

inNalar.com – Tahun ini, Isra Miraj 2022 atau 1443 H akan jatuh pada tanggal 28 Februari 2022. Isra Miraj merupakan perjalanan besar Rasulullah dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina, hingga naik ke Sidratul Muntaha.
Namun, tahukah kamu bahwa sebelum datangnya peristiwa Isra Miraj tersebut, Rasulullah SAW mengalami waktu yang amat berat? Bahkan periode tersebut sering dikisahkan di dalam sejarah sebagai tahun kesedihan.
Pada tahun tersebut, Rasulullah SAW kehilangan orang-orang yang teramat penting baginya hanya dalam selang waktu yang singkat.
Orang tersebut ialah Siti Khadijah yang merupakan istrinya dan Abu Thalib yang merupakan pamannya.
Baca Juga: Saat Isra Miraj, Benarkah Rasulullah SAW Berubah Jadi Cahaya? Simak Penjelasan Buya Yahya Berikut
Padahal saat itu merupakan periode dakwah Rasulullah yang berat di Kota Mekah. Namun seberat apapun tekanan yang beliau rasakan saat berdakwah, seketika terasa ringan tatkala istri tercinta senantiasa menghiburnya dan pamannya pun di sisinya.
Keduanya merupakan tokoh yang terpandang di suku Quraisy, sehingga perlindungan yang diberikan keduanya teramat besar bagi Rasulullah.
Maka saat mereka telah tiada, dakwah Rasulullah semakin terasa berat. Selain kesedihan mendalam kehilangan orang-orang tercinta, tekanan yang datang pun semakin bertubi-tubi, mulai dari celaan dan hinaan hingga teror yang mengancam jiwa.
Betapa dalamnya kehilangan Rasulullah saat itu sehingga Allah menghibur beliau melalui peristiwa besar Isra Miraj. Melalui peristiwa Isra Miraj ini pula Rasulullah berkesempatan berdialog langsung bersama sang pencipta, Allah SWT. Dari sini dapat disadari bahwa manusia dapat pergi, sedangkan Tuhan selalu abadi.
Meski menyadari bahwa kematian adalah hal pasti yang tidak dapat dihindari. Namun, kehilangan orang terkasih seringkali meninggalkan duka yang mendalam (grief).
Perasaan duka tersebut bersifat personal dan tiap orang melalui proses kehilangan tersebut secara berbeda. Melansir dari helpguide.org, kesedihan atau perasaan berduka (grief) merupakan respon alami yang dirasakan saat mengalami kehilangan sesuatu atau seseorang yang dicintai.
Meski perasaan duka ini sering diasosiasikan dengan kematian orang yang dicintai, tetapi kehilangan apapun dapat menyebabkan duka, seperti kehilangan kesehatan, persahabatan, pekerjaan, hewan peliharaan, keguguran, perceraian, masa pensiun, dan lain-lain.
Jika dianalogikan, beratnya tahun yang dialami Rasulullah, sedikit banyak mungkin seperti saat pandemi ini muncul yang menyebabkan kita kehilangan dan mengalami perpisahan dalam waktu singkat. Entah itu kehilangan pekerjaan, interaksi bersama teman atau keluarga, hingga kematian orang terdekat.
Saat kehilangan, kita mungkin mengalami beragam emosi dan rasa sakit tidak terduga, seperti terkejut, marah, tidak percaya, rasa bersalah, hingga kesedihan mendalam. Semakin signifikan kehilangan tersebut, maka semakin intens kesedihan yang dirasakan.
Mengatasi rasa kehilangan tersebut pun adalah tantangan besar dalam hidup. Meskipun terasa sakit, namun kehidupan terus berjalan dan kita pun akan dapat mengatasinya.
Ada kutipan menarik yang dilansir dari helpguide.org, bahwa, “move on berarti anda telah menerima kehilangan anda, namun tidak berarti anda melupakannya. Anda tetap dapat melanjutkan hidup dan terus menyimpan ingatan seseorang atau sesuatu yang hilang sebagai bagian penting dari diri anda.
Faktanya, saat kita menjalani hidup, ingatan tersebut akan semakin utuh untuk mendefinisikan siapa kita sebenarnya.”
Seiring berjalannya waktu, kehilangan tersebut justru akan menjadikan kita sosok yang semakin matang, utuh, dan dewasa. Selain itu, kehilangan pun menyadarkan kita bahwa tidak ada yang kekal selain Allah SWT. Sehingga Allah SWT adalah sebaik-baik tempat bersandar untuk kita.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi