Peran ‘Krusial’ Soeharto Saat Penyerbuan Kotabaru 7 Oktober 1945, Hingga Menjadi Sebuah ‘Titik Balik’

inNalar.com – Sebelum menjadi presiden, telah banyak peran yang dimainkan oleh Soeharto.

Berbagai kegiatan militer, hingga menjadi Panglima daerah sudah dirasakan oleh Soeharto.

Disebutkan dalam buku biografi tentang Soeharto, ternyata beliau juga memiliki peran saat penyerbuan Kotabaru 7 Oktober 1945.

Baca Juga: Super Semar, Kejadian 11 Maret Dibubarkannya PKI oleh Soeharto, Hingga Awal Lengsernya Soekarno, Kok Bisa?

Masa ini juga menjadi titik balik baginya untuk menaiki tangga tangga berikutnya.

Saat peristiwa penyerbuan Kotabaru tanggal 7 Oktober 1945, beliau masuk dalam pasukan BKR.

Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada saat itu dipimpin oleh Umar Slamet, dan beliau menjadi wakilnya.

Baca Juga: Mengejutkan! Slametan Pernikahan Soeharto dengan Ibu Tien Hanya Diterangi Lilin, Takut Dibom Belanda?

Semakin hari, banyak pihak yang ikut bergabung dalam BKR. Dibawah kepemimpinan Umar dan Soeharto, semangat juang terus meningkat dalam pasukan itu.

Namun yang menjadi masalah utama adalah kurangnya persenjataan yang memadai, hingga akhirnya memutuskan untuk merebut senjata Jepang yang ditemui.

Pada awalnya, kompi Soeharto melucuti tentara-tentara Jepang di luar asrama, dengan kebutuhan senjata yang belum mencukupi kebutuhan.

Baca Juga: Langgeng Selama 32 Tahun, Bagaimana Cara Soeharto Jadi Presiden Paling Lama di Sejarah Kepemimpinan Indonesia?

Dalam buku Roeder, The Smiling General, dikatakan bahwa beberapa pasukan mengusulkan kepada Soeharto untuk BKR menyerbu tentara Jepang.

Hal ini bertujuan untuk mengambil senjata Jepang secara paksa, namun usulan ditolak oleh Umar Slamet dan tokoh BKR lainnya.

Karena pasukan BKR dianggap belum cukup kuat untuk melakukan penyerbuan langsung pada peristiwa 7 Oktober 1945 itu.

Soeharto akhirnya menunggu waktu yang tepat untuk melakukan pergerakan, hingga kesempatan itu tiba.

Umar Slamet yang harus pergi menyelesaikan urusan di Madiun, menjadi waktu yang tepat bagi Soeharto bergerak.

Sebagai wakil komandan, Soeharto langsung berinisiatif memimpin sebagian BKR yang berubah nama menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada tanggal 5 Oktober 1945.

Ditambah dengan para pemuda dan rakyat untuk menyerbu asrama Jepang pada peristiwa penyerbuan Kotabaru tanggal 7 Oktober 1945 itu.

Sebenarnya, yang memicu semangat Soeharto pada waktu itu adalah karena melihat semangat juang pasukannya.

Pada awal 7 Oktober 1945, tepatnya 2 hari setelah pengangkatan, Soeharto pun telah berinisiatif untuk merebut persenjataan Jepang di Kotabaru.

Tentara Jepang yang tidak menyangka akan diserang itu pun menyerah, sehingga ratusan senapan mesin dan senjata lainnya berhasil dirampas.

Roeder mencatat, penyerbuan ini merupakan sebuah tindakan yang beresiko untuk pasukan BKR dan Soeharto sendiri.

Jika penyerbuan ini gagal, maka karir militer Soeharto akan berhenti. Namun ternyata kemenangan ada di pihaknya.

Perhitungan Soeharto kala itu terbukti cemerlang, meski usianya saat itu masih 24 tahun.

Menunjukkan sebuah keterampilan dalam sebuah keputusan politis yang memiliki arti dan peran tinggi bagi karir militernya.

Inilah peran penting Soeharto pada peristiwa penyerbuan Kotabaru oleh tentara Jepang.

Tepatnya tanggal 7 Oktober 1945, sehingga menjadi titik balik karier Soeharto ke tempat yang lebih tinggi.***

 

Rekomendasi