Naskah Khutbah Jumat Menyejukkan Hati Sesuai Kondisi Terkini Orang Mulai Kerja, Tema Kemuliaan Pekerja Keras

inNalar.com – Khutbah Jumat ini menyejukkan hati, menarik, dan sesuai dengan kondisi terkini yaitu dimana orang-orang sudah mulai bekerja kembali setelah libur lebaran, sebagaimana diketahui bahwa tahun ini pemerintah membolehkan mudik.

Setelah balik dari kampung halaman orang-orang akan mulai aktivitas sehari-hari masing-masing, terutama bagi yang memiliki pekerjaan. Materi pada naskah tersedia di artikel ini bertema cocok dan akan menambah semangat yaitu kemuliaan pekerja keras.

Khutbah Jumat yang disampaikan sepekan sekali harus menjadi momen memberikan nasehat tepat, sehingga pesan disampaikan bisa difahami masyarakat atau jamaah sholat saat itu, dan tidak sembarangan karena tanggung jawabnya akan berat, selain itu juga sia-sia.

Baca Juga: Khutbah Jumat Inspiratif Sesuai Kondisi Jama’ah yang Kembali Bekerja, Tema Istighfar Amalan Pembuka Rezeki

Tema kemuliaan pekerja keras menyampaikan wasiat agar para pencari nafkah lebih giat lagi setelah mengetahui keutamaannya, walaupun banting tulang, susah payah, tetapi harus dilaksanakan demi anak dan istri serta keluarga yang menanti di rumah.

Dikutip inNalar.com dari situs Khotbah Jumat, materi ini sesuai sekali disampaikan dalam pekan ini, dimana orang-orang baru memulai lagi pekerjaannya, baik di kantor, di pasar, yang berdagang, maapun mengajar, dan lain-lain. Naskah tersebut disusun oleh Rakimin Al-Jawiy Dosen Psikologi Islam UNUSIA Jakarta.

Khutbah I

الحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ التّقْوَى خَيْرَ الزَّادِ وَاللِّبَاسِ وَأَمَرَنَا أَنْ تَزَوَّدَ بِهَا لِيوْم الحِسَاب

أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ رَبُّ النَّاسِ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا حَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ المَوْصُوْفُ بِأَكْمَلِ صِفَاتِ الأَشْخَاصِ.

اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أجمعين وسَلّمْ تَسليمًا كَثِيرًا

أَمَّا بَعْدُ ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِىْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

Baca Juga: Khutbah Jumat Terbaru Pekan Ini, Cocok bagi yang Mulai Aktivitas Kerja, Tema Semangat Mencari Rezeki Halal

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Di tengah wabah Corona banyak kesusahan datang melanda. Tidak sedikit kini orang sulit mencari nafkah, mengalami PHK, bangkrut, hingga bertambahlah pengangguran-pengangguran baru. Namun, kondisi ini tak boleh membuat kita putus asa, apalagi sampai bermalas-malasan dalam bekerja dan berusaha.

Dari Muhammad bin Ashim, dia berkata, “Telah sampai berita padaku bahwa Umar bin Khattab radliyallahu ‘anh jika melihat pemuda yang membuatnya kagum maka ia akan menanyakan perihal anak itu, ‘Apakah anak itu memiliki pekerjaan? Jika dikatakan ‘Tidak’ maka ia akan berkata, ‘Telah jatuh satu derajat anak muda itu di mataku”.

Islam sangat menganjurkan kepada kita untuk bergerak dan berkarya selama hayat masih di kandung badan. Rasulullah mengingatkan agar umatnya senantiasa berusaha dan berhati-hati terhadap waktu luang. Waktu kosong bisa menjadi ladang subur bagi setan untuk menanamkan kemungkaran. Dengan demikian, bekerja adalah jalan lain untuk membendung kejahatan. Dengan kata lain, orang yang bekerja keras hakikatnya sedang merintis jalan kemuliaan.

Baca Juga: Khutbah Jumat Terbaru Cocok dengan Kondisi saat Ini, Tema Mengambil Hikmah dari Kisah Nabi Luth Alaihissalam

Berjuang, berkarya, berusaha, dan bekerja adalah keniscayaan dalam hidup, baik dalam keadaan susah maupun senang. Menurut Ibnu Atsir, bekerja termasuk bagian dari sunnah para nabi. Nabi Zakaria ‘alaihissalam adalah tukang kayu.

Nabi Daud ‘alaihissalam membuat baju besi dan menjualnya sendiri. Bahkan sebagaimana disampaikan oleh Rasulullah, Nabi Daud itu tidak akan makan kecuali dari hasil jerih payahnya sendiri. Siapa yang tidak mengenal Nabiyullah Daud ‘alaihissalam? Selain seorang nabi, beliau telah diberi oleh Allah subhanahu wata’ala kekuasaan dan harta yang melimpah.

Walau begitu, beliau tidak merasa gengsi untuk bekerja dengan tangannya sendiri guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Beliau tidak mengajarkan berpangku tangan dan mengharap belas kasih dari orang lain atau dari umat yang dipimpinnya.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Baca Juga: Khutbah Jumat Menyejukkan Hati di Akhir Bulan Syawal, Tema Lanjutkan Silaturahmi dan Jangan Diputus

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ

“Sungguh seorang dari kalian yang memanggul kayu bakar dengan punggungnya lebih baik baginya daripada dia meminta-minta kepada seseorang, baik orang itu memberinya atau menolaknya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Imam Ar-Raghib al-Ishfahani pernah berkata, “Siapa saja yang tidak mau berusaha dan bekerja maka nilai kemanusiaannya telah rusak bahkan nilai kebinatangannya, dan menjadi orang yang telah mati.”

Dalam kehidupan sehari-hari kita dapat mengambil contoh. Misalnya, masyarakat lebih menghargai tukang sayur keliling yang mampu menghidupi dirinya secara mandiri daripada pengangguran.

Baca Juga: Teks Khutbah Jumat dengan Tema Mau Lancar Rezeki dan Selamat di Akhirat? Takwa Kuncinya

Allah mengajarkan keseimbangan dalam kehidupan. Allah memberi kesempatan kepada manusia untuk bekerja mencari rezeki di siang hari, dan pada malam harinya digunakan untuk beristirahat dan mengumpulkan tenaga agar bisa kerja lagi pada esok harinya.

وَجَعَلْنَا ٱلَّيْلَ لِبَاسًا وَجَعَلْنَا ٱلنَّهَارَ مَعَاشًا

“Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian. Dan Kami jadikan siang untuk penghidupan.” (QS An-Naba: 10-11).

Tidak bekerja adalah sikap setan. Setan selalu membisikkan pada manusia agar meninggalkan usaha dan ikhtiar. Setan meniupkan rasa malas pada manusia agar manusia tidak berusaha, cukup menunggu sampai ketentuan takdir-Nya datang. Padahal rezeki harus dicari dengan kerja keras.

Orang yang dengan gigih bekerja keras, membanting tulang, mencari rezeki dari memeras keringat dan makan dari hasil itu, maka itu lebih baik dari makan hasil yang diperoleh dari harta warisan atau pemberian orang lain.

Baca Juga: Khutbah Jumat Bulan Syawal Singkat dan Menarik, Tema Menjadikan Al Quran sebagai Petunjuk

Orang yang senantiasa bergerak dan bekerja menandakan keimanan yang bersangkutan dalam kondisi aktif dan dinamis. Sebaliknya, mereka yang ‘menikmati’ bermalas-malasan alias gemar berpangku tangan, menandakan dirinya sedang dilanda impotensi iman. Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:

وَقُلِ ٱعْمَلُوا۟ فَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُۥ وَٱلْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS At-Taubah: 105).

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Baca Juga: Khutbah Jumat Singkat dan Mudah, Tema Indahnya Islam Sebagai Agama yang Sempurna

Firman Allah subhanahu wata’ala:

فَٱبْتَغُوا۟ عِندَ ٱللَّهِ ٱلرِّزْقَ وَٱعْبُدُوهُ وَٱشْكُرُوا۟ لَهُۥٓ ۖ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Maka carilah rezeki di sisi Allah, kemudian beribadah dan bersyukurlah kepada Allah. Hanya kepada Allah kamu akan dikembalikan.” (QS al-Ankabut:17).

Menurut ayat ini, rezeki harus diusahakan. Bertalian dengan ayat lain, Allah telah tegas menyatakan bahwa cara mendapat rezeki adalah dengan bekerja.

فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَٱبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Apabila telah ditunaikan shalat maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyaknya supaya kamu beruntung.” (QS Al-Jumu’ah:10).

Dalam rangka bekerja mencari nafkah, menurut riwayat al-Baihaqi dalam Syu’bul Iman ada empat prinsip etos kerja yang diajarkan Rasulullah. Keempat prinsip itu harus dimiliki kaum beriman, yakni:

Baca Juga: Inilah Teks Khutbah Jumat Singkat dengan Tema Begitu Mahalnya Hidayah

1. Bekerja dengan cara yang halal (thalaba ad-dunya halalan) 2. Bekerja demi menjaga diri supaya tidak menjadi beban hidup orang lain (ta’affufan an al-mas’alah)
3. Bekerja demi mencukupi kebutuhan keluarga (sa’yan ala iyalihi)
4. Bekerja untuk meringankan beban hidup tetangga (ta’aththufan ala jarihi).

Kemuliaan pekerjaan sungguh tidak bisa dilihat dari jenisnya. Setelah memenuhi empat prinsip di atas, nilai sebuah pekerjaan akan diukur dari kualitas niat (shahihatun fi an-niyat) dan pelaksanaannya (shahihatun fi at-tahshil). Itulah pekerjaan yang bernilai ibadah dan kelak akan mengantarkan pelakunya ke pintu surga.

Bahkan dalam berbagai hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa orang yang bekerja keras akan mendapat berbagai kemuliaan. Orang yang bekerja keras mencari nafkah, Allah akan mengampuni dosanya. Orang yang bekerja keras mencari nafkah untuk keluarganya termasuk fi sabilillah, dan orang yang bekerja keras untuk mencari nafkah, nanti di akhirat akan datang dengan wajah laksana bulan purnama

Demikian uraian khutbah singkat ini.Semoga kita termasuk orang-orang yang gemar bekerja keras. Dengan menjadi pekerja keras, Allah akan memuliakan dan menyukseskan kita dunia dan akhirat

Baca Juga: Khutbah Jumat Bulan Syawal Menggetarkan Hati Menyadarkan Jiwa, Tema Nasehat untuk Menjauhi Dukun

باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ والذِّكْرِ الحَكِيْمِ.

إنّهُ تَعاَلَى جَوّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِي وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ

اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.

اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.

رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ !

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Demikian khutbah Jumat terbaik dan terkini, semoga bermanfaat.***

Rekomendasi
REKOMENDASI UNTUK ANDA [Tutup]