

inNalar.com-Inilah alasan pentingnya mengalokasikan penghasilan untuk investasi ilmu saat usia 20-an menurut Raymond Chin, dilengkapi dengan kategori dan besaran alokasinya.
Raymond Chin sempat ramai diperbincangkan oleh netizen pasalnya ia menyampaikan pernyataan kontroversi bahwa tahun 2023 akan terjadi resesi global yang terjadi di seluruh dunia termasuk di Indonesia.
Raymond Chin dikenal sebagai anak muda yang ahli dalam dunia investasi. Alumnus Binus University ini juga kerap membagikan edukasi terkait finansial.
Baru-baru ini, Raymond Chin juga membagikan ilmunya kepada netizen tentang cara mengelola penghasilan melalui sebuah video bertajuk “5 Pembelian Terbaik umur 20-an”yang diunggah di channel YouTube pribadinya.
Pada vidoenya itu, Raymond Chin membeberkan caranya membelanjakan uang hingga dirinya bisa mendirikan Start-Up dan menjadi CEO Ternak Uang, salah satunya adalah dengan investasi ilmu.
Cara itu juga bisa berlaku bagi Anda. Menghabiskan uang untuk membeli hal-hal terbaik bisa mengantarkan Anda meraih kesuksesan, khususnya dalam hal keuangan.
Lantas, mengapa kita perlu mengalokasikan sebagian dari penghasilan Anda untuk membeli Imu?
Pentingnya Mengalokasikan Sebagian Penghasilan untuk Membeli Ilmu
Topik mengenai ilmu sebenarnya sudah sering dibahas oleh Raymond Chin di video-video sebelumnya.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Hadiah untuk Merayakan Hari Ibu Agar Lebih Berkesan
Namun, pada pembahasan kali ini, pria kelahiran 7 Desember 1994 itu menguraikannya lebih terperinci.
Menurutnya, ilmu dibagi menjadi dua kategori yaitu theoretical (teoritis) dan practical (praktis). Raymond Chin sendiri menyarankan untuk memilih practical. Mengapa?
Selama beberapa puluh tahun sistem pendidikan di Indonesia lebih mengajarkan ilmu yang bersifat teoritis. Di mana siswa di tes dari kemampuannya mengingat rumus-rumus dan teori.
Baca Juga: Klarifikasi inNalar.com dan Ibu Korban soal Viralnya Dugaan Pencabulan Bocah 9 Tahun di Dharmasraya
Menurut pria kelahiran Yogyakarta itu, di tahun 2022 dan seterusnya Anda perlu mengurangi ilmu teoritis. Ilmu yang bersifat teoritis memang diperlukan untuk menambah wawasan.
Akan tetapi jika berhubungan dengan karir dan keuangan, maka fokuslah memperdalam skill-skill practical.
Ada banyak cara untuk meningkatkan skill di antaranya yaitu dengan membaca buku, course, workshop, hingga bootcamp.
Bagi Anda yang sedang dalam tahap merintis karir, ilmu adalah investasi terbaik yang bisa Anda beli. Apabila Anda menghabiskan uang untuk membeli ilmu, imbal balik yang akan Anda dapatkan bisa mencapai jutaan persen.
Lantas, apa yang dimaksud ilmu practical dan lebih detailnya lagi apa yang harus dicari?
Ilmu practical adalah ilmu yang ketika kita ikuti kurususnya, atau bootcamp-nya ada hal yang langsung bisa kita praktekkan.
Baca Juga: Pengertian Risiko Finansial dalam Investasi, Dilengkapi Jenis dan Contohnya
Contoh sederhana misalnya ketika Anda mengikuti Coding Bootcamp, atau Coding Course. Anda harus memiliki espektasi outcome (hasil) yang jelas dari ilmu yang dibeli. Apakah setelah membeli itu Anda bisa melakukan sesuatu.
Satu hal yang sering dilupakan oleh seseorang ketika mereka membeli ilmu adalah espektasi setelah mereka mendapatkan ilmunya.
Saat ini banyak course & bootcamp yang fokus mengajarkan praktek tapi memfasilitasi prakteknya itu. Seperti beberapa tempat yang bekerja dengan perusahaan-perusahaan yang sifatnya job-connect.
Proses itu biasanya berlaku bagi karyawan yang sedang dalam tahap employee. Jadi, mereka mendapatkan skill agar bisa disalurkan ke bidang pekerjaan tertentu.
Ada juga yang bersifat in-direct seperti kategori self-employed. Seperti kita tahu ada beberapa jenis income yaitu employee (menjadi karyawan) dan self-employed (mempekerjakan diri sendiri).
Beberapa dari ilmu-ilmu itu ada hard skill dan soft skill-nya. Contoh misal hard skill-nya adalah coding tapi Anda menginginkan kerja freelance, mau belajar mencari klien.
Berarti Anda harus ikut course soft skill-nya. Bagaimana cara negosiasi, administrasi, buat proposal dan lain-lain.
Berapa persen yang sebaiknya Anda alokasikan untuk membeli ilmu?
Menurut Raymond Chin, alokasi yang baik untuk ilmu adalah 5-10% dari penghasilan. Akan tetapi, kalau Anda lebih agresif bisa mulai dari 15-20%.***