

inNalar.com – Radio merujuk pada komunikasi nirkabel, di mana informasi dikirim melalui gelombang elektromagnetik tanpa menggunakan kabel.
Hal tersebut memungkinkan terjadinya komunikasi jarak jauh dengan berbagai kepentingan yang diperlukan, seperti militer contohnya.
Pada masa kolonialisme, pemerintah Belanda rupanya berhasil membuat rekor untuk membangun stasiun radio di Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Uniknya, stasiun radio ini menjadi penghubung komunikasi antar benua dan menjadi yang pertama di dunia.
Dilansir inNalar.com dari laman resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, stasiun ini bernama Stasiun Radio Malabar.
Meski sudah terbengkalai, rupanya stasiun radio ini menjadi salah satu tempat yang dilestarikan sebagai warisan budaya Indonesia.
Lokasinya sendiri berada di lembah Gunung Puntang, di mana memiliki ketinggian 1.376 dari permukaan laut yang masih termasuk dalam Kabupaten Bandung.
Mampu menjangkau jarak hingga 12.000 kilometer, diketahui kawat antenanya membentang antara Gunung Halimun dan Puntang sepanjang 2 kilometer.
Pembangunannya sendiri dirancang oleh ahli teknik elektro lulusan Universitas di Jerman, Dr. Ir. Cornelis Johannes de Groot, pada tahun 1917.
Kala itu, pemerintah Belanda hendak berkomunikasi melalui radio yang masih menggunakan kabel, namun tidak memungkinkan karena terjadi Perang Dunia I.
Hal inilah yang membuat mereka mengambil pilihan alternatif untuk menggunakan koneksi gelombang panjang.
Lokasi stasiun radio ini dipercaya strategis dan dapat menangkap sinyal paling kuat daripada tempat lainnya.
Selain itu, stasiun radio ini juga diklaim memiliki transmitter terkuat di dunia yang pernah dibuat pada masa itu dengan kekuatan 2.400 KW yang terdiri dari 2 arc transmitter.
Selain stasiun radio, terdapat juga beberapa bangunan yang dibuat untuk menunjang kehidupan pegawai di stasiun ini.
Beberapa contohnya adalah rumah pegawai, fasilitas jalan, lapangan tenis, hingga penampungan air bersih.
Kejayaan wilayah yang pernah menyabet rekor dunia ini harus berakhir pada tahun 1964 pada peristiwa Bandung Lautan Api.
Penghancuran pun dilakukan agar tidak digunakan oleh pihak musuh, begitu pula dengan bahan bangunannya yang dijarah oleh masyarakat setempat.
Kini, stasiun radio Malabar hanya menyisakan puing-puing yang telah rata dengan tanah meski masih beberapa sisa bangunan masih terlihat.
Kawasan ini pun diambil alih dan dikelola oleh Wana Wisata Gunung Puntang dengan pengawasan dari KPH Bandung Selatan.***