

inNalar.com – Perusahaan sawit handal ini memiliki 56 persen konsesi lahan tanam produksinya di Kalimantan Timur.
Dalam processing produksinya, perseroan mengandalkan sederetan teknologi khusus guna meraih efektivitas dan efisiensi biaya di lapangan.
Dorongan transformasi operasional sawit semakin dibutuhkan, mengingat emiten ini telah memiliki persebaran lahan garapnya yang meluas hingga 112.900 hektare.
Tidak hanya konsesi sawit di Kalimantan Timur, area tanamnya juga tersebar hingga Kalimantan Tengah dan Barat.
Perseroan ini pun telah berinvestasi dalam penggunaan teknologi yang tepat guna memuluskan langkahnya menjadi perusahaan sawit terdepan dalam bidang industrinya.
Perusahaan yang dimaksudkan di sini adalah PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG).
Salah satu yang paling nampak adalah presisi pengolahan kelapa sawit dengan skema digitalisasi dan komputerisasi.
Selain itu, perseroan juga menggunakan mekanisme pemupukan dengan alat kendaraan khusus guna mengedepankan kesehatan dan keselamatan kerja.
Tidak kalah menariknya, penggunaan drone juga dilakukan pada saat aktivitas pemupukan di area pembibitan perseron, termasuk area konsesinya di Kalimantan Timur.
Sejumlah peralatan khusus dikerahkan saat melakukan panen sawit guna menjangkau terdalam yang sulit diakses.
Berkat sederetan teknologi tepat guna tersebut, DSNG berhasil mengerek naik produktivitas industri minyak sawit mentah hingga 3,5 persen.
Alhasil, perseroan sukses raup pendapatan melalui penjualan produk CPO dan pengolahan kayu mencapai Rp6,56 triliun, menurut Laporan Keuangan per Kuartal III Tahun 2023.
Tidak meningkat secara signifikan, tetapi perseroan mempertahankan laju peningkatan nilai jual dan produksinya secara bertahap.
Pada periode sebelumnya, perusahaan sawit di Kalimantan Timur ini juga berhasil meraup pendapatan sebesar Rp6,58 triliun.
Margin antara perolehan total penjualan dengan beban pokok produksinya pun cukup stabil.
Perseroan mencatatkan beban pokok penjualan sebesar Rp4,92 triliun, sedikit meningkat dari periode sebelumnya.
Kendati demikian, DSNG tetap berhasil meraup laba bruto sebesar Rp1,64 triliun, cenderung menurun drastis dari sebelumnya yang mencapai Rp2,14 triliun.
Hal ini dimungkinkan karena nilai rugi dari perubahan nilai wajar dari aset biologis yang tercatat sebesar Rp48,13 juta.
Ditambah dengan adanya beban umum dan administrasi yang kian membengkak hingga Rp343,17 miliar, serta beban penjualan yang naik tipis di level Rp318 juta.
Dengan begitu, perusahaan berhasil mencatatkan laba operasi sebesar Rp980,62 miliar.
Sementara laba bersihnya sebesar Rp504,33 miliar, cenderung menyusut dari periode sebelumnya yang bisa menembus Rp1,55 triliun.***