

inNalar.com – Kini proyek kolonisasi Mars semakin menarik perhatian berbagai negara dan perusahaan swasta di seluruh dunia.
Dengan ambisi untuk menjadikan planet Mars sebagai rumah kedua bagi umat manusia, banyak pihak berlomba-lomba untuk mencapai tujuan ini.
Konsep kolonisasi Mars sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru, ide ini telah ada sejak lama dalam fiksi ilmiah dan kini mulai menjadi kenyataan berkat kemajuan teknologi.
Planet ini dipilih karena memiliki kondisi yang lebih mendukung dibandingkan planet lain, selain Bumi di dalam tata surya kita.
Seperti adanya keberadaan air dalam bentuk es dan atmosfer yang memungkinkan untuk pengembangan skala koloni. Ditambah Jaraknya yang relatif dekat dengan Bumi, yaitu sekitar 225 juta kilometer.
Di tengah persaingan ini, SpaceX, perusahaan antariksa yang didirikan oleh Elon Musk, muncul sebagai pelopor dengan visi yang sangat ambisius.
Baca Juga: Telan Biaya Rp2,1 Triliun, Rumah Sakit Katastropik di Jawa Timur Ini Jadi yang Terbesar di Indonesia
Musk berencana untuk mengirimkan manusia ke planet merah untuk melakukan eksplorasi pada tahun 2026 dan membangun koloni permanen pada tahun 2050.
Dengan pengembangan roket Falcon Heavy dan Starship, Elon Musk berkomitmen untuk membuat perjalanan ke Mars lebih terjangkau dan dapat diakses.
Sementara itu, NASA, badan antariksa Amerika Serikat, juga memiliki rencana untuk misi ke planet merah pada akhir 2030-an.
Melalui program Artemis yang bertujuan kembali ke bulan, NASA berharap dapat menguji teknologi dan strategi yang diperlukan untuk eksplorasi Mars di masa depan.
Tentu saja pihak-pihak lain yang juga memiliki misi untuk melakukan proyek kolonisasi planet keempat di tata surya kita ini.
Dimulai dari Uni Emirat Arab yang erhasil mengirimkan misi Hope Probe ke orbit Mars pada Februari 2021. Misi utamanya, yaitu mempelajari atmosfer planet tersebut.
Lalu disusul oleh negara Asia seperti China dengan misi Tiawen-1, dan Bandan Antariksa India (ISRO) yang mulai menargetkan planet merah ini sebagai tujuan eksplorasi.
Selain itu sejumlah perusahaan swasta seperti Lockheed Martin, Boeing, dan Blue Origin juga terlibat dalam pengembangan teknologi untuk mendukung kolonisasi Mars.
Mereka berkolaborasi dengan negara-negara lain untuk menciptakan solusi inovatif bagi tantangan yang dihadapi dalam eksplorasi luar angkasa.
Di Indonesia sendiri, proyek VMARS menjadi bukti partisipasi aktif negara ini dalam eksplorasi luar angkasa.
Program ini bertujuan untuk mensimulasikan kehidupan di Mars melalui pelatihan dan penelitian tentang terraforming serta pertanian luar angkasa.
VMARS merupakan langkah awal bagi Indonesia untuk berkontribusi dalam upaya global menuju kolonisasi planet merah.
Namun, meskipun prospek dari proyek kolonisasi Mars sangat menggoda, ada banyak tantangan yang harus dihadapi untuk bisa menjalankannya.
Seperti atmosfer tipis yang didominasi oleh karbon dioksida dan suhu ekstrem dengan rata-rata mencapai -60 derajat Celsius.
Selain itu, paparan radiasi dari luar angkasa menambah risiko bagi para astronot yang berencana tinggal lama di planet tersebut.
Ketersediaan sumber daya juga menjadi perhatian utama dalam program ambisius yang menarik seluruh perhatian dunia ini.
Karena meskipun ada es di kutub planet merah tersebut, ekstraksi dan pemanfaatan air tersebut untuk kebutuhan sehari-hari masih memerlukan penelitian lebih lanjut.***