

inNalar.com – Pembangunan infrastruktur sangatlah penting di era globalisasi ini, terutama dalam sektor kesehatan.
Salah satu infrastruktur yang sangat vital adalah rumah sakit, yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelayanan kesehatan tetapi juga sebagai pusat penelitian dan pengembangan ilmu kedokteran.
Namun, tidak semua proyek pembangunan di rumah sakit berjalan dengan lancar. Salah satu contohnya adalah proyek Pusat Pelayanan Jantung Terpadu di RSUD Ulin yang mengalami kendala keuangan.
Pusat Pelayanan Jantung Terpadu (PPJT) di RSUD Ulin adalah proyek ambisius yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dalam bidang kardiovaskular. Namun, proyek ini terhenti karena keterbatasan dana yang tersedia.
Keterbatasan dana menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan proyek di RSUD Ulin ini tidak dapat diselesaikan sesuai dengan rencana awal.
Untuk membangun pusat pelayanan jantung terpadu, diperlukan biaya yang tidak sedikit yakni sekitar Rp. 176 miliar.
Proses pembangunan di RSUD Kalimantan Selatan ini melibatkan pengadaan peralatan medis canggih, konstruksi gedung, serta pelatihan tenaga medis yang akan bekerja di pusat tersebut.
Semua komponen ini membutuhkan dana yang besar dan tidak bisa diabaikan begitu saja.
Sayangnya, dana yang dialokasikan untuk proyek Pusat Pelayanan Jantung Terpadu ini sangat terbatas.
Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti :
1. Kurangnya dukungan keuangan dari pemerintah
2. ketidaksiapan rumah sakit dalam menghadapi proyek yang besar
3. mungkin prioritas penggunaan dana yang berbeda juga gagalnya pihak RSUD Ulin mendapatkan Investor.
Akibatnya, proyek ini terpaksa terhenti dan tidak dapat diselesaikan sesuai dengan rencana. Mangkraknya proyek ini juga memberikan dampak yang dirasakan oleh masyarakat sekitar.
Pusat Pelayanan Jantung Terpadu di RSUD Ulin diharapkan dapat memberikan pelayanan kesehatan berkualitas, terutama dalam penanganan penyakit jantung.
Namun, dengan proyek yang terhenti, masyarakat tidak dapat memanfaatkan fasilitas tersebut padahal penanganan mendalam untuk penyakit jantung amat dibutuhkan agar psien dengan keluhan jantung bisa segera diberikan penanganan tanpa perlu dirujuk ke RSUD kota provinsi lain seperti Jakarta dan Surabaya.
Selain itu, mangkraknya proyek ini juga dapat berdampak negatif terhadap reputasi rumah sakit. Masyarakat akan melihat bahwa rumah sakit tersebut tidak mampu menyelesaikan proyek yang sudah direncanakan sebelumnya.
Ini dapat menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit tersebut.
Untuk mengatasi masalah ini, perlu ada upaya yang dilakukan oleh pihak terkait.
Pertama, pemerintah Kalimantan Selatan perlu memberikan prioritas yang lebih tinggi terhadap pembangunan infrastruktur kesehatan, terutama bagi proyek-proyek yang memiliki manfaat besar bagi masyarakat.
Dana yang dialokasikan untuk pembangunan RSUD Ulin perlu ditingkatkan sebagai upaya agar proyek-proyek tersebut dapat diselesaikan dengan baik dan sesuai dengan rencana.
Selain itu, rumah sakit Ulin juga perlu meningkatkan kemampuan mereka dalam mengelola proyek pembangunan.
Pihak rumah sakit harus memiliki tim yang kompeten dalam mengatur dan mengawasi jalannya proyek, termasuk pengelolaan dana yang ada.
Dengan pengelolaan yang baik, diharapkan proyek-proyek tersebut dapat diselesaikan dengan efisien dan menghasilkan hasil yang maksimal.
Dalam kesimpulannya, kendala keuangan yang mengakibatkan proyek Pusat Pelayanan Jantung Terpadu di RSUD Ulin terhenti.
Hal ini merupakan masalah serius yang perlu segera ditangani. Keterbatasan dana menjadi faktor utama yang menyebabkan proyek ini terpaksa mangkrak di tengah jalan.
Oleh karena itu, perlu ada upaya dari pemerintah dan rumah sakit untuk mengatasi masalah ini, baik dengan peningkatan alokasi dana maupun peningkatan kemampuan pengelolaan proyek.
Dengan demikian, diharapkan proyek-proyek pembangunan di rumah sakit dapat berjalan dengan baik dan memberikan manfaat yang maksimal bagi masyarakat sekitar.***