

inNalar.com – Singapura, menjadi salah satu wilayah yang sedang menghadapi tantangan dari fenomena Urban Heat Island (UHI).
Yang di mana membuat suhu di area Singapura meningkat lebih tinggi dibandingkan dengan daerah sekitarnya, terutama pada siang dan malam hari.
Untuk mengatasi masalah ini, proyek Cooling Singapore diluncurkan sebagai inisiatif berbasis sains yang bertujuan untuk menciptakan solusi inovatif dalam mitigasi suhu.
Baca Juga: Sabet Penghargaan WEPs Awards 2024, BRI Kian Cemerlang dalam Pemberdayaan Perempuan
Cooling Singapore bertujuan untuk mengurangi efek UHI yang di sebabkan oleh berbagai macam faktor.
Faktor tersebut seperti, penggunaan material seperti beton dan aspal yang menyerap dan menyimpan panas lebih banyak dibandingkan dengan material alami.
Lalu, ruang hijau yang terbatas di kota-kota besar mengurangi kemampuan alami untuk mendinginkan udara melalui proses evapotranspirasi.
Dilanjut dengan adanya penggunaan kendaraan, pabrik, juga penggunaan alat pendingin udara menghasilkan panas tambahan.
Juga adanya bangunan tinggi yang berdekatan mengurangi ruang terbuka untuk vegetasi, sehingga mengurangi kemampuan lingkungan untuk menyerap udara dingin.
Permukaan perkotaan memiliki albedo yang lebih rendah, sehingga lebih banyak sinar matahari diserap daripada dipantulkan.
Baca Juga: Dua Perusahaan BUMN Genggam Proyek Infrastruktur di Filipina, Nilai Kontraknya Capai Rp8,4 Triliun
Dan permukaan seperti jalan dan atap yang tidak berpori mencegah infiltrasi air, meningkatkan aliran permukaan yang memanas saat mengalir di atas permukaan panas.
Menurut data terbaru, hal-hal tersebut membuat pemanasan di Singapura terjadi dua kali lebih cepat dibandingkan dengan rata-rata global.
Karena kondisi ini diperparah oleh kepadatan penduduk yang tinggi dan penggunaan energi yang masif.
Dengan 8.000 orang per kilometer persegi, dampak dari aktivitas manusia terhadap suhu menjadi sangat signifikan.
Semua hal tersebut yang menjadi alasan pihak pemerintah Singapura memulai inisiasi program berkelanjutan Cooling Singapore yang memiliki beberapa fase.
Fase pertama atau 1.0 dari proyek penerapan sains ini dimulai pada tahun 2017-2018.
Baca Juga: Diprotes Warga, Proyek Pengolahan Limbah Tinja di Bali Senilai Rp3,2 Miliar Dihentikan
Pada tahap awal program ini berfokus pada pengembangan metrik dan alat untuk mengukur UHI dan Outdoor Thermal Comfort (OTC).
Mengidentifikasi kesenjangan pengetahuan dan teknologi serta mengembangkan katalog potensi langkah mitigasi panas.
Dan mulai melibatkan kolaborasi dengan lembaga pemerintah seperti Urban Redevelopment Authority (URA) dan Housing and Development Board (HDB).
Pada tahun 2019-2020 proyek Cooling Singapore ini memasuki fase 1.5 dengan fokus pada penyusuan strategi lebih lanjut untuk mitigasi UHI.
Di sini pihak-pihak terkait mengukur potensi strategi pendinginan melalui pengujian langsung dan membangun sistem pendukung keputusan untuk menilai OTC dari berbagai strategi.
Pada fase riset ini pihak pemerintah melibatkan lembaga penelitian seperti National University of Singapore (NUS) dan Singapore-MIT Alliance for Research and Technology (SMART).
Hingga pada tahun 2021 upaya pemerintah untuk suhu negara ini sudah memasuki fase 2.0 yang telah berjalan hingga sekarang.
Dengan mengeluarkan sebuah inovasi bernama Digital Urban Climate Twin (DUCT), sebuah model komputasi yang mensimulasikan kondisi iklim perkotaan secara menyeluruh.
DUCT mengintegrasikan berbagai aspek lingkungan, termasuk permukaan tanah, industri, transportasi, dan energi bangunan.
Sehingga melalui DUCT, para peneliti dapat menganalisis pola suhu dan kelembapan di berbagai area di Singapura serta merancang strategi mitigasi yang tepat berdasarkan data tersebut.
Ini membuat pengerjaan beberapa proyek selanjutnya dari program Cooling Singapore bisa berjalan lebih efektif tanpa harus banyak melakukan revisi dan membuang-buang anggaran negara.***