Pakar Sebut Hamas Kini Menjadi Kekuatan yang Super Canggih, Prediksi Awal Pasukan Israel Jadi Berantakan?


inNalar.com – Serangan yang dilakukan kelompok Palestina, Hamas, terhadap Israel telah terjadi pada Sabtu 7 Oktober 2023 mengejutkan banyak pihak, kecuali pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Hal ini dikarenakan kecanggihan tingkat strategi, perencanaan, dan pelatihannya yang belum pernah dilihat sebelumnya, bahkan melampaui apa yang diantisipasi banyak ahli.

Intinya Hamas belajar dari berbagai sumber, mengambil inspirasi dari infrastruktur militer Hizbullah dan strategi perang pemberontak, serta menerima pelatihan, pendanaan, dan senjata dari Iran.

Baca Juga: Ulas Sosok Achmad Husein, Bupati Banyumas yang Viral Usai Daerahnya Jadi Tuan Rumah Smart Green ASEAN Cities

Namun secara keseluruhan, Philip Ingram dari Al Jazeera menulis, Hamas mengandalkan peperangan asimetris yakni menggunakan strategi serangan tabrak lari, penyergapan, dan tembakan jitu.

Teknik strategi perang ini digunakan Hamas untuk meminimalkan korban mereka sendiri dan memaksimalkan dampak operasi mereka dengan mengurangi konfrontasi langsung.

Hamas menggunakan serangan melalui udara, laut dan darat yang diketahui dalam istilah militer dikenal sebagai operasi multi domain.

Baca Juga: Joe Biden Jadi Satu-satunya Presiden Amerika Serikat yang Paling Pro Israel, Ini Sederet Buktinya!

Mereka melakukan serangan awal terhadap pos pengamatan Israel menggunakan drone sebelum serangan roket besar-besaran berhasil menghentikan penutupan Iron Dome Israel.

Hal ini disebut dengan operasi pembentukan yang berdasar pada persiapan dalam tahap berikutnya, sehingga dapat memasuki fisik ke dalam Israel.

Dilansir inNalar.com dari AlJazeera , selain itu adapula infiltrasi fisik yang belum pernah terjadi sebelumnya yakni menyerang sasaran sipil dan militer Israel dari berbagai arah.

Baca Juga: Siap Mendukung Energi Bersih, Perusahaan Pupuk di Jawa Timur Ini Kembangkan Green Hydrogen Guna Kurangi Emisi

Hal yang mendasari semua kegiatan ini adalah dengan penggunaan taktik ketakutan terhadap warga sipil, termasuk dengan merekam dan menyiarkan serangan di komunitas perbatasan Israel dan konser musik.

Selain itu dilakukan pula penangkapan terhadap tentara Israel dan warga sipil Israel dengan membawanya ke Jalur Gaza.

Tak sampai disitu, Hamas juga melakukan sasaran serang kepada militer Israel dengan membunuh serta menyita peralatan militer Israel.

Para pakar menganalisis jika Hamas tampaknya belajar dari berbagai sumber, dengan mempelajari infrastruktur milik militer Hizbullah serta strategi perang pemberontakannya.

Hamas diyakini pula telah menerima pelatihan, pendanaan dan senjata dari Iran.

Pejuang Hamas juga telah memanfaatkan pembelajaran dari pertemuan dengan pasukan Israel, yakni mempelajari taktik yang digunakan oleh para pejuang di Jenin pada tahun 2002.

Selain itu Hamas juga menerapkan inovasi mereka sendiri dalam bentuk alat peledak rakitan (IED), perang psikologis, jaringan terowongan dan juga perang asimetris.

Tak hanya itu Haman juga sudah memanfaatkan keahlian yang dimiliki Iran dalam sebuah pembuatan roket dengan buatan sendiri serta dapat meningkatkan akurasi terhadap jangkauan yang dituju.

Hal ini bermula saat berlangsungnya pertemuan dengan pihak pasukan Israel, utamanya selama perang di Gaza pada tahun 2014.

Pertemuan tersebut telah memberi pelajaran lebih jauh tehadap Hamas sebagi pentingnya perang perkotaan serta penggunaan infrastruktur sipil sebagai sebuah perisai.

Pejuang Hamas juga telah memasukkan taktik ini ke dalam serangan mereka yang saat ini dilancarkan

Hal tersebut dengan memanfaatkan daerah padat penduduk sebagai lokasi peluncuran roket, penyembunyian senjata, pusat komando serta kendali di bangunan sipil.

Hal ini menciptakan dinamika dimana ketika Hamas diserang oleh bom Israel, kedua belah pihak dapat saling menuduh melanggar hukum internasional, yakni hukum Konflik Bersenjata melarang penargetan warga sipil dari musuh.

Menyebabkan pihak yang terlibat dalam sebuah konflik bersenjata harus melakukan pembedaan terhadap pasukan tempur mereka dan warga sipil itu sendiri.

Selain itu, dalam hal ini pula dapat mencegah adanya operasi yang dilakukan di dekat atau bahkan di dalam bangunan sipil.

Terutama pada tempat-tempat yang dilindungi seperti fasilitas kesehatan, tempat ibadah dan sekolah.

Hamas juga terlihat mendapat sebuah wawasan yang spesifik dari taktik yang dilakukan oleh para pejuang Jenin selama perperangan Jenin tahun 2002

Tak hanya itu Hamas tampaknya juga mendapatkan wawasan spesifik dari taktik yang digunakan oleh para pejuang Jenin selama Pertempuran Jenin di tahun 2002.

Menurut Human Rights Watch (HRW), di bulan April 2002, serangan Israel yang dilakukan terhadap kamp pengungsi Jenin mengakibatkan 52 warga Palestina terbunuh.

Angka tersebut termasuk dengan perempuan dan anak-anak yang harus menjadi korban.

Selain itu, atas penyerangan yang dilakukan terdapat sebanyak 23 tentara Israel tewas serta lainnya luka-luka.

Hal ini merupakan hasil sebuah taktik yang digunakan pejuang Palestina, sehingga perperangan tersebut pun menjadi sebuah simbol perlawanan dari pihak Palestina.

Pertempuran Jenin adalah peristiwa penting dalam konflik antara Israel dan Palestina, dimana para pejuang Palestina menggunakan kombinasi taktik pemberontak, IED, dan strategi perang kota melawan militer Israel.

Hamas mendapatkan pembelajaran penting dari peran Jenin yakni menggunakan efektivitas IED yang dapat menimbulkan korban jiwa serta mengganggu berlangsungnya operasi militer Israel.

Improvised Explosive Device (IED) sendiri merupakanjenis senjata peledak nonkonvensional yang dapat berbentuk apapun dan diaktifkan dengan berbagai cara.

IED juga menjadi slaha satu penyebab utama jatuhnya korban dikalangan tentara dan menyebabklan banyak korban jiwa di wilayah sipil.

Biaya dari IED terbilang rendah dan mudah disembunyikan serta senjata ini menjadikannya alat yang berharga untuk peperangan asimetris.

Sejak itu Hamas melakukan penambahan IED ke dalam persenjataannya, hal ini digunakan untuk menargetkan beberapa titik seperti instalasi militer Israel dan juga beberapa kendaraan patroli.

Jika Israel melancarkan serangan darat ke Gaza, taktik ini pasti akan selalu digunakan oleh para pejuang Hamas. ***

Rekomendasi
REKOMENDASI UNTUK ANDA [Tutup]