

inNalar.com – dr. Djaja Surya Atmadja merupakan salah satu saksi ahli yang dihadirkan dalam sidang kasus kopi sianida tahun 2016.
Pakar forensik tersebut bertanggung jawab atas pemeriksaan jenazah Wayan Mirna Salihin yang meninggal dalam keadaan tidak wajar.
Usai diperiksa, dr. Djaja Surya Atmadja menemukan bahwa di dalam tubuh Mirna tidak ada gejala keracunan sianida.
Kadar sianida yang ada di tubuh Mirna sebesar 0,2 miligram per liter yang menurutnya terlalu rendah untuk menghilangkan nyawa seseorang.
Namun, pada akhirnya Jessica Wongso tetap dijatuhi vonis 20 tahun penjara karena diduga membunuh Mirna dengan kopi sianida.
Pada 28 September 2023, Netflix merilis dokumenter “Ice Cold: Murder, Coffee, and Jessica Wongso” dan melibatkan dr Djaja sebagai salah satu narasumber.
Baca Juga: Jessica Wongso Bebas Lebih Cepat, Ramalan Denny Darko Ungkap Hal Lebih Besar Ini Segera Terkuak
Dokumenter ini membuat kasus kopi sianida kembali viral dan hasil pemeriksaan dr Djaja pun tak luput dari sorotan.
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu pun menjabarkan tanda-tanda orang tewas karena sianida.
Menurut dr. Djaja, orang yang meninggal akibat sianida akan memiliki muka dan lebam mayat berwarna merah terang.
Hal itu diakibatkan dari sianida yang tidak didetoksifikasi, sehingga menghambat pernafasan.
Oleh karenanya, oksigen menumpuk di dalam darah dan tidak dapat digunakan untuk menutrisi jaringan.
Jika organ tidak mendapat asupan oksigen, maka orang bisa mengalami mati otak, kejang-kejang, sesak nafas, dan lain-lain.
Baca Juga: Taeil Resmi Keluar dari NCT hingga Sejumlah Anggota Unfollow Instagram Pribadinya, Ini Penyebabnya
Sementara itu, muka, bibir, dan tangan dari jenazah Mirna berwarna biru yang artinya Mirna justru kekurangan oksigen.
dr. Djaja menerangkan jika ia menekan bagian perut Mirna sebagai bagian dari prosedur resmi untuk mengetahui apakah ada aroma tertentu.
Bau sianida cenderung pahit dan khas.
Baca Juga: Eddy Hiariej Beberkan Bukti Mematikan Jessica Wongso Pelaku di Kasus Kopi Sianida
dr. Djaja yang juga merupakan ahli racun bisa mencium bau sianida dengan kadar 1 mg per 1 liter ppm dari jarak berapapun.
Apabila sianida mencapai 10 mg per liter, bisa membuat mabuk.
Walaupun perut Mirna sudah ditekan, ternyata tidak ada hawa/aroma apapun, sehingga dr. Djaja yakin kalau Mirna tewas bukan karena sianida.
Baca Juga: Mantan Kabareskrim Polri Tuntut Nama Jessica Wongso Harus Segera Dipulihkan, Fakta Baru Terungkap?
Gejala orang yang meninggal karena sianida ditandai dengan adanya metabolisme zat tersebut.
Sianida didetoksifikasi oleh hati menjadi tiosianat, dan selanjutnya disalurkan ke darah dan urin.
Sianida atau senyawa CN- biasa dimanfaatkan untuk membasmi serangga dan hama.
Baca Juga: Taeil Tersandung Kasus Pelecehan Seksual, SM Entertainment Angkat Bicara, Berujung Putus Kontrak?
Gabungan dari karbon dan nitrogen ini digunakan dalam industri plastik, tekstil, kertas, dan pertambangan.
Sianida juga bisa dihasilkan dari asap rokok dan pembakaran sampah.
Orang bisa keracunan sianida setelah melakukan kontak kulit, menghirup, dan menelan senyawa tersebut.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi