

inNalar.com – Novel Gadis Kretek merupakan sebuah karya yang worth it untuk dibaca. Persis seperti judulnya, novel ini mengangkat dua objek utama yakni seorang gadis dan kretek. Novel karya Ratih Kumala ini telah diterjemahkan kedalam 3 bahasa, lho. Tiga bahasa itu adalah Inggris, Mesir, dan Jerman. Tidak hanya diminati di Indonesia saja, novel ini juga sudah menjadi bacaan orang-orang di luar negeri. Penasaran dengan bukunya?
Novel ini diterbitkan oleh penerbit mayor, PT. Gramedia Pustaka Utama. Pertama kali terbit pada Maret 2012, novel ini sudah sampai pada cetakan keempat pada Oktober 2019. Ratih Kumala dalam novel Gadis Kretek ini akan membawa kamu berkelana menelusuri perkembangan industri kretek pada zaman dahulu, perihal promosi, dan persaingan. Semua cerita itu akan dirangkum dalam total 274 halaman. Ratih Kumala juga akan menyuguhkan kisah cinta yang akan mengobrak-abrik perasaan kamu. Novel ini kaya akan wangi tembakau, sarat dengan aroma cinta. Berikut adalah alasan kenapa kalian harus membaca novel Gadis Kretek.
Baca Juga: Kenali Lebih Dalam Jenis-jenis Kanker Payudara
Tiga Pewaris Industri Kretek dengan Tingkah Lucunya
Cerita ini diawali dengan kisah tiga anak lelaki pewaris sebuah perusahaan kretek besar bernama Djagad Raja. Sama seperti kebanyakan kakak beradik lainnya, kehidupan mereka dipenuhi dengan tingkah jahil, kenakalan, pertengkaran, lalu kemudian bisa menjadi akrab. Novel ini menyuguhkan perbedaan karakter tiga bersaudara yang kemudian akan saling melengkapi. Tegas, si sulung yang sifat perfeksionis. Karim, si anak tengah dengan kepala yang paling dingin, sehingga ia kerap kali menjadi penengah atau pelerai pertikaian si sulung dan si bungsu. Lebas, si bungsu yang ingin hidup lebih bebas dan sering kali berbuat sesukanya.
Alur Maju Mundur
Alur maju mundur memang paling bisa membuat penasaran. Membuat pembaca menumpuk pertanyaan di kepala masing-masing. Kamu akan dibawa mengelilingi pelosok Jawa di masa kini dan zaman dahulu.
Pemahaman Tentang Asal Muasal Kretek
Kamu akan dibawa ke Kudus dalam sebuah percakapan antara tokoh bernama Soeraja dan Dasiyah (Jeng Yah). Pemahaman soal asal muasal kretek yang awalnya dibuat oleh seseorang bernama Hadji Djamari pada tahun 1880 an. Hadi Djamari berusaha berusaha memasukkan cengkeh ke dalam paru-parunya sebagai obat sesak napas. Cengkeh itu dicampur dengan tembakau lalu dibungkus dengan klobot. Ketika ujungnya dibakar maka terdengar suara kretek-kretek.
Belajar Produksi Kretek
Novel ini akan mengajarkan kamu bagaimana produksi kretek mulai dari bahan-bahan utama, peralatan, dan yang paling penting: saus untuk kretek. Campuran saus lah yang membedakan rasa kretek dari setiap pabrik.
Transformasi Promosi atau Pengiklanan
Tulisan-tulisan yang melekat pada bungkus rokok saat ini merupakan hasil transformasi upaya promosi dari puluhan tahun lalu. Mula-mulanya pemilik produksi kretek hanya menulis tangan seadanya pada kertas lalu menempelkannya, biasanya menuliskan merek dan kata-kata persuasif agar orang tertarik membeli. Kemampuan menulis yang masih minim pada tahun 1900 an menghasilkan tulisan seadanya pula. Kemudian upaya itu ditingkatkan lagi dengan member upah pada ahli tulis untuk menambah nilai estetika. Seiring perkembangan zaman dengan munculnya usaha-usaha printing, maka soal promosi melalui bungkus kretek atau rokok juga mulai menyesuaikan.
Tak hanya itu, terlihat bagaimana para pengusaha kretek menggunakan trend sebagai bagian dari promosi. Pada awal masa kemerdekaan, tokoh bernama Idroes Moeria memberi merek Merdeka!. Untuk menyaingi merek tersebut, seorang penyaing bernama Soedjagad memberi merek Proklamasi untuk kreteknya.
Baca Juga: Al Quran Surah Al Baqarah Mulai Ayat 141 Hingga 150 Lengkap dengan Terjemahan Bahasa Indonesia
Promosi Berbuah Celaka
Setiap pengusaha pasti ingin usahanya berhasil. Seorang pemuda bernama Soeraja berniat mendirikan pabrik rokok demi memantaskan diri untuk menikahi pujaan hatinya Dasiyah (Jeng Yah). Ia berusaha keras sampai suatu hari menemukan cara tepat untuk mengembangkan pabrik dengan mencari pemodal. Akhirnya ia mendapatkan modal dari sebuah partai yang namanya besar pada tahun 1950an, Partai Komunis Indonesia sebagai pemodal utama. Soeraja kemudian merasakan kejayaan selama beberapa waktu bersama Kretek Tjap Arit Merah sampai akhirnya terjadi pengganyangan. Semua yang terlibat dengan PKI dicari-cari, banyak dari mereka yang terlibat mulai mengambang dan membusuk di sungai. Atas kejadian itu, Soeraja harus melarikan diri dari kota bahkan harus melepaskan impiannya untuk menjadi suami bagi Jeng Yah.
Cinta dan Pengkhianatan
Novel ini menyuguhkan cinta segi tiga dalam dua generasi. Generasi pertama ada Idroes Moeria dan Soedjagad yang awalnya berteman dekat kemudian memperebutkan Roemaisa. Roemaisa pada akhirnya memilih Idroes Moeria.Pada generasi kedua terdapat Dasiyah (Jeng Yah) putri dari Idroes Moreia yang saling mencintai dengan seorang lelaki bernama Soeraja. Mereka hampir saja menikah jika saja pembantaian tak terjadi. Soeraja melarikan diri ke Kudus lalu bertemu dengan Soedjagad, saingan dari ayah Jeng Yah. Lama di sana, Soeraja kemudian memutuskan untuk menikah dengan Purwanti putrid Soedjagad. Soedjagad dan Soeraja kemudian menjadi mitra pengusaha rokok dengan merek Djagad Raja. Mendengar itu, Jeng Yah yang selalu menunggui kekasihnya tentu patah hati berkeping-keping.
Sebuah Rahasia Kejayaan Pabrik Kretek Djagad Raja
Cerita ini dimulai dengan Soeraja tua yang hampir mendapati ajalnya. Ia kerap memanggil-manggil nama Jeng Yah mantan kekasihnya. Tiga anaknya; Tegar, Karim, dan Lebas mengira bahwa ayah mereka merindukan sang mantan kekasih. Dari sanalah perjalanan tiga pewaris itu dimulai untuk menjelajahi sejarah panjang dari pabrik mereka, membawa mereka menelusuri pelosok Jawa dan sejarah kretek di Jawa. Mereka akhirnya tahu, barangkali memang Soeraja benar-benar merindukan Jeng Yah, namun sesuatu yang lebih besar dari itu. Soeraja telah melakukan kecurangan besar yang membuat usaha kreteknya seberhasil itu.***