Merinding! Begini Gambaran Jeritan Mayit Saat Dimandikan


inNalar.com
– Bagi yang masih hidup, tentunya ia tak akan bisa lagi mendengar suara seseorang ketika sudah menjadi mayit.

Akan tetapi bagi yang ingin menelusurinya, sebenarnya kurang lebih terdapat gambaran jeritan jenazah tersebut terutama ketika dimandikan.

Tentu saja suara tersebut tak dapat didengarkan lagi oleh kita yang masih hidup di dunia.

Baca Juga: CPNS 2024 Dibuka Bulan Ini, Begini Cara Buat SKCK Untuk Dokumen Pendaftaran CPNS

Meski begitu, sebenarnya terdapat gambaran jeritan jenazah saat dimandikan yang pernah dijelaskan oleh Rasulullah SAW.

Melansir kanal YouTube Petunjuk Iman, berikut penjelasan suara mayit tersebut.

Berdasarkan satu hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah RA, pada saat itu ia tengah menunggu Rasulullah pulang ke rumah.

Baca Juga: BURUAN DAFTAR! Ini 8 Formasi CPNS 2024 yang Dibuka Untuk Lulusan SMA dan SMK, FRESH GRADUATE PRIORITAS

Dalam rangka menyambut kedatangannya, maka Aisyah mengucapkan salam dan kemudian berdiri pada saat kekasih Allah tersebut tiba.

Namun Rasulullah justru mengucapkan, “duduklah di tempatmu tidak usah berdiri wahai Umul mukminin”, dan Rasulullah kemudian turun duduk bersama Aisyah lalu kemudian meletakkan kepalanya di pangkuan istrinya tersebut.

Aisah lantas mencari uban pada jenggot Rasulullah dan menemukan 19 helai rambut yang sudah memutih.

Baca Juga: Lowongan CPNS Kejaksaan 2024 Dibuka Untuk Lulusan SMA dan SMK, Ini Dokumen yang Harus Disiapkan

Berikutnya, Aisyah justru berfikir, sesungguhnya baginda akan meninggalkan dunia ini sebelum aku. Sehingga tetaplah satu umat yang ditinggalkan oleh Nabinya.

Berfikiran seperti itu, maka membuat Aisyah menangis sehingga air mata tersebut mengalir dan menganai Rasulullah yang tengah tidur di pangkuannya.

Sadar terkena air mata istrinya, Rasulullah kemudian terbangun dari tidurnya dan bertanya, “wahai Umul mukminin, apa yang membuatmu menangis?”

Aisyah kemudian menjawab pada Rasulullah tentang apa yang ia rasakan sebelumnya ketika dirinya melihat uban yang menempel pada kekasih Allah tersebut.

Mendengar hal tersebut, Rasulullah bertanya, “Tahukah kamu, kondisi apakah yang paling menyusahkan bagi mayit?”

“Tidak ada kondisi yang paling menyusahkan atas diri mayit dari saat keluar dari rumahnya, anak-anak yang ditinggalkan berada di belakangnya, serta menangisi kepergiannya,”

“Itu memang menyakitkan, tapi masih ada lagi yang jalan pedih dari itu,” sahut Rasulullah ﷺ.

“Tidak ada kondisi yang lebih berat atas diri mayit dari saat dia dimasukkan dalam liang lahat dan dikubur dibawah tanah, para kerabat, anak dan istrinya meninggalkannya pulang. Setelah itu datanglah Malaikat Munkar dan Nakir dalam kuburnya,” ujar Aisyah.

Mendengar jawaban istrinya, Rasulullah tersenyum simpul , lantas menjelaskan bahwa sesungguhnya saat yang paling berat bagi mayit adalah ketika datangnya “Tukang Memandikan mayit.” Pemandi jenazah biasanya akan melepaskan cincin yang dipakai si mayit, melepaskan pakaiannya kemudian memandikannya. Saat itu, ruh akan menjerit kuat dimana suaranya dapat didengar oleh seluruh makhluk kecuali jin dan manusia.

“Apa yang diserukan oleh ruh itu, ya Rasulullah?“ tanya Aisyah.

“Hai tukang memandikan, demi Allah aku memohon kepadamu agar engkau mencopot pakaianku dengan pelan-pelan, karena sesungguhnya saat ini aku sedang istirahat dari sakitnya pencabutan nyawa dari Malaikat Maut,“ begitu ungkap Rasulullah ﷺ.

Aisyah kemudian semakin penasaran, “Lalu apa yang diserukan lagi oleh ruh?” tanya Aisyah lagi.

“Hai tukang memandikan, demi Allah jangan engkau tuangkan air panas, jangan engkau gunakan air panas dan jangan pula air dingin, sesungguhnya jasadku telah terbakar sebab dicabutnya nyawaku,” papar Rasulullah.

“Lalu ketika dimandikan, apa yang diserukan oleh ruh itu?” tanya Aisyah lagi.

Dan ketika dimandikan, ruh itu berkata,“Demi Allah, hai tukang memandikan, janganlah engkau pegang diriku terlalu kuat, sesungguhnya jasadku masih terluka karena keluarnya nyawa,” tutur Rasulullah ﷺ.

Itulah gambaran jeritan mayit saat dimandikan.

Memang terasa pedih, namun itulah yang Rasulullah gambarkan dan agar para umatnya mengetahuinya.

***

 

Rekomendasi