

inNalar.com – Setiap negara memiliki kebijakan masing-masing dalam mengelola perkonomian mereka, namun perlu kita ketahui bahwa beberapa negara menerapkan kebijakan yang terdengar aneh bagi orang awam.
Salah satu kasusnya adalah ada negara yang sengaja melemahkan nilai mata uangnya. Padahal menurut pandangan orang awam, semakin kuat mata uang maka semakin bagus.
Saat mata uang menguat, kita bisa membeli barang impor dengan harga yang murah, mulai dari bahan bakar minyak, bahan baku industri termasuk barang-barang bermerek dari luar negeri.
Baca Juga: Nasib Sopir Truk Pada Tragedi Pemotor Lawan Arah di Lenteng Agung Jakarta Selatan: Ini Faktanya!
Kebijakan melemahkan nilai mata uang ini disebut devaluasi, hal ini dilakukan oleh bank sentral suatu negara untuk mendapatkan keuntungan dari nilai tukar.
Misalnya, hari ini nilai tukar rupiah terhadap USD adalah Rp15.000, jika nilai tukarnya menjadi Rp14.000 maka artinya rupiah menguat terhadap USD. Sedangkan jika rupiah naik menjadi Rp.16000 itu artinya nilai tukar rupiah melemah terhadap USD.
Devaluasi ini pernah dilakukan oleh Jepang, China dan Inggris untuk memperbaiki perekonomian mereka. Bahkan Indonesia juga pernah melakukan kebijakan ini.
Baca Juga: Hanya 2 Jam dari Singkawang, Desa Terindah di Kalimantan Barat Ini Punya Panorama Menakjubkan
Devaluasi sendiri memiliki beberapa keuntungan, di antaranya:
1. Agar negaranya bisa unggul dalam perdagangan internasional
Saat nilai mata uang sebuah negara turun maka nilai ekspor dari negara tersebut akan ikut murah, sehingga meningkatkan minat dari negara lain untuk melakukan pembelian.
Negara eksportir tersebut tentu bisa meraup untung besar serta unggul dalam persaingan dagang internasional.
Baca Juga: Pesona Kampung Anti Mainstream di Gunungkidul Ini Bikin Iri Setengah Mati! Intip Fakta Menariknyai
2. Meringankan beban utang
Kebijakan devaluasi bisa dilakukan untuk meringankan beban utang negara asal. Hal ini tidak hanya berlaku pada utang negara, namun berdampak juga pada utang perusahaan dan utang pribadi dalam mata uang negara asal.
Jepang melakukan devaluasi karena dalam 30 tahun terakhir industri mereka terancam oleh produk-produk China. Efek dari nilai yen yang terus menguat, barang-barang yang diproduksi Jepang semakin mahal dan sepi peminat.
Akhirnya di tahun 2012 Jepang memutuskan untuk melakukan devaluasi demi menyelamatkan perekonomian mereka, khususnya di industri mesin.
Akibat dari kebijakan ini, perusahaan besar seperti Yokogawa, Panasonic dan Keyence mendapatkan untung besar, karena bisa bersaing harga di pasar Eropa dan Amerika.
Selain Jepang, negara yang pernah melakukan devalauasi adalah China. Pada tahun2015 Bank Sentral China melakukan devaluasi terhadap yuan sebesar 3%, hasilnya produk China terlihat lebih menarik di mata negara lain.
Bukan hanya itu, efek devaluasi membuat warga China “terpaksa” menggunakan barang lokal karena harga barang impor jadi lebih mahal.***