

inNalar.com – Kawah Ijen merupakan bagian paling dasar dari sebuah gunung berapi yang mempunyai ketinggian mencapai 2386 meter di atas permukaan laut.
Gunung ini terletak di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso, Provinsi Jawa Timur, Indonesia.
Kawah Ijen begitu menarik perhatian banyak orang bukan karena pesonanya yang memukau melainkan kisah perjuangan para pekerjanya demi sebuah hidup penambang yang beraktivitas di dalam kawahnya.
Para pekerja penambang bertaruh nyawa menembus asap beracun demi bongkahan-bongkahan belerang atau emas iblis.
Berdasarkan pada catatan sejarah aktivitas penambangan belerang di bawah ini yang telah berlangsung cukup lama tepatnya sejak masa penjajahan kolonial Belanda.
Saat itu penambangan belerang di Kawah Ijen dilakukan guna untuk bahan pembuatan mesiu. Namun, Seiring dengan berjalannya waktu belerang mempunyai banyak manfaat sehingga semakin dibutuhkan di dunia industri.
Dilansir inNalar.com dari Youtube Jelajah Bumi, belerang dapat digunakan sebagai bahan pembuat pupuk baterai kaca kertas korek api sabun hingga campuran kosmetik.
Belerang ini dihasilkan dari asap yang berasal dari dalam gunung saat asap panas keluar dan mengenai udara dingin asap tersebut mengembun hingga menghasilkan cairan.
Cairan yang telah dingin tersebut kemudian mengeras dan menjelma menjadi sebuah bongkahan belerang dengan warna kuning yang selanjutnya bongkahan-bongkahan inilah yang dikumpulkan oleh para penambang.
Sampai saat ini tercatat terdapat sekitar ratusan orang yang berprofesi sebagai penambang belerang di Kawah Ijen Mereka pun ada yang sudah menggeluti profesi ini selama puluhan tahun.
Para pekerja penambang belerang ini merupakan penduduk lokal yang tinggal di sekitaran gunung dari pekerjaan penambang belerang ini mereka mendapatkan gaji sekitar 200.000 per harinya.
Menurut para warga, pekerjaan ini begitu menarik minat hingga sangat menggiurkan bila dibandingkan melakukan pekerjaan berkebun.
Meskipun pada kenyataannya pekerjaan tersebut membutuhkan perjuangan yang sangat berat dan mempunyai Resiko yang sangat besar.
Bahkan banyak yang menyebut jika pekerjaan ini merupakan salah satu yang paling berbahaya di dunia.
Para pekerja harus menembus asap tebal beracun dan panas, lalu naik turun jalan yang begitu terjal hal ini harus dilakukan para pekerja setiap harinya.
Perjalanan naik turun tersebut sambil memikul penambangan belerang dan hal ini tentunya membutuhkan kekuatan fisik yang sangat luar biasa.
Hanya bermodalkan linggis dan keranjang khusus yang terbuat dari anyaman bambu para penambang turun ke area kawah ke dalam 300 meter.
Puncak di bawah asap tebal beracun dan bau belerang yang menyengat sudah setia menunggu para pekerja setiap harinya.
Sesak sampai nyeri merupakan hal yang biasa yang dirasakan jika menghirup terlalu banyak asap.
Namun hal ini merupakan sebagai mata pencaharian utama yang mau tidak mau harus tetap dilanjutkan.
Para pekerja pun dilengkapi masker sebagai penutup wajah dan berjika aku memecah bongkahan belerang serta mengumpulkannya.
Tak sampai di situ mereka pun harus mengangkutnya ke atas menggunakan keranjang yang ada di pundak dibutuhkan fisik yang kuat untuk melakukan hal ini sebab beban yang dipikul bisa mencapai 70 sampai 100 kilogram.
Selain itu jalan berbatu dan menanjak yang penuh rintangan harus ditaklukan untuk dapat mencapai ke Puncak.
Semakin banyak belerang yang mereka bawa maka semakin banyak pula uang yang akan dihasilkan.
Setelah mencapai puncak bongkahan belerang dipindahkan ke sebuah alat pengangkut khusus.
Selanjutnya penambang harus kembali melanjutkan perjalanan sejauh setengah Kilometer untuk Mengantarkan hasil tambang mereka ke pengepul.
Di sinilah belerang ditimbang dan penambangan mendapatkan penghasilan dari kerja keras inilah yang membuat penambang memilih pekerjaan ini.
Sebab mereka langsung dibayar setiap harinya dari apa yang sudah mereka perjuangkan.***