

inNalar.com – Para pemimpin Uni Eropa telah melakukan pertemuan informal Dewan Eropa di Versailles, Prancis pada Kamis 10 Maret 2022 waktu setempat. Pertemuan tersebut berfokus pada pembicaraan mengenai pendekatan Eropa dalam krisis Rusia-Ukraina.
Dalam pertemuan tersebut, para Petinggi Uni Eropa menyambut permintaan Ukraina untuk menjadi anggota, namun harus melalui proses yang tentu akan memakan waktu bertahun-tahun. Bukan lewat “jalur cepat” seperti yang telah diminta oleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.
Dewan Eropa juga mengutuk agresi militer Rusia di Ukraina, dan menegaskan kembali dukungannya terhadap Ukraina dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada Kamis 10 Maret 2022 waktu setempat, di tengah-tengah pertemuan puncak yang akan diselenggarakan selama dua hari di Istana Versailles, Prancis.
Baca Juga: Latar Belakang Penerapan Cultuurstelsel di Hindia-Belanda, Benarkah untuk Menutupi Hutang?
Menanggapi pernyataan resmi Zelensky terkait keanggotaan Ukraina di Uni Eropa, yang diajukan pada 28 Februari 2022, para pejabat Uni Eropa telah menyatakan bahwa Ukraina adalah bagian dari keluarga Uni Eropa.
Dikutip inNalar.com dari laman resmi UE, Uni Eropa menyatakan, “Dewan telah bertindak cepat dan mengundang Komisi untuk menyampaikan pendapatnya tentang permohonan ini sesuai dengan ketentuan yang relevan dari Perjanjian,”.
“Menunggu ini dan tanpa penundaan, kami akan lebih memperkuat ikatan kami dan memperdalam kemitraan kami untuk mendukung Ukraina dalam mengejar jalur Eropanya.” Tutup pernyataan tersebut.
Baca Juga: Ramadhan 2022 Mengaji: Al Quran Surah An-Nisa’ Ayat 1 Sampai 10 Disertai Terjemahannya
Pernyataan itu diterbitkan pukul 03.00 pagi waktu setempat setelah melakukan pertemuan selama berjam-jam. Uni Eropa juga berjanji untuk melindungi pengungsi Ukraina, membantu pembangunan kembali Ukraina setelah perang, dan meningkatkan tekanan ekonomi pada Rusia dan Belarusia, sambil menyerukan Rusia untuk segera mundur dari Ukraina tanpa syarat.
Sebelumnya pada 2014, Ukraina dan Uni Eropa diketahui telah menandatangani perjanjian asosiasi yang dianggap sebagai pendahulu aksesi Uni Eropa. Setelah invasi Rusia bulan lalu, Zelensky telah berulang kali meminta Uni Eropa untuk mengakui Ukraina segera dibawah prosedur khusus baru.
Para pemimpin Uni Eropa telah menyatakan dukungannya untuk Ukraina dan permintaan untuk menjadi anggota, sembari menekankan bahwa jalan resmi untuk masuk sebagai anggota akan melalui proses yang panjang dan rumit. Beberapa negara Uni Eropa juga telah menyuarakan dukungan mereka untuk aksesi langsung Ukraina dalam beberapa pekan terakhir.
Baca Juga: Jadwal Imsakiyah dan Buka Puasa Wilayah Indramayu Sebulan Ramadhan 2022 Full, Disertai Niat Puasa
Presiden Bulgaria, Republik Ceko, Estonia, Latvia, Lithuania, Polandia, Slovakia, dan Slovenia juga telah menerbitkan surat terbuka pada 28 Februari 2022, yang menyerukan agar Uni Eropa segera mengakui Ukraina.
“Kami menyerukan kepada Negara-negara Anggota Uni Eropa untuk mengkonsolidasikan dukungan politik tertinggi ke Ukraina, dan memungkinkan lembaga-lembaga Uni Eropa untuk melakukan langkah-langkah untuk segera memberikan Ukraina status negara calon (anggota) Uni Eropa dan membuka proses negosiasi,” tulis mereka.
Para pemimpin negara-negara itu juga telah mengulangi seruan mereka di pertemuan Versailles. “Ada orang-orang yang berpikir bahwa … Ukraina berjuang untuk hidup mereka dan (pantas) menerima pesan politik yang kuat … dan mereka yang masih memperdebatkan prosedurnya,” kata Perdana Menteri Slovenia Janez Jansa.
Sedangkan Belanda dan Jerman, tidak setuju dengan gagasan untuk mempercepat proses keanggotaan Ukraina. Dikutip inNalar.com dari Reuters, Kanselir Jerman Olaf Scholz telah menolak proposal tersebut, dengan mengatakan, “Sangat penting bagi kita untuk terus mengejar hal-hal yang memang telah kita putuskan di masa lalu.”
Dan menjelang pertemuan di Versailles tersebut, Perdana Menteri Belanda Mark Rutte mengatakan bahwa ada konsensus di Eropa Barat terhadap proses keanggotaan yang cepat. Rutte juga mengatakan bahwa Uni Eropa memperlakukan aplikasi Ukraina dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Tetapi hal tersebut akan memakan waktu berbulan-bulan, bahkan mungkin bertahun-tahun. “Yang penting adalah bahwa Ukraina telah meminta untuk menjadi anggota Uni Eropa… tidak ada prosedur jalur cepat untuk menjadi anggota Uni Eropa,” ujar Rutte.
Baca Juga: BTS Sampaikan Pesan Mengharukan untuk ARMY di Konser PTD On Stage Seoul 2022
Sebuah negara yang ingin bergabung dengan Uni Eropa harus memenuhi serangkaian persyaratan yang dikenal sebagai “kriteria Kopenhagen”, termasuk mencakup hal-hal seperti menghormati demokrasi dan supremasi hukum.
Kemudian setelah itu dapat mengajukan aplikasi ke Dewan Eropa, yang pada gilirannya meminta Komisi Eropa untuk mempertimbangkan apakah memenuhi kriteria tersebut. Jika demikian, Dewan Eropa harus menyusun kerangka kerja untuk negosiasi, yang tidak dapat dimulai sampai 27 negara anggota setuju. Negosiasi mencakup 35 bab undang-undang Uni Eropa, dikelompokkan menjadi enam kelompok.
Setelah selesai, Komisi kemudian merekomendasikan negara kandidat untuk keanggotaan, dan perjanjian yang dihasilkan harus disetujui dengan suara bulat di Dewan, suara mayoritas di Parlemen Eropa dan oleh parlemen nasional dari setiap negara anggota Uni Eropa.
Baca Juga: Bisa Jadi Haram, Begini Penjelasan Buya Yahya mengenai Hukum Menangisi Orang yang Meninggal Dunia
Negosiasi aksesi memakan waktu rata-rata lima tahun. Negara-negara tercepat dalam merundingkan proses tersebut adalah Austria, Finlandia dan Swedia yang hanya dalam waktu kurang dari dua tahun. sementara Kroasia membutuhkan waktu hampir delapan tahun.
Sementara Lima negara kandidat yang saat ini sedang dalam proses mengintegrasikan undang-undang Uni Eropa ke dalam hukum nasional adalah Albania, Montenegro, Makedonia Utara, Serbia dan Turki (yang memulai negosiasi pada 2005). Dua lainnya yaitu Kosovo dan Bosnia Herzegovina, yang diklasifikasikan sebagai “kandidat potensial” karena mereka belum memenuhi kriteria keanggotaan.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi