

inNalar.com – Berikut ini teks khutbah Jumat terbaru edisi tanggal 20 Januari 2023.
Pada teks khutbah Jumat terbaru edisi 20 Januari 2023 ini akan membahas mengenai etika berprasangka.
Sehingga teks khutbah Jumat edisi 20 Januari 2023 ini sangat sesuai di bawakan saat sholat Jumat.
Anda dapat mempergunakan teks khutbah Jumat ini pada momen sholat Jumat maupun dalam kegiatan lainnya.
Dengan menyimak khutbah terbaru edisi 20 Januari 2023 ini, Anda akan memperoleh pemahaman baru tentang etika dalam berprasangka.
Melalui teks khutbah ini, Anda diajak mengingat kembali tentang etika dalam berprasangka.
Pemahaman tentang etika berprasangka ini akan membantu Anda dalam memperkuat ketakwaan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Selain juga memahami tentang tata cara dan etika berprasangka yang baik dan benar.
Baca Juga: Nagita Slavina Banjir Pujian saat Pakai Dress Seharga Rp51 Juta, Netizen: Cantik dan Berkelas
Dilansir inNalar.com dari laman Tebuireng Online, inilah penjabaran tentang khutbah Jumat terbaru edisi 20 Januari 2023 tentang etika berprasangka.
Teks Khutbah Jumat
Di dalam kitab Adab ad-Dunya wa ad-Din, ada sebuah kisah tentang Thalhah bin Abdurrahman bin Auf, beliau adalah orang kaya dan paling dermawan pada masanya.
Hampir setiap hari para sahabatnya datang bersilaturahmi ke rumah Thalhah. Thalhah pun lalu menjamu mereka, memberikan bantuan sekedarnya.
Namun, ketika Thalhah hartanya habis, tidak seorang pun sahabatnya yang datang. Bahkan seolah mengenal pun tidak.
Melihat kenyataan yang terjadi, suatu hari istrinya berkata kepada Thalhah: “Aku tidak melihat kaum yang lebih buruk daripada sahabat-sahabatmu.”
Mendengar perkataan sang istri, Thalhah pun terkejut. “Mengapa engkau berkata demikian?” ujar Thalhah.
Sang istri memberikan alasan, “Betapa tidak, ketika engkau masih kaya, setiap hari temanmu datang berkunjung ke tempat ini.”
“Akan tetapi disaat kau jatuh miskin, tidak satu pun sahabatmu bertandang ke sini. Bahkan seolah-olah tidak mengenalmu,” ucap sang istri.
Baca Juga: Prakiraan Cuaca Surabaya Hari Ini, Jumat 13 Januari 2023 BMKG: Hujan sejak Siang hingga Malam Hari
Mendengar penjelasan sang istri, Thalhah pun paham. Thalhah pun menjawab, bahwa ia memiliki pendapat yang berbeda dan menganggap sahabatnya adalah sahabat yang baik.
“Mereka datang berkunjung ke rumah kita ketika kita mampu memberikan jamuan dan membantu mereka,” lanjut Thalhah.
“Namun, ketika kita miskin, mereka tidak datang ke rumah kita karena mereka paham, kita belum bisa menjamu mereka dan mereka tidak ingin membebani kita,” pungkas Thalhah.
Kisah tentang Thalhah bin Abdurrahman bin Auf yang dinukil dari kitab karya Imam al-Mawardi ini mencerminkan suatu karakter kepribadian yang luar biasa.
Imam al-Mawardi dalam karyanya tersebut mengagumi kemuliaan seorang Thalhah yang mentakwilkan, menganggap sikap kurang baik para sahabatnya sebagai suatu kebaikan.
Sikap yang mungkin saja bagi orang lain dianggap sebagai suatu pengkhianatan, tetapi bagi Thalhah dianggap sebagai suatu kesetiaan.
Sikap ini adalah karakter orang-orang mulia, karakter orang-orang baik. Sebab, orang baik itu tidak melihat sesuatu kecuali yang dilihat itu adalah kebaikan.
اَلْخَيْرُ لَايَرَى شَيْئًا إِلَّاخَيْرًا
Artinya, seseorang yang baik tidaklah melihat kepada sesuatu melainkan yang dilihatnya ialah sisi-sisi yang baik.
Karena hal inilah sangat penting untuk kita berpikir positif, berprasangka yang baik, atau husnudzon. Nabi Muhammad SAW bersabda:
أَفْضَلُ الْأَعْمَالِ حُسْنُ ظَنِّ بِاللهِ وَحُسْنُ ظَنِّ بِعِبَادِ اللهِ
“Seutama-utamanya amal ialah berprasangka baik kepada Allah dan berprasangka baik kepada hamba-hamba Allah.”
Amalan utama yang pertama adalah husnudzon billah. Berprasangka baik kepada Allah. Dalam sebuah riwayat hadits qudsi, Allah SWT berfirman:
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ
“Aku (Allah) sesuai dengan prasangka hamba-Ku terhadap Aku.”
Baca Juga: PSSI Resmi Menghentikan Kompetisi Liga 2 2022/2023, Ini Sederet Alasan yang Jadi Pertimbangan
Dengan kata lain, ketika seorang hamba itu berprasangka baik kepada Allah maka Allah pun mewujudkan dan merealisasikan kebaikan-kebaikan yang ada di dalam prasangka hamba tersebut.
Namun sebaliknya, ketika seorang hamba itu suudzon, berprasangka buruk kepada Allah maka Allah pun mewujudkan dan merealisasikan keburukan-keburukan yang ada dalam prasangka hamba tersebut.
Maka dari itu, sudah sepantasnya seorang hamba itu selalu husnudzon, selalu berprasangka baik.
Supaya nantinya kebaikan yang ada dalam prasangka hamba itu diwujudkan dan direalisasikan oleh Allah SWT.
Baca Juga: Peran Daisuke Sato saat Persib Bandung Kalahkan Persija Jakarta, Permainan Simpel Tapi Efektif!
Karena kita tidak tahu, terkadang apa yang kita benci justru adalah sebuah kebaikan. Sebaliknya, apa yang kita cinta justru adalah suatu keburukan.
Amalan utama yang kedua ialah husnudzon bi ‘ibadillah. Berprasangka baik terhadap hamba-hamba Allah.
Seperti apa yang dilakukan oleh Thalhah dalam kisah di atas. Barangkali, dalam menjalani kehidupan kita pernah diperlakukan dengan tidak menyenangkan oleh orang lain.
Suatu perlakuan yang membuat kita benci, jengkel, dan sakit hati. Sehingga membuat prasangka negatif terhadap orang tersebut.
Baca Juga: Link Live Streaming M4 Mobile Legends Hari Ini: Onic vs Echo
Suatu waktu jika orang berbuat baik, maka kita husnudzon. Sebaliknya, ketika orang berbuat tidak baik secara otomatis menjadi suudzon dan berprasangka yang tidak baik.
Orang yang selalu berpikir positif atau husnudzon, nantinya setiap langkahnya akan diiringi kebaikan-kebaikan pula. Hidupnya akan menjadi lebih tenang.
Sebaliknya, orang yang dipenuhi oleh suudzon atau prasangka negatif, nantinya hidupnya akan dipenuhi ketidaktenangan pula.
Semoga pembahasan tentang etika berprasangka ini menjadi renungan bagi kita semua.
Renungan untuk senantiasa berusaha menjadi muslim yang memiliki etika berprasangka yang baik dan benar.
Demikianlah teks khutbah Jumat terbaru edisi 20 Januari 2023 semoga dapat menjadi manfaat bagi umat muslim sekalian.
***