Ratakan 600 Ha Tanah, Bendungan Jragung di Semarang Bakal Tenggelamkan Desa Jawa Kuno Saksi Penjajahan?

inNalar.com – Proyek bendungan Jragung terletak di dusun Borangan, desa Candirejo, kecamatan Pringapus, kabupaten Semarang, provinsi Jawa Tengah.

Bendungan Jragung, merupakan salah satu proyek nasional yang ditargetkan rampung pada tahun 2024 nanti.

Pembangunan bendungan Jragung bertujuan untuk meningkatkan volume penampungan air.

Baca Juga: Heboh! Shani dan Melody Pandu Langsung Shopee Live Streaming Grand Launching JKT48 Official Store

Sehingga, lahan pertanian masyarakat dapat teririgasi dengan baik, meskipun musim kemarau tengah melanda.

Proyek bendungan Jragung di Semarang ini, dapat memberikan manfaat yang besar sekaligus meningkatkan potensi kerja para petani.

Petani yang mulanya hanya dapat memanen hasil sawah satu kali dalam setahun, bisa bertambah menjadi dua sampai tiga kali.

Baca Juga: Ormas Pujakesuma Nyatakan Dukungannya untuk Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming di Pilpres 2024

Dilansir inNalar.com dari laman resmi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), daya tampung bendungan Jragung mencapai 90 juta meter kubik.

Daya tampung yang besar, membuat tiga kabupaten/kota di sekitar desa Candirejo turut merasakan manfaatnya.

Aliran air 500 liter per detik akan diterima kota Semarang, lalu 250 liter air per detik akan diterima kabupaten Grobogan dan kabupaten Demak.

Baca Juga: Dana Dipakai Oknum Panitia Foya-foya, Festival Greenlane di Bandung Terpaksa Batal Padahal Artis Sudah Datang

Proyek Pembangunan Bendungan Jragung Dipercepat

Proyek pembangunan bendungan Jragung telah ditandatangani sejak akhir 2020, dan baru mulai dikerjakan pada pertengahan 2021.

Proyek penampungan air ini ditargetkan selesai sebelum memasuki 2024, dan telah dipercepat dengan menerapkan metode konstruksi paralel.

Sehingga, pekerja konstruksi dapat memulai pekerjaan lainnya, tanpa perlu menunggu pekerjaan sebelumnya selesai.

Demi melancarkan metode konstruksi paralel, proyek pembangunan bendungan Jragung dibagi menjadi tiga paket.

Paket yang pertama, yakni penggalian dan penimbunan 600 hektar, dikembangkan oleh PT Waskita Karya (Persero) dengan nilai kontrak sebesar Rp806,3 miliar rupiah.

Paket kedua, yakni perlindungan tebing, dikembangkan oleh PT Wijaya Karya dan PT BRP (KSO) dengan nilai kontrak sebesar Rp758 miliar rupiah.

Paket ketiga, yakni pengerjaan akses dan fasilitas umum bendungan Jragung, dikembangkan oleh PT Brantas Abipraya dan PT Pelita Nusa Perkasa (KSO) dengan kontrak Rp735,9 miliar rupiah.

Tenggelamkan Desa Jawa Kuno Sebelum Masa Penjajah

Berada di tengah-tengah proyek, desa Jawa kuno bernama Kedung Glatik, yang termasuk bagian dari desa Candirejo, terpaksa harus diratakan.

Dilansir inNalar.com dari video YouTube yang diunggah oleh akun Cerita Desa Indonesia, menurut warga, desa ini sudah berpenghuni sebelum masa penjajah datang.

Kampung Jawa kuno ini sangat asri dan sederhana, tampilannya seperti bangunan jaman dulu, dibuat dari kayu jati.

Sejak pengerjaan proyek bendungan Jragung dimulai, profesi utama penduduk desa Kedung Glatik terganggu.

Kawasan milik Perhutani yang menjadi lahan pertanian warga sudah dibabat habis dan diratakan dengan tanah.

Warga desa Kedung Glatik mengaku, pemerintah sudah menyiapkan lahan pengganti, namun belum ada kejelasan lagi.

Sangat disayangkan, desa asri bernuansa Jawa kuno ini akan menjadi dasar penampungan bendungan Jragung. ***

Rekomendasi