Menjadi Istri Presiden Soeharto, Siti Hartinah Tidak Pernah Mengeluh Akan Nasibnya, Pernah Menjual Batik?

inNalar.com – Setelah menggelar pernikahan di saat negara dilanda peperangan, kisah pernikahan Presiden Soeharto dan sang istri Siti Hartinah menjadi sesuatu yang menarik. 

Didasari tak saling cinta pada saat awal pernikahan dimana Soeharto dikenal kan dengan Siti Hartinah melewati sang bibi. 

Saat menjadi istri dari Soeharto, Siti Hartinah mempunyai nama panggilan yaitu Ibu Tien Soeharto. 

Baca Juga: Kucuran Rp220,6 Miliar, Pembangunan Jembatan di Kalimantan Timur Mangkrak Sejak Tahun 2014, Benarkah?

Lahir dari pasangan RM Soemoharjomo dan R. Aj. Hatmanti pada 23 Agustus 1923 di Surakarta sebagai anak kedua dari sepuluh bersaudara.  

Sering berpindah-pindah merupakan hal yang biasa bagi Siti Hartinah karena tugas sang orang tua. 

Perpindahan pertamanya saat berumur tiga tahun karena sang ayah ditugaskan ke Jumapolo sebuah kota di Kecamatan Karanganyar. 

Baca Juga: Rampung Tahun 2023, Smelter Baru di Maluku Utara Kapasitasnya 40.500 TNi, saat Ini dalam Tahap…

Lalu berlanjut ke Matesih di Kabupaten Karanganyar yang berada di kaki Gunung Lawu dan berpindah kembali ke sebuah daerah yaitu Kerjo. 

Masa remaja Ibu Tien aktif dalam Laskar Putri Indonesia dan Palang Merah Indonesia saat mempertahankan kemerdekaan. 

Pada menjabat sebagai First Lady Indonesia beliau melahirkan beberapa proyek monumental seperti Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dan Yayasan Harapan Kita. 

Baca Juga: 12 Tahun Tak Tembus, Iron Dome Israel Jebol Gegara Strategi Cerdas Hamas, Dunia Mendadak Dibikin Melongo!

Dari pernikahan tersebut pasangan ini dikaruniai oleh enam orang anak, tiga laki-laki dan tiga anak perempuan. 

Ibu Tien sentiasa berada disamping Soeharto tanpa pernah mengeluh akan kondisi yang dihadapi walaupun saat kehamilan pertamanya. 

Kehamilan pertama Ibu Tien bersamaan dengan terjadinya Agresi Militer Belanda II yang membuat Soeharto harus meninggalkan sang istri.

Dilansir dari Perpusnas, saat itu Ibu Tien membutuhkan dekat dengan suami namun takdir berkata lain dan memahami tugas sang suami sehingga ia tidak mengeluh atas nasibnya. 

Semasa menjadi istri dari seorang Panglima Komando Strategi Angkatan Darat (Kostrad) membuat Ibu Tien hidup dengan mengandalkan gaji sang suami yang diakui cukup berat. 

Namun Ibu Tien tak pernah mengeluh dan dalam mengatasinya beliau membuat kain batik yang dijual kepada kerabatnya untuk mencukupi kehidupan keluarganya.*** 

 

Rekomendasi