
inNalar.com – Meskipun memiliki keterbatasan penglihatan, tidak membuat santri tunanetra di pesantren di Banten ini kehilangan semangat belajar untuk membaca Al-Qur’an.
Al-Qur’an merupakan pedoman kehidupan yang wajib dipahami dan diamalkan oleh umat islam, termasuk tunanetra. Namun, anak-anak yang terlahir tunanetra masih kesulitan untuk bisa belajar dan membaca Al-Qur’an. Terlebih di Indonesia, karena masih terbatas tenaga pendidik yang bisa mengajari anak-anak tunanetra membaca.
Atas hal tersebut, dibangunlah Pondok Pesantren Raudlatul Makfufin atau yang dikenal juga sebagai taman tunanetra. Ponpes ini terletak di Kelurahan Buaran, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan, Banten.
Pesantren ini menjadi wadah bagi tunanetra muslim yang ingin menimba ilmu agama islam dan belajar membaca Al-Qur’an.
Dikutip dari pengurus Pondok Pesantren Raudlatul Makfufin atau Taman Tunanetra, Rafik Akbar menyebutkan bahwa pesantren ini didirikan para 26 November 1983.
Rafik Akbar menyebutkan bahwa senior dan pendiri yayasan atau pesantren pada waktu itu menemukan bahwa masih banyak kawan tunanetra yang belum bisa membaca Al-Qur’an. Apalagi terdapat Al-Qur’an dengan huruf braille, bahkan untuk memilikinya juga susah.
Baca Juga: Dijuluki Sekolah Lego, Sekolahan di Lombok Barat Dibangun Menggunakan Daur Ulang Sampah Plastik
Oleh karena itu, diperlukan lembaga pendidikan khusus untuk menaungi muslim tunanetra untuk menyediakan akses belajar dan membaca.
Atas dasar itu, tercetuslah Yayasan Pondok Pesantren Raudlatul Makfufin Banten sebagai wadah untuk menaungi gerakan tersebut agar bisa lebih terarah dan masif.
Pendiri dari Pondok Pesantren di Banten ini, Almarhum Raden Halim Saleh berkeliling untuk mencari para tunanetra agar bisa mengaji Al-Qur’an.
Sebagai tempat pendidikan agama bagi para tunanetra, maka buku-buku yang digunakan untuk pembelajaran juga menggunakan abjad braille, termasuk pada Al-Qur’an.
Pada saat itu, ketersediaan Al-Qur’an dengan huruf braille masih sangat terbatas sehingga para jamaah harus bergantian saat mengaji. Bahan Al-Qur’an braille yang digunakan pada saat itu juga masih menggunakan bahan plastik.
Pada awalnya, yayasan tersebut memang memproduksi Al-Qur’an dan buku-buku islami dengan huruf braille. Seiring dengan berjalannya Waktu, ternyata masih banyak tunanetra yang belum memiliki Al-Qur’an braille di Indonesia.
Adapun penggunaan huruf braille pada Al-Qur’an ini berbeda dengan yang umumnya digunakan pada buku-buku tulisan latin.
Terdapat simbol khusus yang digunakan sebagai penanda huruf-huruf hijaiyah di Al-Qur’an sesuai dengan kesepakatan para ulama.
Baca Juga: Berjuluk Kampung Madinah, Ini Keunikan Pondok Pesantren Al Fatah Temboro Magetan
Namun, meskipun sudah memiliki Al-Qur’an huruf braille tidak menjamin para tunanetra bisa membacanya dikarenakan masih minimnya tenaga pengajar di Indonesia.
Oleh karena itu, yayasan Pondok Pesantren Raudlatul Makfufin membuat program literasi dan wakaf Al-Qur’an. Ditambah lagi dengan pengajaran membaca Al-Qur’an braille ke daerah-daerah.
Jadi, itulah informasi mengenai yayasan atau Pondok Pesantren Tunanetra Raudlatul Makfufin. ***