Pengoperasaian Smelter di Sulawesi Selatan Ini Habiskan Dana Anggaran Rp 40,45 Triliun, Berada di Kabupaten…

inNalar.com – Pembangunan pabrik yang berfungsi sebagai pengelolahan biji nikel murni di Sulawesi Selatan ini habiskan dana hingga mencapai US$ 2,69 miliar. 

Dana yang sangat fantastis tersebut digunakan untuk pembangunan smelter di Provinsi Sulawesi Selatan yang berfungsi sebagai pendorong perekonomian yang ada di Indonesia.

Bahkan daerah Sulawesi Selatan adalah salah satu pemasok nikel terbesar di Indonesia yang terletak di Kabupaten Lawu.

Baca Juga: Peras Dana hingga Rp258,3 Triliun, PLTA di Kalimantan Utara Diramalkan Mampu Hasilkan Listrik 9.000 Megawatt

Kabupaten Law terkenal dengan pertambangan nikel yang yang mampu menghasilkan puluhan ton setiap tahunnya.

Anggaran yang dikeluarkan untuk melakukan pembangunan hingga gelontorkan dana Rp 40,43 triliun dan hampir mencapai nilai Rp 40,45 triliun tersebut digunakan untuk membangun tiga smelter. 

Pembangunan tiga smelter di Sulawesi Selatan yaitu meliputi BMS yang berada di Kabupaten Luwu, BMR juga berada di Kabupaten Luwu, serta PT Vale yang berada di Kabupaten Luwu Timur. 

Baca Juga: Lahap Dana Rp 3 Triliun, Pulau Reklamasi 810 Hektar di Bali Ini Malah Batal Digarap, Kok Bisa?

Kabupaten Luwu di Sulawesi Selatan memang terkenal sebagai pertambangan nikel terbesar yang ada di Indonesia.

Hingga mampu mendongkrak pertumbuhan perekonomian yang ada di Indonesia, sehingga mampu menarik banyak investor. 

Untuk melakukan kerjasama dan melakukan pembangunan di wilayah Sulawesi Selatan, saat ini pembangunan dilakukan oleh anak perusahaan Kalla Group.

Baca Juga: Inilah Satu-satunya Rumah Sakit Terbaik di Kalimantan Barat, Berjarak 3,2 Km dari Universitas Tanjungpura

Pengoperasianya akan dilakukan pada akhir bulan tahun 2023, anak perusahaan Klala Group tersebut emmabngun smleter di Kmapung Karang-Karang yang terletak di Kabupaten Luwu. 

Infrastruktur yang mendukung seperti PLTA juga sangat dibutuhkan sebagai pemasok listrik di wilayah smelter Sulawesi Selatan.

Akses pelabhan efektif juga dapat emmabnatu pengoperasial smelter di Sulawesi Selatan agar lebih efektif.

Pabrik nikel atau smelter pertama akan diresmikan pada tahun 2023 sedangkan untuk pengoperasian smelter kedua akan dilakukan pada pertengahan tahun 2024.

BMS juga berencana akan melakukan penambahan pabrik nikel pada tahap kedua yang akan dilakukan pada tahun 2024 setelah smelter kedua dari tahap pertama rampung.

PT Bms akan mengelola bijih nikel menjadi suatu produk MHP dengan kapasitas hingga 60.000 ton setiap tahunnya.***

Rekomendasi