksi Emisi 104.000 Ton CO2e, Proyek PLTS Kapasitas 50 MW di IKN Kalimantan Timur Ternyata Telan Biaya Jumbo, Gunakan Sistem Kabel Tak Terlihat?

inNalar.com – Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di IKN, Kalimantan Timur disebut menjadi pion kelistrikan berbasis energi hijau.

Dengan menargetkan produksi listrik hingga 93 Giga Watt per jam dalam setahun, tentu biaya proyek pembangunannya bakal makan biaya yang besar.

Dalam rangka merealisasikan pasokan listrik ramah lingkungan di Kawasan Ibu Kota Nusantara nantinya, pemerintah bersiap investasi sebesar Rp465 miliar.

Baca Juga: Kuras Rp253,2 Miliar, PUPR Kebut Penataan KSPN Borobudur Tahap 2 di Jawa Tengah, Bakal Punya Kampung Seni dan Museum?

Saat groundbreaking proyek pembangkit listrik ini, Presiden RI Joko Widodo mengungkap kemampuan reduksi emisi karbon dari infrastruktur tersebut.

Presiden Jokowi membeberkan bahwa dengan kapasitas produksi energi yang jumbo tersebut, emisi yang bisa ditekan mencapai 104.000 ton CO2e.

Kapasitas PLTS yang cukup besar ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan listrik di ibukota baru tanpa melupakan konsep green city.

Baca Juga: Usai Cuan Merekah Rp11,45 Triliun, PT Adhi Karya Lanjut Kongsi Bareng Emiten Asing Buat Garap Proyek Bernilai Jumbo di Maluku Utara, Apa Itu?

Lebih lanjut, secara khusus presiden berpesan agar sistem kabel menggunakan ground cable.

Artinya kabel yang terpasang di sekitar pembangkit listrik ditanam di bawah tanah sehingga tidak terlihat berantakan dipandang mata.

“Kabelnya jangan keliatan mata, harus semuanya ground cable, ditanam di bawah tanah,” tutur Presiden Jokowi, dikutip dari  laman resmi Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.

Baca Juga: Media Vietnam ‘Panas Dalam’ Sebut Lolosnya Timnas Indonesia ke Babak 16 Besar Piala Asia 2023 Dibantu Dewi Fortuna

Besarnya kemampuan produksi pasokan listrik di IKN tentu memakan lahan yang cukup luas untuk proyek PLTS ini.

Pembangunan pembangkit listrik ini diketahui memakan lahan seluas 100 hektare di atas tanah Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.

Terkait progresnya, PLTS IKN berkapasitas 10 MW bakal mulai masuk ke tahap Commercial Operations Rate (COD) pada Februari 2024.

Baca Juga: Dukung Gasifikasi Pembangkit Listrik, PT Adhi Karya Gaet Korsel Garap Proyek PLTMG Sumbawa di NTB Senilai Rp701,1 Miliar, Kapasitasnya…

Sementara untuk kapasitas sisanya akan menyusul pada pertengahan tahun ini, ungkap Menteri ESDM Arifin Tasrif.

Progres tersebut diungkap oleh Menteri Arifin saat konferensi pers terkait Capaian Kinerja ESDM sepanjang tahun 2023 pada Senin, 15 Januari 2024.

Proyek PLTS IKN di Kalimantan Timur ini menjadi bagian dari langkah strategis pemerintah untuk mengejar penggunaan 80 persen listrik EBT di tahun 2045.

Baca Juga: Wow! Tak Hanya JTTS, Pemerintah Berencana Bangun Jalur Kereta Cepat Rp41 Triliun Penghubung Lampung Hingga Aceh

Langkah ini juga sejalan dengan program gasifikasi pembangkit listrik yang tengah digalakkan Kementerian ESDM.

Terkait dengan infrastruktur penunjang di sektor kelistrikan, PLN diketahui juga merancang persebaran Stasiun Pengisian Daya Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di IKN, Kalimantan Timur.

Hal ini direalisasikan guna mempercepat penggunaan kendaraan listrik yang ditarget bakal jadi sarana transportasi terdepan di ibukota yang baru.

Baca Juga: Tekan Emisi GRK 1,05 juta ton CO2e, Perkembangan Program ‘Cofiring EBTKE’ di Indonesia Naik Drastis, Siap Transisi ke Energi Hijau?

Penting untuk diketahui pula, pihak pembangun PLTS IKN berkapasitas 50 MW ini adalah PT PLN Nusantara Power. ***

 

Rekomendasi