Populasi Merosot Imbas Perang, Putin Desak Perempuan Rusia Miliki Setidaknya 8 Anak

inNalar.com – Baru-baru ini beredar kabar Presiden Rusia Vladimir Putin desak perempuan Rusia untuk memiliki anak setidaknya 8 atau lebih.

Putin juga menghimbau agar budaya keluarga besar sebagai norma mulai saat ini.

Kabar putin mendesak perempuan Rusia untuk memiliki banyak anak diunggah melalui foto yang diunggah oleh akun Instagram @viralsekali.

Baca Juga: Pengungsi Rohingya Kembali Mendarat di Pidie Aceh, Jumlahnya Diperkirakan Capai 200 Jiwa!

Desakan Presiden Rusia tersebut agar perempuan di negaranya memiliki 8 anak atau lebih ditengarai anjloknya populasi atau angka kelahiran di Rusia.

Merosotnya populasi di Rusia merupakan dampak dari perang melawan Ukraina.

Hingga kini, jumlah penduduk Rusia yang tewas akibat peran melawan Ukraina mencapai lebih dari 300 ribu jiwa.

Baca Juga: Khusus Lulusan SMA, Gaji Petugas Imigrasi di Kemenkumham Ini Awalnya Cuma Rp2 Juta, Tapi 2024 Jadi…

Sementara itu, angka kelahiran di negara beruang merah tersebut terus merosot sejak tahun 1990 an.

Hal tersebut membuat negara ini mengalami krisis penduduk ditambah lagi korban jiwa imbas perang.

Dalam pidatonya di Moskow pada 28 November 2023 lalu, Putin mengatakan bahwa peningkatan populasi Rusia akan menjadi tujuan utamanya.

Baca Juga: Capai Rp4,2 Juta Per Bulan, Gaji PPPK Lulusan D3 Bakal Naik 8 Persen Tahun Depan

Putin juga menghimbau perempuan Rusia meneruskan tradisi keluarga Rusia terdahulu yang memiliki 7 dan 8 anak.

Bahkan, presiden Rusia tersebut menginginkan tradisi keluarga besar ini menjadi sebuah norma yang diikuti masyarakatnya.

Di sisi lain, perang antara negara beruang merah dengan Ukraina tersebut telah memasuki tahun kedua.

Hal ini memaksa Putin untuk memerintahkan wajib militer kepada sebagian penduduknya.

Putin memerintahkan wajib milier untuk memobilisasi warganya menjadi tentara cadangan.

Dampak perang ini juga sangat berdampak pada perekonomian negara dimana pertumbuhannya melambat.

Kondisi tersebut merupakan akibat dari kekurangan tenaga kerja yang parah di Moskow.***

 

Rekomendasi