Orangutan dan Dinasti Sawit, Hutan Seluas 532.143 ha di Kalimantan Timur ini Jadi Rumah Spesies Terancam Punah

inNalar.com – Sudah menjadi rahasia umum bahwa usaha perkebunan kelapa sawit menjadi industri yang paling menggiurkan selain pertambangan batubara, khususnya di Provinsi Kalimantan Timur.

Namun tak jarang pembukaan lahan kelapa sawit sebagai area industri ekonomi yang dinilai potensial tidak senada nasibnya dengan hewan seperti orangutan yang telah meninggali habitatnya lebih dulu di berbagai hutan Kalimantan Timur.

Apabila kita mengambil contoh fenomena dinasti sawit di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur dapat diketahui perkembangan signifikannya dari data Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai berikut.

Baca Juga: Dibangun Sejak 2015, Jembatan Ini Hubungkan Kalteng dan Kalbar, Dananya Rp17 Miliar Bakal Selesai 2023?

Perkembangan luas lahan konsesi sawit yang merupakan gabungan dari 13 kecamatan di Kabupaten Berau bermula dari 12.201 hektare (2012) berkembang pesat dalam dua tahun setelahnya menembus 23.324,90 hektare (2014).

Adapun Kabupaten Kutai Timur sendiri merupakan daerah pemilik lahan sawit terluas di Provinsi Kalimantan Timur, yakni 459 593 hektare.

Menyadari akan ancaman eksistensi orangutan yang nyaris punah akibat manisnya pusaran industri perkebunan sawit, hutan di Kalimantan Timur ini hadir menjadi tameng bagi flora dan fauna seperti hewan ini.

Baca Juga: Kucurkan Anggaran Rp 2,6 Miliar, Gedung PCNU Termegah di Kalimantan Barat Ini Letaknya di Kabupaten….

Hutan Wehea – Kelay seluas 532.143 hektare ini membentang di antara Kabupaten Kutai Timur dan Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

Pengelolaan hutan di Kalimantan Timur ini berangkat dari upaya mulia untuk menyelamatkan spesies orangutan yang tinggal di luar kawasan konservasi.

Berkat kolaborasi berbagai pihak yang tergabung dalam Forum Kawasan Ekosistem Esensial Wehea – Kelay, Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) koridor orangutan diharap menjadi solusi terbaik.

Baca Juga: Studi Mengungkap Tidur dengan Waktu yang Cukup dapat Mengurangi Perilaku Impulsif pada Anak, Bagaimana Bisa?

Dalam hal ini bentang alam Wehea – Kelay yang berada di Kabupaten Kutai Timur dan Berau ini dikelola oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur bekerja sama dengan beberapa pihak.

Adapun pihak yang masuk dalam kolaborator pengelolaan hutan Wehea – Kelay ini adalah KLHK, The Nature Conservancy (TNC), Lembaga Adat Wehea, dan beberapa pihak swasta.

Dilansir inNalar.com dari laman Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, orangutan sub-spesies Pongo Pygmaeus Morio tinggal tersissa kurang lebih 4.800 ekor.

Dari jumlah tersebut 25 persen orangutan itu tinggal di dalam kawasan konservasi dan hutan lindung, sedangkan 75 persen berada di luar kawasan termasuk Hutan Wehea – Kelay.

Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, orangutan borneo tersisa 57.350 ekor, dengan 18 di antaranya diharap akan bertahan dalam 100 hingga 500 tahun mendatang.

Pengelolaan kolaboratif atas hutan Wehea – Kelay di tingkat Provinsi Kalimantan Timur ini diketahui sebagai upaya untuk mengurangi bahkan menghilangkan adanya potensi konflik antar manusia dan orangutan.

Tak hanya orangutan, sebanyak 114 spesies flora di area hutan Wehea – Kelay dinyatakan bersatus merah atau terancam punah menurut International for Conservation of Nature (IUCN Red List). 53 spesies flora di antaranya bahkan masuk kategori kritis.***

 

Rekomendasi