

inNalar.com – Candi Borobudur dikenal oleh dunia sebagai peninggalan bersejarah yang memiliki arsitektur luar biasa.
Siapa sangka, ternyata candi megah ini memiliki ‘kembaran’ yang berlokasi cukup jauh dari tempat aslinya, yaitu di Kabupaten Lebak, Banten.
Klaim tersebut digagas oleh Profesor Takashi Sakai yang berasal dari Universitas Sophia Jepang setelah melihat arsitektur dan cara pembuatannya.
Baca Juga: 5 Hewan Langka yang Dilindungi di Taman Nasional Ujung Kulon, Apakah Badak Jawa Termasuk Juga?
Dilansir inNalar.com dari laman resmi Kemdikbud, nama peninggalan tersebut adalah Situs Lebak Cibedug.
Berdiri di atas lahan 40.400 meter persegi, tentunya memiliki luas yang lebih besar dari Candi Borobudur yang hanya memiliki luas 2.500 meter persegi.
Diketahui, kompleks candi yang berundak ini diperkirakan dibangun pada 1500 hingga 2500 tahun sebelum masehi, jauh sebelum pembangunan Candi Borobudur.
Berbeda dengan kembarannya, lokasi Cibedug ternyata masih tersembunyi di mana memerlukan waktu tempuh 3 jam dari Rangkasbitung.
Pengunjung juga perlu melakukan treking dari Desa Citorek dengan jarak yang cukup jauh, yaitu 12 kilometer.
Situs ini pun juga terlihat tidak terawat, karena telah tertimbun tanah dan juga ditumbuhi oleh lumut yang cukup banyak.
Pola bangunan punden Lebak Cibedug berdenah segi empat yang terbagi dalam beberapa tingkatan ruang atau halaman dan terdiri dari tiga punden yang semakin tinggi dari barat ke timur.
Bentuk dan struktur punden berundak menggambarkan upaya untuk menghormati kekuatan yang lebih tinggi dan merayakan hubungan manusia dengan alam.
Struktur punden pertama memiliki denah persegi dengan struktur bongkahan batu andesit dengan satu anak tangga dan dua menhir rubuh berdampingan.
Punden kedua berada di sebelah timur punden pertama yang dibatasi oleh gundukan tanah dengan struktur batu andesit berdenah persegi dan susunan undakan batu semakin tinggi.
Punden ketiga merupakan bagian paling tinggi dan sakral yang terdiri dari tiga ruang dengan punden utama delapan undakan batu semakin ke atas.
Selain itu, terdapat jalan atau pintu masuk ditempatkan di dekat sebuah menhir berukuran besar di sebelah barat melalui anak tangga.
Situs bersejarah ini dipercaya dibangun pada masa manusia hidup menetap dan bercocok tanam.
Kegunaan utamanya adalah sebagai ritual menghormati roh-roh nenek moyang di mana punden berundak digunakan sebagai sarana peribadatan.
Konsep ini berkembang hingga pengaruh Hindu-Buddha masuk ke Indonesia, sehingga tidak heran bila menjadi ‘kembaran’ dari Candi Borobudur di Jawa Tengah.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi