

inNalar.com – Putra Ridwan Kamil yang status sebelumnya adalah sebagai orang hilang, kini dinyatakan menjadi korban tenggelam, banyak pembahasan berlanjut soal keyakinan di dalam Islam bahwa meninggal dunia karena hal tersebut, termasuk mati syahid.
Ridwan Kamil dan keluarga juga sudah tiba di Indonesia pada Jumat, 3 Juni 2022, Gubernur Jawa Barat itu pun akan kembali berkantor di Gedung Sate setelah masa cutinya habis, mengurus provinsi dengan penduduk yang cukup banyak di tanah air.
Sebelumnya dalam unggahan di Instagram Atalia istri Ridwan Kamil menuliskan kepasrahannya atas kepergian sang buah hati, dirinya menyebut melepaskan anaknya bersama penjagaan dan perlindungan Allah SWT, tak akan kelaparan serta kedinginan.
Terkait meninggal dunia karena tenggelam disebut mati syahid sebenarnya disebutkan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, bersama beberapa penyebab lain yang menjadikannya termasuk ke dalam golongan istimewa tersebut.
Hadits tersebut yaitu sebagai berikut, Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللهِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ مَاتَ فِي سَبِيلِ اللهِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ مَاتَ فِي الطَّاعُونِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ مَاتَ فِي الْبَطْنِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَالْغَرِيقُ شَهِيدٌ
“Siapa yang terbunuh di jalan Allah, dia syahid. Siapa yang mati (tanpa dibunuh) di jalan Allah dia syahid, siapa yang mati karena wabah penyakit Tha’un, dia syahid. Siapa yang mati karena sakit perut, dia syahid. Siapa yang mati karena tenggelam, dia syahid.” (HR. Muslim 1915).
Baca Juga: Selebgram Fitri Bazri Klarifikasi soal Foto Selfie dengan Ridwan Kamil Dinilai Tak Punya Empati
Sebagai penjelasan terkait syatus mati syahid bagi orang-orang yang tenggelam, di jalan Allah SWT, penyakit thaun, dan sakit perut. Menurut seorang ulama bernama Al Hafidz Al Aini dalam Kitab Umdatul Qari Syarh Sahih Bukhari, bahwa semua penyebab tersebut bukan hakiki.
Melainkan yang dimaksud dengan meninggal dunia yang salah satunya karena tenggelam adalah mati syahid adalah secara hukum, dan itulah karunia Allah SWT untuk umat Nabi Muhammad SAW, membuat musibah mengandung hikmah luar biasa.
Bahkan Al Hafidz Al Aini menyebutkan meninggal dunia yang salah satunya karena tenggelam sebagai mati syahid, menjadi pembersih dosa pernah dilakukan sebelumnya dan penambah pahala termasuk dalam amalnya.
Maha Kuasa Allah SWT yang mengatur segala hal, termasuk musibah seperti tenggelamnya putra Ridwan Kamil Emeril Khan Mumtadz di sungai Aaree di Bren Swiss, sampai bisa termasuk golongan derajat mati syahid dimana tidak mudah didapatkan.
Rasulullah SAW juga pernah mengalami hal yang sama seperti keluarga Gubernur Jawa Barat, saat wafatnya putra Nabi Muhammad SAW bernama Ibrahim anak dari Mariyah Al Qibthiyah dan saat bersabda:
إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ والقَلْب يَحْزَنُ ، وَلا نَقُولُ إِلا ما يُرضي رَبَّنا وَإِنَّا لفِرَاقِكَ يا إِبْرَاهيمُ لمَحْزُونُونَ
“Sesungguhnya airmata berderai dan hatipun berduka cita. Tetapi kami tidak ingin berucap selain dengan apa yang membuat ridha Pencipta kita. Dan sesungguhnya kami betul-betul bersedih dengan perpisahan denganmu ini wahai Ibrahim.”
Baca Juga: Jadwal dan Bacaan Niat Puasa Tarwiyah Idul Adha 2022 atau 1443 Hijriah, Simak Selengkapnya di Sini
Itulah penjelasan terkait meninggal dunia termasuk mati syahid, semoga bermanfaat.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi