

inNalar.com – Berdiri sejak tahun 1912, perusahaan rokok di Jawa timur ini tentu tak asing bagi penikmatnya di tanah air.
Namanya sudah mentereng jauh sebelum Indonesia merdeka dan menjadi pemimpin pasar rokok nasional.
Namun, secara mengejutkan pabrik rokok ini ternyata telah resmi diakuisisi oleh perusahaan asing bernama Philip Morris International (PMI) pada tahun 2005.
Baca Juga: Pecat 1.500 Karyawan, Pabrik Ban Terbesar di Cikarang Resmi Bangkrut Setelah Ditinggal Konsumen
Ialah PT Hanjaya Mandala Sampoerna atau lebih dikenal dengan HM Sampoerna yang berlokasi di Surabaya Jawa Timur.
Pabrik rokok ini didirikan oleh Liem Seeng Tee yang merupakan pendatang berkebangsaan China bersama istrinya Siem Tjianng Nio pada tahun 1912.
Satu tahun berlalu, mereka mencatatkan usaha dagangnya dalam perusahaan bernama Handel Maatschappij Liem Seeng Tee dan mengeluarkan merek rokok Dji Sam Soe.
Baca Juga: Berdiri Sejak 1994, Pabrik Sepatu Raksasa di Jawa Barat Ini Chaos Gegara Terlilit Utang Miliaran
Meski mengalami pasang surut perusahaan, pabrik rokok legendaris ini berhasil bertahan hingga pada 1930 melakukan pergantian nama menjadi Handel Maatschappij Sampoerna.
Penamaan ini mengandung harapan Liem untuk menciptakan produk-produk rokok yang terbaik di seluruh negeri.
Semenjak berganti nama dan berpindah ke pabrik yang lebih besar, HM Sampoerna mampu meningkatkan jumlah produksinya dan banyak menyerapa tenaga kerja.
Baca Juga: Bandung Kalah! Ini 5 Kabupaten Terpintar di Jawa Barat: Warganya Terkenal Cerdas
Namun, naas tak bisa dihindari saat Jepang menduduki Surabaya pada tahun 1942 yang menangkap Liem dan memaksa perusahaannya untuk memproduksi rokok gratis untuk Jepang dengan merek Fuji.
Selama pendudukan Jepang, Liem dibawa ke Jawa Barat untuk kerja paksa sehingga tidak bisa mengurus HM Sampoerna sama sekali.
Setelah penjajahan Jepang Berakhir, Liem membangun kembali bisnisnya dengan memasarkan merek andalannya, Dji Sam Soe.
Baca Juga: Jawa Timur Sentra Produksi Kentang Terbesar di Indonesia, Yuk Coba Resep Khasnya!
Baru beberapa tahun pulih, tepatnya pada 1956 perusahaan ini terpaksa gulung tikar karena ekonomi perusahaan yang kian buruk pasca terjadi konflik internal.
Tak tinggal diam, putra Liem, Aga Sampoerna mengambil alih perusahaan ayahnya dan memimpin dengan manajemen baru yang sebelumnya juga sudah memiliki pabrik rokok sendiri.
Dibawah kepemimpinannya, Aga membangkitkan kembali HM Sampoerna dengan produk andalannya Dji Sam Soe yang berhasil memiliki 7.000 karyawan yang tersebar di pabrik Bali, Malang, dan Surabaya.
Baca Juga: Gagal Wajib Belajar 12 Tahun: Krisis Pendidikan Menghantui 5 Provinsi di Indonesia, Papua Terparah
Pada 1977, Aga mempersiapkan penerusnya, Putera Sampoerna untuk mengambil alih perusahaan dan melakukan modernisasai pada produksi rokoknya.
Duet ayah dan anak ini mampu menjadikan nama HM Sampoerna semakin besar sehingga mampu melahirkan banyak anak perusahaan seperti Alfamart dan Sampoerna Bank.
Tak hanya itu, modernisasi yang terus dilakukan mengikuti perkembangan jaman juga menjadikan perusahaan ini berhasil melakukan ekspor ke Malaysia, Myanmar, Vietnam, Filipina, dan Brazil.
Namun, pada tahun 2005 publik dibuat terkejut dengan adanya kabar bahwa HM Sampoerna resmi diakuisisi oleh Philip Morris International (PMI) dengan transaksi diperkirakan mencapai US$ 5,2 miliar.
Dari hasil akuisisi ini Putera mendapat dana Rp18,5 triliun yang dijadikannya modal untuk bisnis lain yaitu agroindustri dibawah Sampoerna Srategic Group.***