Pertamina Punya Banyak Hutang Gegara Soeharto Lakukan Praktik ‘Koncoisme’: Pura-Pura Tak Tahu Sampai Akhirnya…

inNalar.com – Pada masa pemerintahan Soeharto, perusahaan besar Indonesia yakni PT Pertamina dikelola oleh Ibnu Sutowo.

PT Pertamina merupakan satu perusahaan besar di Indonesia yang didirikan pada tahun 1957, dan diharapkan mampu menopang ekonomi negara.

Warga Indonesia begitu membanggakan satu perusahaan pengolah sumber daya alam minyak, PT Pertamina ini.

Baca Juga: Sukses Tekan Angka Kemiskinan, Soeharto Berhasil Ubah Sulap Persentase dari 60 Menjadi 11,34

inNalar.com melansir dari buku berjudul Biografi daripada Soeharto karya A. Yogaswara, PT Pertamina mengalami kebangkrutan.

Ibnu Sutowo, pengelola perusahaan ini adalah kawan dekat sekaligus orang kepercayaan presiden sejak lama.

Status kedekatan ini membuat Soeharto begitu loyal kepadanya, atau disebut dengan istilah ‘koncoisme’.

Baca Juga: Mengenang Tragedi Petrus Era Soeharto, Masa Orde Baru yang Capai Korban Lebih dari 1000 Hingga Pelanggaran HAM

Ia membebas luaskan Ibnu Sutowo untuk mengelola perusahaan dengan cara dan gayanya sendiri, semaunya.

Kepercayaan ‘tak terbatas’ yang diberikan oleh Soeharto, membuat Ibnu Sutowo yang agresif melakukan pengelolaan yang dinilai sembrono.

Ia dinilai telah berlebihan melakukan ekspansi ke banyak bidang, yang kadang tak memiliki kaitan dengan minyak.

Baca Juga: Soeharto Ungkap Hal Penting yang Harus Dimiliki Presiden Sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Perang

Ia menginvestasikan pendapatan Pertamina ke hotel, rumah sakit, PT Krakatau Steel, bahkan restoran di kota New York.

Anehnya, perbuatan Ibnu Sutowo seolah tak tersentuh sama sekali, tak terkecuali oleh perhatian Soeharto, presiden kala itu.

Publik beropini, presiden kala itu seolah memberikan jaminan kepada pengelola Pertamina, tak mempermasalahkan gerakannya sama sekali.

Para teknokrat yang angkat bicara mengenai hal ini dianggap Ibnu Sutowo sebagai orang yang kolot dan teoritis.

Ia semakin sombong dan menganggap dirinya sebagai sosok entrepreneur sukses karena jasanya membesarkan Pertamina.

Tapi memang, pendapatan perusahaan minyak tersebut meningkat pesat. Dalam waktu empat tahun, mendapatkan 800 miliar lebih bukanlah hal yang sulit.

Baca Juga: Kupas Tuntas! Ternyata Soeharto Tidak Pernah Berpikir untuk Jadi Presiden: Ditunjuk Oleh 9 Partai?

Tahun 1969/1970, Pertamina menghasilkan pendapatan Rp 66,5 miliar. Empat tahun setelahnya, yakni 1974/1975, jumlah yang didapat sudah menembus Rp 957,2 miliar.

Besar kepala Ibnu Sutowo, penghasilan itu mengubah gaya hidupnya bak selebriti. Istananya yang mewah berhasil mengundang sorotan para mahasiswa.

Bersamaan dengan hal itu, kepercayaan Soeharto kepada Ibnu Sutowo justru semakin bertambah setiap harinya.

Bagaimana tidak, perusahaan minyak yang dibanggakan dan digembar-gemborkan rakyat benar-benar sesuai dengan yang diharapkan.

Soeharto belum menyadari dampak dari sikap ‘koncoisme’ dirinya. Ketidakpedulian yang diartikan sebagai kepercayaan menimbulkan kuasa yang tak terkontrol.

Tahun 1972, benar juga. Pertamina mulai semaunya sendiri dan meminta pengurangan pembayaran pajak ke pemerintah.

Tahun 1974, perusahaan minyak tersebut ngelunjak, dengan semena-mena menghentikan penyetoran pajak ke pemerintah.

Ibnu Sutowo telah terbuai. Ia lupa bahwa segala pendapatan besar Pertamina tidak lepas dari pinjaman uang yang suatu saat harus dibayarkan.

Sikap diam dari Soeharto disorot rakyat, mereka menyampaikan isi hati mereka dengan aksi protes yang dilakukan di mana-mana.

Baca Juga: Tidak Perlu Lambang Pangkat Bintang, Soeharto Hanya Perlu Hal Ini untuk Pimpin Angkatan Perang

Terkuak fakta bahwa Pertamina memiliki hutang yang tidak bisa ditanggung oleh operasionalnya, yakni 10,5 miliar dolar.

Setelah terungkap, barulah Soeharto kebingungan dan kelimpungan. Ia baru sadar, sebesar itu dampak praktik ‘koncoisme’ dirinya.

Parahnya, kasus korupsi dalam lingkup Pertamina juga terbongkar kala itu. Soeharto, dengan terlambat, memberhentikan Ibnu Sutowo sebagai direktur utama.

Apakah praktik ‘koncoisme’ berhenti di situ? Tidak. Ibnu Sutowo dengan segala fakta kesalahannya, tidak pernah diajukan ke pengadilan.

Ia menikmati masa pensiunnya sebagai orang kaya. Soeharto menyebut ini sebagai sebuah pelajaran besar.

Namun nyatanya, praktik ‘koncoisme’ masih saja ia lakukan hingga tahun-tahun berikutnya.***

 

Rekomendasi