

inNalar.com – Sebuah daratan mungil di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta ini memiliki potensi yang dapat dikatakan ‘kecil-kecil cabai rawit’.
Pasalnya, meski daratan tersebut terbilang mungil, tetapi selama 26 tahun belakangan wilayah ini menjadi lahan ‘harta karun’ negara yang dijaga langsung oleh Pertamina.
Tidak sembarang orang dapat masuk ke pulau pribadi Pertamina yang berada di Kepulauan Seribu ini. Miliarder pun belum tentu dapat menjamah wilayah di tengah laut ini dengan bebasnya.
Baca Juga: Viral Tagihan Pajak Lewat WhatsApp, BRI Imbau Masyarakat Tidak Terkecoh Modus Penipuan Perbankan
Hanya orang berseragam lengkap oranye lengkap dengan helm keamanan yang dapat memasuki wilayah terbatas ini.
Padahal daratan yang satu ini terbilang sempit dan hamparannya dipenuhi gugusan karang yang luasnya hanya 12,5 hektare.
Kendati daratannya hampir tidak diperhitungkan, hamparan mungilnya dinobatkan menjadi pulau tersibuk di Laut Jawa yang hanya disibukkan dengan kegiatan bisnis di dalamnya.
Baca Juga: Revitalisasi Senilai Rp 292 Miliar, Stadion Surajaya Siap Sambut Persela dengan Fasilitas Modern
Lantas, pulau apa ini yang berada di Kepulauan Seribu, tepat dekat pusat negara di Jakarta? Jika bukan daratan wisata lalu mengapa hanya orang tertentu yang bisa masuk?
Benarkah di sekitarnya terdapat ‘harta karun’ RI yang memendam nilai fantastis bagi kekayaan negara?
Namanya adalah Pulau Pabelokan, lokasinya berada di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.
Kian waktu, daratan ini kemudian lebih dikenal sebagai pulau pribadi Pertamina. Pasalnya, memang wilayah ini dijadikan perusahaan migas negara sebagai base camp para pegawainya.
Hanya pekerja dari perusahaan migas negara ini yang diizinkan masuk, itulah mengapa wilayah ini pun disebut juga sebagai Pulau Terlarang.
Pulau Pabelokan menjadi base camp pendukung gerak wilayah kerja offshore PT Pertamina Hulu Energi (PHE).
Baca Juga: Boroskan Anggaran Rp2 Triliun, Makassar Punya Rumah Sakit Termegah di Indonesia
Daratan ini menjadi salah satu aset perusahaan migas negara paling penting usai PHE resmi mengambil alih WK Southeast Sumatera (SES) yang sebelumnya dikelola CNOOC SES Ltd.
CNOOC SES Ltd, perusahaan ekstraksi dan pengolahan migas asal Tiongkok resmi mengakhiri kerjasamanya dengan Pertamina tepat pada September tahun 2018 silam.
Mengapa pulau di seberang daratan Jakarta ini menjadi begitu penting bagi perusahaan migas negara? Karena dari daratan mungil inilah para petugas menggiatkan eksplorasi migas Blok SES.
Blok migas SES sempat menjadi ‘harta karun’ paling berharga RI karena sempat menjadi pemasok minyak hingga 200.000 barel per hari (bph).
Sebagai informasi, blok tersebut menjadi salah satu penghasil migas terbesar di Indonesia.
Pulau Pabelokan inilah yang menjadi daratan penunjang para pegawai Pertamina dalam mengeksplorasi dan produksi migas yang tersebar dari 31 sumur ‘harta karun’ minyak dan gas.
Selain menjadi penunjang aktivitas eksplorasi kekayaan alam, pulau pribadi Pertamina ini juga menjadi penyuplai listrik bagi wilayah sekitarnya.
Berbagai infrastruktur dibangun bermodal komitmen proyek WK SES yang menelan dana sebesar 130 juta USD.
Patut dibanggakan, dari daratan mungil inilah negara mendapatkan pemasukan dari ‘harta karun’ alam Blok migas SES yang nilainya mencapai 13,3 miliar USD.
Seiring umur eksplorasi wilayah tersebut melewati 20 tahun lebih, tentu tingkat produksinya tidak lagi sederas zaman 200 ribu bph lagi.
Dharmawan H Samsu yang kala itu menjabat sebagai Direktur Hulu Pertamina blak-blakan mengenai aset di sekitar Kepulauan Seribu yang disebut kian menua.
Menurutnya, usia Blok SES yang sudah mencapai 50 tahun. SKK Migas pun membeberkan, rerata produksi migas di wilayah kerja ini 29.941 bph.
Namun bagaimana pun Dharmawan menilai blok ini tetap menjadi menyimpan potensi strategis bagi ketahanan energi nasional.
“WK SES memiliki nilai strategis dalam industri migas di Tanah Ar,” ucap Dharmawan, dikutip inNalar.com dari laman resmi Pulau Seribu Jakarta.***