Pernah Jadi Pegawai Bank, Ini Alasan Soeharto Keluar dari Pekerjaannya dan Kembali Menganggur di Usia Muda

inNalar.com – Sosok Soeharto ternyata pernah merasakan menjadi pegawai di sebuah bank hingga pengangguran.

Kehidupan mudanya yang memang di kelilingi oleh kesulitan, memaksa Soeharto untuk mencari berbagai macam pekerjaan, salah satunya menjadi pegawai bank.

Dilansir dari buku Biografi Tentang Soeharto Karya A.Yogaswara, dijelaskan bahwa hal itu terjadi pada tahun 1939.

Baca Juga: Peran Penting Soeharto Mengundang Berbagai Pujian, Ini Dampak Serangan Umum 1 Maret 1949 Bagi Warga Indonesia

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di Wuryantoro selama lima tahun, ia kemudian melanjutkan ke Wonogiri.

Guna melanjutkan pendidikan sekolah menengah, Soeharto kala itu tinggal bersama Hardjowijono, teman ayahnya yang merupakan pensiunan pegawai kereta api.

Hal yang paling berkesan baginya saat itu, adalah bertemu dengan pemuka agama bernama Kiai Darjatmo, yang kemudian mengajarkan banyak ilmu agama dan kebatinan.

Baca Juga: Harta Anjlok 50 Persen Setelah Menjabat, Dokter Aziz, Walikota Magelang Ini Dulu Total Kekayaannya Mencapai…

Tak hanya itu, Kiai Darjatmo juga merupakan orang yang bisa mengobati berbagai macam penyakit. Soeharto pun sangat senang ketika membuat resep obat dari daun dan akar-akaran untuk pasien.

Namun kegembiraan tidak berlangsung lama, peraturan sekolah waktu itu mengharuskannya mengenakan celana dan sepatu.

Namun karena kemiskinan keluarga Soeharto, maka syarat tersebut tidak dapat dipenuhi, hingga akhirnya mengharuskan pindah ke sekolah Menengah Muhammadiyah di Jogja.

Baca Juga: Habiskan Puluhan Miliar, 7 Proyek di Sumatera Utara Diduga Mangkrak Bahkan Fiktif? Belum Dipakai Sudah Rusak!

Di Yogyakarta, ia baru pertama kali melihat adanya protes terhadap penjajahan Belanda. Namun semuanya tidak menarik baginya kala itu.

Setelah lulus di tahun 1939, Soeharto dituntut untuk mencari nafkah untuk dirinya sendiri.

Bagi Soeharto mencari pekerjaan merupakan hal yang berat saat itu jika tanpa bantuan orang dalam, atau yang memiliki kedudukan dan pengaruh tinggi.

Setelah sekian lama tidak juga mendapat pekerjaan, ia pun kembali ke Wuryantoro berharap mendapat koneksi untuk bekerja.

Hingga akhirnya Soeharto diterima bekerja di sebuah bank desa, sebagai pembantu klerek yang kerjanya tiap hari mengayuh sepeda keliling kampung.

Bertemu dengan para petani, pedagang kecil, ataupun pemilik warung kecil yang ingin mengajukan pinjaman.

Dalam melaksanakan pekerjaan, Soeharto di haruskan untuk mengenakan pakaian adat Jawa lengkap, seperti blangkon dan kain.

Namun suatu waktu, Soeharto meminjam kain bibinya untuk dipakai bekerja, dan tidak sengaja membuat kain tersebut sobek karena tersangkut sadel sepeda.

Hal ini membuat bibinya marah atas kecerobohannya, hingga berefek besar pada pekerjaan Soeharto.

Soeharto bercerita kala itu, dalam hatinya berbicara, bahwa itu bukanlah kesalahannya, melainkan jalan hidupnya saja yang membuatnya seperti itu.

Tanpa menyesali kejadian tersebut, Soeharto pun berhenti dari pekerjaan yang memang tidak begitu disukai itu. Hingga kembali menganggur di usia yang masih muda.

Inilah cerita Soeharto yang sempat bekerja di bank, serta alasannya kembali menganggur di usia muda.***

 

Rekomendasi
REKOMENDASI UNTUK ANDA [Tutup]