

inNalar.com – Pelabuhan terbesar di Kalimantan Barat ini alami perkembangan pesat khususnya pada produk minyak sawit.
Diresmikan oleh Presiden Jokowi pada 2022, membuat Pelabuhan Kalimantan Barat terus alami peningkatan muatan minyak sawit hampir 100 persen.
Pada tahun 2023 ini, komoditas minyak sawit yang ada di Pelabuhan Kalimantan Barat ini menjadi penghubung bagi daerah lain seperti Riau dan Jambi.
Baca Juga: Belum Kelar Sejak 2005, Pelabuhan di Yogyakarta yang Lenyapkan Anggaran Rp365 Miliar Ini Mangkrak?
Tercatat sebanyak 245 kunjungan kapal selama setengah tahun 2023 yang berdatangan di Pelabuhan Kalimantan Barat.
Kunjungan kapal tersebut membawa muatan 884 ribu ton curah cari dan 63 ribu ton curah kering.
Dilansir inNalar.com dari setkab.go.id, Pelabuhan Kalimantan Barat yang dibangun dengan menelan anggaran sebanyak Rp2,9 triliun bernama Pelabuhan Kijing.
Proses dari pembangunan Pelabuhan Kijing dilakukan dimulai pada 2016 sampai 2022.
Dikutip dari ANTARA, produk minyak sawit mentah (CPO) di Pelabuhan Kijing berasal dari Kalimantan Barat sebanyak 32,4 persen, Riau 21,3 persen, dan Jambi 19,1 persen.
Pengumuman peningkatan komoditas minyak sawit di Pelabuhan Kijing tersebut disampaikan oleh General Manager Pelindo II Pontianak, Hambar Wiyadi.
Jika perkembangan hasil atau produksi Pelabuhan Kijing semakin meningkat seiring berjalan waktu, maka semakin besar peluang untuk Provinsi Kalimantan Barat terus maju.
Pelabuhan Kijing terletak di Sungai Kunyit Laut, Sungai Kunyit, Kabupaten Mempawah, Provinsi Kalimantan Barat.
Aktivitas impor dari Pelabuhan Kijing juga terus berlanjut sampai saat ini.
Ada lima negara yang menjadi negara asal impor, yaitu Taiwan, Thailand, China, Singapura, dan Malaysia.
Selain Pelabuhan Kijing, Pelabuhan Dwikora juga alami peningkatan sangat pesat dari tahun sebelumnya.
Salah satu peningkatan tersebut berupa penerimaan pajak dalam kegiatan ekspor cargo Kalimantan Barat.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi