

inNalar.com – Lapangan migas Asap Kido Merah atau AKM di Papua Barat tercatat sebagai salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN).
Proyek migas ini digarap oleh perusahaan asal Malaysia bernama Genting Oil Kasuri Pte Ltd.
Kehadirannya bahkan tercatat mampu menghasilkan sebanyak 330 juta standar kaki kubik gas setiap harinya (MMSCFD).
Pada rencananya, perusahaan swasta tersebut akan berinvestasi sebesar 3,37 miliar dolar AS atau setara dengan Rp52,23 triliun dengan kurs Rp15.500.
Proyek pengembangan gas alam LNG ini sendiri akan mulai onstream di kuartal IV tahun 2025 mendatang.
Sekarang ini sendiri Genting Oil telah melakukan Head of Agreement atau HoA, Gas Sales Agreement atau GSA kepada PT Pupuk Kalimantan Timur yang juga melakukan update Front End Engineering Design (FEED).
Tujuannya adalah untuk suplai gas ke pabrik pupuk tersebut. Pabrik pupuknya pun sudah PSN.
Melansir dari laman Kementerian ESDM, lapangan gas Asap Kido Merah berada di Wilayah Kerja (WK) Kasuri, Papua.
Terlebih kapasitas produksinya pun sangat besar sehingga LNG dapat diproduksi dengan lebih banyak.
Baca Juga: Gandeng Kanada, Kalimantan Utara Bangun Bandara Hijau Pertama Senilai Rp3 Triliun, Digarap Kapan?
Dwi Soecipto selaku Kepala SKK Migas mengungkapkan alasan mengapa Asap Kido Merah tercatat sebagai PSN.
Hal ini karena adanya dua landasan yang mana AKM mempunyai kapasitas sangat besar.
Proyek tersebut bahkan mempunyai posisi yang sangat vital dalam mengembangkan daerah sekitarnya.
Baca Juga: Merugi Rp439 Miliar! Pembangunan Bendungan di Lampung yang Masuk PSN Malah Dikorupsi, Benarkah?
Dengan adanya keberadaan pembangunan proyek maka dapat diwujudkan Kawasan Industri Pupuk di Papua Barat.
Genting Oil Kasuri Pte Ltd sendiri adalah anak usaha dari Genting Oil and Gas Ltd. Merupakan sebuah perusahaan milik Lim Kok Thay.
Perusahaan ini juga tercatat sebagai bagian penting dari Genting Power Holdings Limited. Adapun lini bisnisnya di bidang energi konglomerasi Malaysia Genting Group.
Dengan adanya kerja sama ini maka tentu diharapkan sejumlah tahapan menuju produksi perdana gas alam cair atau LNG dapat segera terealisasi ke depannya.
Perusahaan asal Malaysia tersebut juga sudah lama memberikan kontribusi positif dalam kegiatan usaha ketenagalistrikan, minyak, dan gas.
Pada tahun 2020 lalu saat pandemi Covid-19 perusahaan ini bahkan masih tetap mendapatkan izin operasinya.
Tidak hanya di Indonesia, perusahaan asal Malaysia tersebut juga berpartisipasi dalam kontrak eksplorasi, pengembangan, dan prodksi minyak di China.
Tepatnya pada Blok Chengdaoxi di perairan Teluk Bohai dengan area seluas 29 kilometer persegi. ***