

inNalar.com – Satu lagi jembatan yang unik bernamakan Presiden Republik Indonesia pertama, Soekarno akan dibahas dalam artikel ini.
Diketahui, Jembatan dengan nama presiden Soekarno ini berada di Kecamatan Wenang, Kota Manado, Sulawesi Utara.
Jembatan Soekarno ini tidaklah dibangun oleh Presiden pertama RI ataupun di masa kepemimpinannya.
Jembatan ini justru dibangun pada era kepemimpinan satu-satunya presiden wanita RI, yakni Presiden Megawati Soekarnoputri.
Jembatan Soekarno ini awalnya dibangun pada tahun 2003 hingga 2005 dengan sistem kontrak tahunan dibawah pengendalian Dirjen Tata Kota dan Tata Pedesaan.
Pembangunan jembatan ini kemudian berubah sistem kontraknya di tahun 2006. Sistem kontrak yang semua tahunan menjadi sistem kontrak tahun jamak.
Melalui proses lelang yang dilakukan pada tahun 2007, PT Hutama Karya (Persero) memenangkan proyek lelang ini dan melakukan penandatanganan Surat Perjanjian Kontrak pada bulan Desember 2007.
Jembatan Soekarno memiliki panjang total sekitar 1.127 meter.
Desain dari jembatan ini masih tetap memakai desain awalnya yang dibuat pada tahun 2002 oleh PT Amythas Expert & Ass.
Desain dari Jembatan Soekarno merupakan kombinasi dari dua tipe jembatan.
Yang pertama adalah Jembatan Type Balance Cantilever (Box Girder) dan Jembatan Type Cable Stayed.
Jembatan Soekarno ini juga memakai beton prestres dalam pembangunannya.
Total biaya yang dihabiskan untuk membangun Jembatan Soekarno adalah sekitar Rp 300,35 miliar.
Sumber dana tersebut adalah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Meskipun dananya terbilang fantastis, namun, ternyata pembangunan jembatan ini sempat terhenti sangat lama.
Jembatan ini sempat mangkrak bertahun-tahun bukan karena permasalahan dana, melainkan, karena struktur tanah tempat jembatan ini dibangun terbilang unik dan berbeda dengan struktur tanah di tempat lain.
Jembatan Soekarno ini pada awal pembangunannya hanya direncanakan untuk memiliki panjang sekitar 622 M.
Bahkan biaya yang dikeluarkan untuk pembangunan jembatan ikon Manado ini hanya Rp130 miliar.
Namun, karena kondisi struktur tanah di tempat pembangunan yang unik, pembangunannya sempat terhenti sebelum diambil alih oleh PT Hutama Karya (Persero).
Mengetahui hal tersebut, tentunya PT Hutama Karya (Persero) tidak ingin menyerah begitu saja.
Mereka memikirkan secara matang apa yang harus dilakukan agar pembangunan Jembatan Soekarno dapat dilanjutkan.
PT Hutama Karya (Persero) memutuskan untuk melakukan penguatan dengan menambah jumlah pondasi serta kabel penyangga.
Tentunya biaya dari penambahan ini tidak mudah. Sehingga, biaya pun membengkak sampai Rp 300 miliar.
Namun, angka tersebut terasa sepadan mengingat Jembatan Soekarno sukses menjadi ikon Kota Manado dan masih bertahan sampai 2023.
Jembatan Soekarno sendiri telah diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo atau Presiden Jokowi pada tahun 2015.***