

InNalar.com – Serangan Hamas kepada Israel 7 Oktober lalu merupakan respon terhadap penodaan Masjid Al-Aqsa.
Selain itu, aksi tersebut juga sebagai reaksi atas meningkatnya kekerasan Israel di wilayah pemukiman.
Serangan Hamas tersebut dilakukan pada dini hari, bertepatan dengan Hari raya Yahudi, yaitu Simchat Torah.
Baca Juga: Bikin Geger! Candi Peninggalan Majapahit di Sidoarjo Jawa Timur Ini Dikelilingi oleh Semburan Lumpur
Setidaknya pada serangan pertama, 250 warga Israel terbunuh dan beberapa wilayah berhasil dikuasai Hamas.
Sekitar pukul 06.30 (03:30 GMT) Hamas juga menembakkan rentetan roket ke Israel selatan.
Bahkan, Sirene terdengar hingga Tel Aviv dan Beerscheba. Ada ribuan roket dalam serangan awal tersebut.
Pada Sabtu malam, Israel membalas serangan tersebut dan menewaskan setidaknya 232 warga Palestina.
Perang terus berlanjut, hingga 9 Oktober 2023 lalu setidaknya menewaskan 830 orang dan 4.250 orang terluka.
Serangan Hamas kali ini merupakan serangan yang paling ambisius selama lebih dari satu generasi.
Perang Israel dan Hamas ini berpotensi terjadi dalam jangka waktu yang lama, jika belum menemukan titik temu.
Terlebih lagi, ada kemungkinan Hizbullah (kelompok militan Syiah Lebanon) ikut dalam perang tersebut.
Diketahui bahwa Hizbullah merupakan sekutu dari Hamas. Hizbullah memiliki perlengkapan perang yang jauh lebih banyak dari Hamas.
Seperti persenjataan puluhan ribu roket canggih dan tentara reguler yang berkekuatan sekitar 45.000 orang.
Dilansir dari Independent, pada Minggu pagi pasukan Hizbullah meluncurkan sejumlah rudal dan peluru ke Israel Utara sebagai balasan.
Balasan tersebut tidak terlepas dari serangan Israel ke Libanon yang menyebabkan 3 anggota Hizbullah meninggal. ***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi