Paling Strategis di Jawa Timur, Mall Seluas 170.000 M2 di Surabaya Justru Sepi bak Kuburan

inNalar.com – Kondisi pusat perbelanjaan di Surabaya Selatan ini sangat menyedihkan.

Mall yang hanya berjarak 8 km dari Bandara Internasional Juanda ini terlihat sangat sepi pengunjung.

City of Tomorrow (Cito) adalah sebuah superblok mewah di Surabaya, Jawa Timur yang dikembangkan oleh PT Lippo Karawaci Tbk.

Baca Juga: Telan Biaya Rp65,2 Triliun, Swedia-Denmark Disatukan Jembatan Terpanjang di Eropa: Tembus Bawah Laut!

Superblok ini berada di sudut barat laut Bundaran Waru, berseberangan dengan markas Komando Resor Militer 084.

Letaknya sangat strategis, dekat dengan perbatasan Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo, serta Bandara Internasional Juanda.

Mall Cito ini dirancang oleh Anggara Architeam dan dibangun oleh Total Bangun Persada pada tahun 2007 di Provinsi Jawa Timur.

Baca Juga: Dalam 2.041 Hari, Proyek Waduk Terbesar Gorontalo Ini Sapu Habis Sejumlah Aset Pemerintah di Lahan 1.196 Ha

Luas lahan bangunan megah ini seluas 2,6 hektare dengan total luas bangunan Cito mencapai 170.000 m².

Mall Cito menjadi superblok satu-satunya yang ada di wilayah Indonesia bagian timur dengan kepemilikan yaitu Lippo Malls.

Namun, kondisi terkini Cito sangat memprihatinkan.

Baca Juga: Hampir Rampung! Jalan Tol 174 KM Penguhubung Pesisir Jawa Barat-Jawa Timur Siap Jadi Proyek Bergengsi

Pusat perbelanjaan yang terletak di Bundaran Waru ini semakin sepi pengunjung, yang membuat banyak tenant memilih untuk menutup usahanya.

City of Tomorrow memiliki empat lantai dengan luas 111.633 meter persegi dan dapat menampung hingga 1.300 unit retail.

Di atas pusat perbelanjaan ini, terdapat enam gedung perkantoran masing-masing dengan 13 lantai.

Baca Juga: Indeks Bisnis UMKM BRI Q3 2024: Ekspansi Melambat, Saatnya Perkuat Daya Beli

Sementara itu, terdapat pula apartemen Aryaduta Residences yang terletak di ujung barat kompleks ini.

Apartemen setinggi 40 lantai ini menawarkan 246 unit untuk dijual. Awalnya, direncanakan ada hotel bernama Hotel Aryaduta Surabaya, tetapi rencana tersebut belum terwujud hingga kini.

Di lantai dasar (LG), hampir seluruh stand tutup, dan banyak pintu yang dipasang pengumuman bahwa stand tersebut disewakan.

Baca Juga: China Gagal Punya Stadion Termahal di Dunia, Proyek Boroskan Dana Rp24,6 Triliun Tapi Berakhir Diminta Refund

Hanya beberapa usaha yang masih beroperasi, seperti layanan pijat, kantin, dan toko mainan.

Sementara di lantai dua (GF), pengunjung sedikit lebih ramai karena ada pameran haji dan umrah yang sedang berlangsung.

Beberapa toko pakaian, sepatu, dan layanan perbankan masih beroperasi. Namun, ketika menuju lantai berikutnya, yaitu lantai UG, suasananya langsung berubah drastis.

Keadaan di sana pusat belanja Jawa Timur ini benar-benar sepi, hanya terdengar musik dari pusat kebugaran.

Begitu juga dengan toko perhiasan dan jam tangan. Meskipun buka, tetap nampak toko itu sangat sepi karena tak ada pembeli.

Di lantai paling atas (FF), situasinya sedikit lebih ramai karena ada area bermain anak-anak dengan wahana yang tetap menyala.

Di lantai ini juga terdapat sebuah bioskop, tetapi bioskop ini sepi dari pengunjung.

Arianti, pemilik salah satu stand yang menjual kerajinan kulit seperti jaket, dompet, dan tas, menjelaskan bahwa kondisi mall yang sepi sudah terjadi sejak pandemi Covid-19.

Menurutnya, Mall Cito sebenarnya memiliki lokasi yang strategis karena dekat dengan Bandara Juanda.

Sebelumnya tempat ini selalu ramai dikunjungi orang-orang yang ingin berbelanja atau sekadar melepas penat.

Itulah sebabnya sejumlah retailer besar seperti Hypermart dan Matahari Store membuka gerainya di Mall Cito ini.

Arianti pun tertarik untuk berjualan di sana. Bahkan, ia rela mengeluarkan biaya sebesar Rp 600 juta untuk membeli sebuah stand berukuran kurang dari lima meter persegi.

Namun sayang, usahanya dalam empat tahun terakhir sepi pembeli dan pendapatannya jauh dari harapan.

Meski begitu, ia merasa lebih beruntung dibandingkan tenant lain di sini yang kebanyakan hanya menyewa tempat dengan biaya minimal Rp 1,7 juta per bulan.

Banyak pelaku usaha yang memilih menghentikan bisnis mereka karena tidak mampu menanggung biaya sewa yang tinggi.*** (Aliya Farras Prastina)

Rekomendasi
REKOMENDASI UNTUK ANDA [Tutup]