

inNalar.com – Geert Wilders, politisi partai rasis Anti-Islam, Anti-Uni Eropa, dan Pro Israel ini menang telak dalam pemilu Belanda.
Ribuan orang kemudian beramai-ramai protes, bagaimana bisa Geert Wilders memenangkan 37 dari 150 kursi parlemen Belanda.
Warga protes karena sosok Geert Wilders ini secara terang-terangan menolak Islam dan melarang kegiatan yang berkaitan dengan Al-Qur’an dan masjid.
Dilansir inNalar.com dari laman reuters.com, politisi rasis ini ternyata penggemar mantan presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Geert Wilders memiliki ide-ide yang radikal, dan berencana membebaskan Belanda dari imigran dan orang Islam.
Meski ia telah memenangkan 37 kursi parlemen, ia harus berkompromi dengan partai yang menolaknya, demi memenangkan setidaknya 72 kursi.
Kemenangan politisi Anti-Islam dan Anti-Uni Eropa ini memang sangat mengejutkan, jauh dari semua prediksi yang telah diperhitungkan.
Tentang Geert Wilders
Politisi asal Negeri Kincir Angin ini ternyata tidak memiliki hubungan yang baik dengan saudaranya sendiri.
Baca Juga: Tentara Israel Mengaku Stres Hadapi Hujatan Netizen Indonesia: Mereka Teror Sosmed Kami Siang-Malam
Hampir semua keluarga Geert Wilders adalah imigran. Neneknya dari Indonesia, sedangkan istrinya adalah orang Hungaria keturunan Turki.
Entah apa yang membuat dirinya anti-imigran. Ada dugaan bahwa sikapnya muncul lantaran sakit hati dengan nasib buruk nenek yang terusir dari Indonesia.
Geert Wilders memiliki pemikiran yang berseberangan dengan saudaranya, Paul Wilders, dan keduanya telah memutuskan hubungan.
Pada tahun 2014, sosok politisi rasis ini pernah dihukum karena melakukan diskriminasi dan menghina orang Maroko.
Geert Wilders telah hidup di bawah perlindungan ketat polisi selama bertahun-tahun, lantaran ujaran kebencian yang ia lontarkan tentang Islam.
Ia menghina Nabi Muhammad SAW, menyebut Islam sebagai ‘agama terbelakang’, dan melarang kitab suci Islam, yaitu Al-Qur’an.
Atas ujaran tersebut, ia berulang kali mengalami ancaman pembunuhan, sehingga ia harus bersembunyi di balik polisi.
Dalam unggahan Instagramnya, politisi rasis ini juga secara terang-terangan menyatakan dukungannya kepada Israel.
Warga Belanda Tidak Setuju
Sebagaimana dilansir inNalar.com dari reuters.com, 80 persen warga Negeri Kincir Angin ini tidak sependapat dengan partai rasis tersebut.
Mereka mengungkapkan, tak ada alasan logis untuk mengeluarkan para imigran, apalagi melarang agama Islam.
Organisasi Islam, komunitas orang Maroko, dan kelompok hak asasi yang lainnya menyatakan keprihatinan atas kemenangan Geert Wilders.
Salah satu anggota organisasi Muslim Belanda mengatakan, mereka khawatir dengan masa depan Islam khususnya umat Muslim di sana.
Selain itu, pada hari Jumat 24 November yang lalu, ribuan warga Negeri Kincir Angin ini melakukan demo di kota Utrecht.
Mereka menggelar protes dan menyerukan bahwa warga Belanda akan selalu memperjuangkan hak asasi untuk semua orang. ***