

InNalar.com – Militer Amerika Serikat menyebut Indonesia menjadi batu sandungan setelah gagal berperang melawan China.
China dan Amerika hingga saat ini masih mencoba merayu Indonesia dalam aspek apapun, termasuk dalam kekuatan militer.
Pasalnya, bekerja sama dengan Indonesia bakal menguntungkan negara lain karena Merah-Putih merupakan salah satu negara Asia yang memiliki pengaruh besar.
Baca Juga: Ada Sejak 10.000 SM, Pegunungan di Kalimantan Timur Ini Ternyata Simpan Segudang Harta Karun
Indonesia yang terletak di tepi selatan Laut China Selatan merupakan negara yang kaya dengan sumber daya dengan pertumbuhan ekonomi mencapai triliunan dollar.
Selain itu jumlah penduduknya yang besar, serta negara yang ungguldalam pertarungan geopolitik antara Amerika dan China untuk mendapatkan pengaruh di kawasan Asia.
Indonesia yang lokasinya yang strategis, dengan 17.000 pulau yang tersebar ribuan mil dari jalur laut penting, merupakan kebutuhan defensif.
Kedua belah pihak bersiap menghadapi kemungkinan konflik terkait Taiwan, pulau demokrasi yang diklaim China sebagai milik mereka.
Melansir dari The New York Times, namun disaat Amerika berusaha memperkuat hubungan di Asia untuk melawan pengaruh China, Indonesia tetap memilih berhati-hati.
Pasalnya, Indonesia tidak mau membuat China kesal mengingat kedua negara ini memang memiliki hubungan cukup apik.
Hal ini pun membuat pemerintahan Amerika Serikat kecewa berat terhadap Indonesia karena menetang militer Negeri Paman Sam.
Alasannya adalah karena Indonesia sangat menentang rencana Amerika Serikat untuk mempersenjatai sekutunya, Australia, dengan kapal selam bertenaga nuklir.
Pejabat Indonesia mengatakan mereka ingin memiliki zona bebas nuklir di sekitar wilayahnya.
Pasalnya kapal-kapal itu perlu berlayar melalui atau melewati perairan Indonesia dalam pertempuran antara AS dan China untuk memperebutkan Taiwan.
Sehingga netralitas Indonesia mempersulit upaya militer Amerika untuk memperluas kekuatannya di Asia untuk melawan China.
“Secara militer, akses ke pangkalan di Indonesia akan menjadi aset besar bagi pasukan Amerika Serikat dalam perang memperebutkan Taiwan, namun itu tidak akan terjadi,” ucap Hugh White selaku ahli strategi pertahanan Australia.***