

inNalar.com – PT Harum Energy Tbk, perusahaan yang bermula dari usaha pertambangan batu bara ini terlihat serius melebarkan sayap ke sektor tambang dan pengolahan bijih nikel.
Hal tersebut dapat ditangkap ketika perusahaan legendaris ini rela pinjamkan dana kepada entitas anak usahanya untuk investasi Proyek Smelter Nikel di Halmahera Tengah, Maluku Utara.
Entitas anak perusahaan HRUM yang dimaksudkan di sini adalah PT Tanito Harum Nickel (THN).
Dengan adanya dana pinjaman tersebut, THN dapat ikut mengembangkan proyek garapan PT Blue Sparking Energy (BSE).
Secara transparan, keterangan pemberian pinjaman dana kepada THN ini tercatat dalam laporan informasi yang dipublikasikan perusahaan melalui situs Bursa Efek Indonesia.
Sebagaimana tertera dalam perjanjian fasilitas peminjaman diberikan oleh perusahaan HRUM kepada THN dan ditandatangani pada 29 September 2023.
Disebutkan pula bahwa besaran fasilitas peminjaman ini dimaksudkan guna muluskan Proyek Smelter Nikel di Halmahera Tengah ini paling banyak 500 juta USD.
Jika dirupiahkan dengan kurs terkini Rp15.528,85 maka setara nilai rupiahnya menjadi Rp7,76 triliun.
Sementara besaran dana yang dipinjamkan oleh Harum Energy kepada entitas anak usahanya diketahui mencapai 300 juta USD.
Baca Juga: Peras Anggaran hingga Rp36 Miliar, Proyek Jembatan di Lombok Utara Ini Mangkrak, Kok Bisa?
Mudahnya jika dirupiahkan dengan besaran kurs terkini maka nominalnya setara dengan Rp4,65 triliun.
Namun perlu diketahui sebelumnya bahwa HRUM kini berada di tengah tekanan penurunan pendapatan dalam 9 bulan terakhir di tahun 2023.
Berdasarkan laporan keuangan perusahaan Harum Energy per 30 September, diketahui pada tahun 2022 torehan pendapatan yang diraih mampu mencapai 702 juta USD.
Baca Juga: Peras Anggaran hingga Rp36 Miliar, Proyek Jembatan di Lombok Utara Ini Mangkrak, Kok Bisa?
Akan tetapi, pada tahun 2023 menyusut sebanyak 59 juta USD, terjun ke angka 642 juta USD.
Meski HRUM tengah mengalami penyusutuan cuan di tahun ini, tetapi tampak perusahaan terkemuka di bidang pertambangan ini tetap gigih mendukung anak usahanya untuk melakukan investasi dalam proyek pabrik pengolahan dan pemurnian nikel garapan BSE.
Perlu diketahui bahwa proyek pembangunan smelter nikel ini diketahui berlokasi di Indonesia Weda Bay Industrial Park.
Alasan di balik Harum Energy rela gelontor dana hingga triliunan rupiah ini bisa jadi karena melihat prospek pengembangan smelter nikel dengan teknologi HPAL yang semakin dibutuhkan pasar.
Dengan adanya teknologi HPAL, nantinya pabrik nikel di Halmahera Tengah ini mampu memproduksi nickel-cobalt hydroxide intermediate product atau disebut juga dengan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP).
Kapasitasnya produksi yang diharapkan terpasang setiap tahunnya pun sekitar 67.000 ton setara nikel dan 7500 kobalt.***