

inNalar.com – Sempat mengalami fase fluktuatif dalam perjalanan bisnis ternaknya. Surya, owner Garum Farm asal Blitar ini membagikan beberapa poin penting dalam pengelolaan bisnis ternak yang benar.
Pria asal Blitar ini mengaku memulai bisnis ternak domba dan kambing pada tahun 2020 usai resign dari pekerjaan sebelumnya selama sepuluh tahun.
Dirinya pun memutuskan untuk terjun ke dunia bisnis ternak domba karena memang senang memelihara hewan dan almarhum ayahnya yang sempat menjadi penggembala domba.
Baca Juga: Glodok: Kawasan Chinatown Terbesar di Indonesia dengan Sejarah yang Mempesona
Dirinya juga menceritakan pada awal ternak ia hanya memiliki 12 ekor kemudian menambah ternaknya menjelang Iduladha sehingga memiliki stok ternak paling banyak 70 ekor.
Hal tersebut karena ia kurang memerhatikan dari segi pakan dan sempat tertipu oleh penjual hewan.
Surya mengaku saat itu dirinya sempat mengalami kematian hewan setiap harinya. Ada juga domba yang dalam kondisi bunting lalu keguguran, atau lahiran namun keadaan lumpuh.
Baca Juga: Keunikan Bahasa dan Budaya di Indramayu, Perpaduan Sunda-Jawa di Tanah Pantura
Ia merasa hal tersebut karena usahanya yang sebelumnya sering keliling peternakan hingga menonton youtube tentang peternakan yang membuatnya terlalu banyak informasi dan membuat tataan bisnisnya berantakan.
Dalam situasi tersebut ia mengaku terlalu berambisi pada penambahan ternak, padahal pakan termasuk jadi poin yang harus lebih diperhatikan.
Surya mengungkap lewat ilmu yang didapatkan oleh seniornya bahwa rukun beternak ada 5, yaitu:
1. Pakan
2. Pakan
3. Pakan
4. Kandang
5. Ternak
Baca Juga: Gerbang Wisata Kendari-Toronipa Telan Anggaran Rp32 Miliar, Kondisinya Tak Memuaskan
Pria ini menjelaskan bahwa banyaknya kematian hewan yang dialaminya awal-awal adalah karena kurang pengetahuan tentang nutrisi dan gizi juga formula proses dari pakan.
Ditemukan kesalahan bahwa pakan yang difokuskannya saat itu hanya pada rumput dan kulit kedelai, dengan kondisi rumput yang kurang variatif sehingga secara nutrisi hanya itu-itu saja, dan akhirnya banyak yang mati.
Surya bercerita bahwa dirinya belajar kepada Ibnu Aqil yang menjadi ahli dunia peternakan dan namanya terkenal di kalangan peternak seantero Jawa Timur.
Dalam kesempatannya itu dirinya mengungkap bahwa Ibnu Aqil menyampaikan bahwa peternak kambing dan domba seharusnya menjadi peternak yang untungnya besar.
Hal itu karena pakan bagi kambing dan domba sendiri masih dari penghijauan, bukan dari pabrikan.
Untuk keadaan ini Ibnu Aqil menjelaskan bahwa sebagai peternak domba dan kambing memiliki tanggung jawab dalam memvariasikan penghijauan pakan.
Rumput yang kering bahkan masih bisa dipakai sebagai pakan hewan.
Dalam hal ini, ungkap Surya, bahwa Ibnu Aqil sendiri melakukan kerja sama dengan petani jagung.
Adanya kerja sama antara Ibnu Aqil dengan petani jagung, yaitu dirinya membelikan bibit jagung dan mengambil bagian hijau sedangkan petani mengambil bagian jagungnya.
Menurutnya hal tersebut merupakan sistem yang saling menguntungkan dua belah pihak.
Sedangkan cara yang Surya ambil sendiri adalah memanfaatkan kehijauan yang melimpah di sekitar Blitar.
Dirinya mengaku seringkali meminta-minta bagian hijau bahkan dari pekerja penebang pohon di pinggir jalan.
Dan hal itu seringkali saling menguntungkan karena ternyata banyak sekali pihak yang tidak memerlukan bagian hijau tersebut.
Konsep yang didapatkannya dari Ibnu Aqil perihal pakan adalah, bahwa semua daun bisa digunakan, kecuali daun telinga dan daun pintu. Daun yang lainnya bisa jadi sumber pakan kambing dan domba.***