Ramai Samakan Pengungsi Rohingya dengan Israel, Warganet: Korban dan Pelaku Genosida Kok Disamakan?

 

inNalar.com – Ramai pemberitaan di media sosial mengenai sikap dari pengungsi Rohingya yang kurang menyenangkan.

Salah satunya mengenai ketidakpuasan para pengsungsi Rohingya ketika mereka hanya diberi nasi sebungkus.

Padahal jika dilihat kembali nasi bungkus yang diberikan kepada pengungsi Rohingya sangatlah layak.

Baca Juga: UU ASN 2023 SAH! Jokowi Rombak Aturan Batas Usia Pensiun PNS Sesuai Jabatan, Bapak Ibu Bisa Menikmati Hari Tua Lebih Lama

Hal tersebut membuat warganet geram dan bahkan mereka menyamakan Israel dengan pengungsi Rohingya.

Namun, ada beberapa pihak yang langsung menyangkal hal tersebut dimana Israel selaku pelaku Genosida dan pengungsi Rohingya selaku korban Genosida sangatlah berbeda.

Tepatnya 6 tahun lalu dimana terjadi kekerasan dan penganiayaan terkait dengan apa yang disebut operasi pembersihan.

Baca Juga: Viral Video Pengungsi Rohingya yang Ditampung di Aceh Protes Hanya Diberi Nasi Sebungkus, Tidak Puas?

Operasi pembersihan tersebut dilakukan oleh pihak militer Myanmar di Negara Bagian Rahine.

Pihak militer Myanmar di Negara Bagian Rakhine memaksa lebih dari 700.000 warga Rohingya mengungsi ke Bangladesh.

Selama ini, banyak pelanggaran HAM yang dilakukan pemerintahan Myanmar terhadap penduduk Rohingya.

Baca Juga: Cuma 4 Kelas Jabatan Ini di Basarnas yang Dapat Tunjangan Kinerja Lebih dari Rp10 Juta Per Bulan, Siapa Saja?

Peristiwa yang terjadi pada tahun 2017 terjadi setelah puluhan tahun dilakukannya penganiayaan terhadap warga Rohingya di Myanmar.

Penganiayaan tersebut terus menerus dilakukan dan membuat mereka mengungsi hingga saat ini.

Militer Myanmar terus melakukan Genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan tanpa mendapat hukuman.

Bahkan, Presiden dan CEO USCRO mengatakan bahwa sampai pemerintah secara de facto bertanggung jawab atas tindakannya, warga Rohingya tidak akan pernah bisa kembali ke rumah mereka dengan aman dan bermartabat.

Meskipun komunitas internasional telah bersumpah untuk tidak membiarkan hal ini terjadi lagi, warga Rohingya terus menghadapi penganiayaan.

Belum lagi, mereka disambut dengan semakin berkurangnya simpati dan meningkatnya ketidakpedulian dari luar negeri.***

 

Rekomendasi
REKOMENDASI UNTUK ANDA [Tutup]