Peringati Nyepi, Ketahui Sejarah Berdirinya Kerajaan Bali sebagai Rumah Terbesar bagi Umat Hindu Indonesia

inNalar.com – Perayaan Nyepi erat kaitannya dengan umat pemelik Hindu. Di Indonesia sendiri, Hindu sebagai agama dan budaya tidak bisa dilepaskan dari pulau Bali.

Kata wali atau bali dalam bahasa Sanskerta berarti korban. Keberadaan kerajaan Bali dalam berita bangsa asing pertama kali tersiar dari orang Cina. Di dalam kitab sejarah dinasti T’ang kuno, Bali disebut sebagai Dva-pa-tan.

Dva-pa-tan merupakan negeri yang terletak di sebelah selatan Kamboja, sebelah timur kerajaan Ho-ling dan sebelah barat dari Mi-lich’e.

Dalam kitab Chu-fa-chih, Bali disebut dengan nama Ma-li atau Pa-li. Sedangkan berita tertua yang berasal dari pula Bali sendiri adalah bulatan kecil (cap) dari tanah liat yang berdiameter sekitar 2,5 cm.

Baca Juga: Kalender Saka Caitradi dan Lontar Sundarigama, Dua Acuan Umat Hindu Melakukan Nyepi

Cap tersebut berisi mantra agama Budha dalam bahasa sanskerta. Berdasarkan keterangan dari beberapa prasasti batu, sejak abad VIII M di pulau Bali terlah berdiri sebuah kerajaan yang pemerintahannya berpusat di Singhamandawa.

Siapa raja yang memerintah tidak diketahui secara pasti, kecuali beberapa orang pejabat tinggi pemerintahan yang disebut dengan senapati danda, manuratang ajna, nayakan makarun, ser panghurwan dan lainnya.

Tak hanya itu, dimana letak Singhamandawa sampai saat ini tidak dapat dipastikan, hanya ada kemungkinan-kemungkinan yang mengatakan bahwa Singhamandawa terletak diantara Danau Batur, Kintamani dan Pantai Sanur, Belanjong.

Baca Juga: Menyelami Makna Hari Raya Nyepi, Ternyata Perayaannya Sudah Ada Sejak Tahun 78 Masehi

Menurut keterangan dari tiga buah prasasti batu berbentuk pilar atau yang dipahat dengan tulisan melingkar, sejak tahun 85 Saka terdapat nama Wangsa Warmmadewa yang memerintah di Bali.

Dengan Sri Kesariwarmmadewa sebagai rajanya. Setelah Sri Kesariwarnnadewa, Sang Ratu Sri Ugrasena naik tahta, masa pemerintahannya sezaman dengan masa pemerintahan Pu Sindok di Jawa Timur.

Pasca pemerintahan raja Ugrasena berakhir, muncul lagi raja-raja yang bergelar Warmmadewa, yaitu Sang Ratu Aji Tabanendra Warmmadewa, Janasadhu Warmmadewa dan Dharmma Udayana Warmmadewa.

Udayana memerintah di Bali bersama permaisurinya hingga tahun 923 Saka, dari perkawinan Udayana dengan Gunapriya lahirlah Airlangga.

Baca Juga: Rencana Menikah dan Umrah Bersama Gagal, Dinar Candy Umumkan Putus dengan Ridho Ilahi

Setelah Udayana, kerajaan Bali diperintah oleh Marakatapangkaja, kemudian Anak Wungsu. Di antara raja Bali kuno, Anak Wungsu merupakan raja yang paling aktif mencatat peristiwa penting pada zamannya.

Pemerintahan atau mahkamah (panglapuan) di Bali diduga merupakan pemerintahan yang maju dan teratur. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan sistem pemerintahan yang menerapkan beberapa jabatan.

Kerajaan Bali juga memiliki armada laut, berbagai jenis  perahu sudah dikenal pada masa itu, seperti : parahu, lancang, jukung, talaka, jong dan bahitra.

Terdapat juga berbagai kesenian atau pertunjukan dalam masyarakat, seniman digolongkan menjadi pamukul (pemukul gamelan), pagending (penyanyi), pabunjing (pemukul bunjing), parbhangsi (peniup serulinh)  partapukan (pemain topeng) dan parbawayang (pemain wayang).

Baca Juga: Stop Rebahan Sekarang Juga! Ada Lowongan Kerja BUMN Bidang Telekomunikasi Menanti Anda sampai 10 Maret 2022

Masyarakat Hindu di Bali dalam konteks sosial budaya terbagi menjadi empat strata yang dikenal dengan catur wangsa yaitu wangsa Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Sudra (Jaba).

Tiga strata yang menduduki tingkat tertinggi disebut dengan golongan Tri Wangsa, dan yang berada di luar itu termasuk golongan wangsa jaba.

Perlu diperhatikan, pada masyarakat Bali tidak mengenal pengelompokan berdasarkan kasta seperti yang diterapkan masyarakat Hindu di India.

Baca Juga: Sekilas tentang Sosok Vampir Morbius, Antihero di Film Terbaru Marvel yang Rilis April 2022

Dalam sistem wanga tidak terdapat pembagian lapisan masyarakat ke dalam tingkat-tingkat dengan fungsi khusus, juga tidak terdapat gagasan penting mengenai timbulnya pengotoran upacara karena persentuhan kelompok rendah dengaan kelompok yang lebih tinggi.

Masyarakat Hindu di Bali menunjukkan adanya perbedaan, wangsa bersifat lebih fleksibel dalam pergaulan di masyarakat. Misalnya interaksi wangsa dengan wangsa lainnya seperti dalam acara makan bersama, menggarap perlengkapan upacara bersama merupakan suatu hal yang lumrah terjadi.***

Rekomendasi
REKOMENDASI UNTUK ANDA [Tutup]