Peduli Mental Health, Apakah Kamu Gen Z yang Masuk Kategori Generasi Stroberi? Kenali Ciri-cirinya!

InNalar.com – Generasi stroberi merupakan generasi yang muncul di bawah generasi milenial, banyak gen Z yang masuk pada kategori generasi stroberi.

Kesan yang melekat pada generasi stroberi ialah karakter lemah, pemalas, dan meninggalkan nilai-nilai leluhur, ada pula yang menyebutnya dengan generasi modernis, social butterfly, hingga aware mental health.

Istilah generasi stroberi muncul di Taiwan yang ditujukan untuk yang lahir 1981 kebawah, justru istilah tersebut lebih cocok untuk generasi milenial kebawah yang dianggap lebih lembek karena tekanan sosial seperti buah stroberi.

Baca Juga: Tertua se-Jawa Timur, 5 Ponpes Ini Kalahkan Tebu Ireng Jombang: Asramanya Masih Model Jaman Dulu

Sisi positifnya generasi ini memiliki tingkat kreatifitas dan banyak ide, generasi stroberi cenderung tidak ingin bekerja keras atau melawan arus karena tekanan yang ada. 

Ternyata generasi stroberi dengan eksploratif dan daya kreatifitasnya mereka mudah sakit hati, sifat itu identik dengan buah stroberi yang secara look sangat menawan di luar tapi mudah hancur jika terkena tekanan.

Sebuah jurnal yang menjelaskan tentang buah stroberi, bahwa buah ini sebenarnya buah semu atau bukan buah yang sebenarnya, sama dengan kondisi mental saat ini yang semu.

Baca Juga: Dulu Sering Jadi Pusat Nongkrong, Inilah 5 Kafe yang Tutup Permanen di Kawasan Kavling DPR Sidoarjo

Menurut Prof. Rhenald Kasali dalam buku nya yang berjudul Strawberry Generation, individu-individu generasi stroberi itu penuh dengan gagasan kreatif, eksploratif pada sesuatu yang baru, tapi mudah menyerah jika ditengah jalan dihadapkan sebuah rintangan. 

Selain itu jika orang tua overprotective mengakibatkan mereka jadi sakit hati, hal tersebut juga didukung dengan orang tua yang tidak terbiasa keras atau memberikan punishment ketika anak berbuat salah. 

Faktor krusial lainnya yang berperan dalam menemani mereka tumbuh yakni lingkungan yang lebih secure, merasa nyaman di suatu zona  sehingga takut mengambil langkah hingga khawatir dengan hal-hal yang belum tentu terjadi. 

Baca Juga: Kerap Dijuluki Pulau Garam dan Migas, Ternyata 4 Kabupaten di Madura Masuk Kategori Termiskin se-Jawa Timur

Generasi stroberi kerap dianggap sebagai generasi yang sering menunda pekerjaan, mereka ingin sukses tapi tidak suka jika terlalu bekerja keras, beberapa kalimat yang terkenal dari mereka “chill“, “healing“, “self-reward“, dan istilah lain yang berkedok santai.

Sebagian besar masyarakat mungkin setuju dengan prinsip tersebut, karena kerja dan memberi jeda harus seimbang, tapi jika terlalu sering jeda juga tidak akan mencapai hasil yang dituju. 

Meskipun mudah rapuh mereka generasi stroberi punya sisi nyentriknya, mereka cenderung berani eksplor sesuatu lebih jauh, karena rasa ingin tahu nya tinggi. 

Generasi stroberi juga mudah mengikuti trend yang ada, mereka social butterfly, handal berselancar di Internet maupun kecanggihan teknologi lainnya.

Karena mereka rapuh tapi menawan, jadi seringkali menyuarakan suatu fenomena yang berkaitan dengan aware mental health, saling mendukung satu-sama lain yang berujung transfer energi positif. 

Generasi stroberi sangat peduli dengan mental health, tetapi sering kali mendiagnosa keadaan sendiri tanpa pakarnya melalui platform-platform kesehatan tanpa adanya crosscheck ke pihak yang kompeten di bidangnya.

Memang, generasi ini sadar akan pentingnya menjaga kesehatan mental, itu merupakan suatu kemajuan karena kesehatan mental seringkali dikesampingkan. Sayangnya, mereka minim literatur maupun sumber bacaan lain sehingga cenderung mudah mendiagnosis diri sendiri. ***

Rekomendasi