

inNalar.com – Jembatan Hong Kong–Zhuhai–Macao Bridge (HZMB) ini dibangun oleh China selama sembilan tahun.
Mega proyek infrastruktur jembatan ini menghubungkan tiga wilayah utama: Hong Kong, Zhuhai, dan Makau di China.
Dengan panjang mencapai 54,7 kilometer atau sekitar 34 mil, jembatan terpanjang yang ada di China ini menyatukan ketiga kota tersebut, sesuai dengan namanya.
Baca Juga: Telan Biaya Rp 4,2 triliun, China Sulap Tambang Terbengkalai Jadi Hotel Bawah Tanah Pertama di Dunia
Hebatnya, HZMB tidak hanya berdiri di atas laut, tetapi juga mencakup terowongan bawah laut sepanjang 6,7 kilometer (4,1 mil).
Terowongan ini melintasi muara Sungai Mutiara di antara ketiga kota tersebut. Desainnya yang unik dengan terowongan bawah laut dibuat untuk menjaga kelancaran jalur lalu lintas kapal.
Terowongan bawah laut ini tercatat sebagai yang terpanjang di dunia.
Ton baja yang dibutuhkan 60 kali dari pembangunan Menara Eiffel
Beberapa sumber menyebutkan panjang HZMB mencapai 34,1 mil (55 km), sementara situs resmi HZMB mencatat panjangnya adalah 26 mil (42 km).
Sebagai perbandingan, Jembatan Mackinac dan Golden Gate di Amerika Serikat yang masing-masing memiliki panjang ‘hanya’ 5 mil (8 km) dan 1,7 mil (2,7 km).
Baca Juga: Tetap Kokoh Meski Diterpa Gempa Dahsyat dan Perang Dunia, Inilah Bangunan Masjid Tertua di Jepang
Proyek ini membutuhkan sekitar 420.000 ton baja dalam pembangunannya.
Jika dibandingkan,jumlah tersebut setara dengan bahan untuk membangun sekitar 60 Menara Eiffel.
Dana yang dibutuhkan mencapai triliunan
Proyek pembangunan ini menelan biaya sebesar 20 miliar dolar AS (sekitar Rp303,94 triliun).
Bagian utama jembatan menghabiskan dana sekitar 6,92 miliar dolar AS (sekitar Rp10,5 triliun), yang meningkat 25% dari perkiraan awal.
Awalnya, proyek ini dijadwalkan rampung pada 2016, namun terjadi penundaan akibat kekurangan material dan tenaga kerja.
Pangkas waktu 6 kali lebih cepat
Keberadaan jambatan ini diyakini mampu memangkas waktu perjalanan dari Hong Kong ke Zhuhai secara signifikan, dari tiga jam menjadi hanya 30 menit.
Pejabat setempat menyebut bahwa jembatan ini tidak hanya akan menghemat waktu perjalanan tetapi juga memperkuat integrasi wilayah.
Sektor logistik dan pariwisata berharap adanya pertumbuhan signifikan seiring dengan rampungnya proyek infrastruktur ini.
Proyek ini dirancang oleh pemerintah Tiongkok sebagai upaya bersaing dengan pusat-pusat ekonomi utama dunia seperti San Francisco, New York, dan Tokyo.
Dengan harapan kawasan ekonomi ini dapat berkembang menjadi pusat inovasi serupa Silicon Valley di Amerika Serikat.
Faktor keselamatan dikhawatirkan publik di Hong Kong
Sebanyak belasan orang telah didakwa atas kasus dugaan suap terkait manipulasi hasil uji kekuatan beton pada proyek ini.
Pada Juli 2018, Departemen Jalan Raya Hong Kong mengakui adanya masalah di gedung pemeriksaan kendaraan setelah ruang pemasok listrik terendam air hujan.
Selain itu, terdapat kekhawatiran terkait kualitas blok beton yang dirancang untuk menahan gelombang.
Setelah sejumlah foto yang beredar di internet menunjukkan blok-blok beton tersebut berserakan, memunculkan pertanyaan mengenai kualitas material yang digunakan.
Albert Lai Kwong-tak, seorang insinyur sekaligus anggota lembaga kajian di Hong Kong, menyatakan bahwa kualitas konstruksi mengalami penurunan.
Namun, Komite Peninjauan Penyelesaian yang dibentuk oleh pihak berwenang China telah menyatakan pada Rabu (19/4/2023) bahwa bagian utama dari Jembatan Hong Kong-Zhuhai-Makau tetap memenuhi standar kualitas konstruksi yang tinggi.
Proyek jembatan maut
Beberapa media menyebut proyek ini sebagai “jembatan maut”. Bukan tanpa alasan, ternyata 18 pekerja dilaporkan tewas selama mega proyek ini berlangsung.
Data resmi juga menunjukkan ratusan pekerja mengalami cedera; sebagian tertimpa mesin berat, dan yang lain terjatuh ke laut dari ketinggian.
Beberapa anggota parlemen mempertanyakan apakah aspek keselamatan pekerja diabaikan demi mengejar target penyelesaian proyek.
Sejumlah keluarga korban telah menggugat kontraktor dengan tuduhan bahwa perlindungan bagi pekerja tidak memadai.
Dilaporkan bahwa pemerintah Hong Kong telah mendenda enam kontraktor masing-masing sebesar US$82.000 karena gagal menjamin keselamatan pekerja.
Pemerintah China menyatakan bahwa keluarga korban telah menerima kompensasi atas insiden tersebut.
Proyek berdampak negatif terhadap ekosistem laut sekitar
Pihak berwenang berjanji untuk “sebisa mungkin mengurangi dampak buruk,” namun beberapa pihak mengkhawatirkan proyek reklamasi ini dapat mengganggu habitat laut.
Termasuk ikan lumba-lumba putih yang tergolong rentan.
Menurut World Wide Fund for Nature, dalm 10 tahun terakhir in, lumba-lumba putih di perairan Hong Kong populasinya semakin menurun. Awalnya 148 menjadi 47 ekor ikan lumba-lumba.
Dan diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengukur dampak pembangunan ini terhadap lingkungan.
Di samping berita negatif tersebut, proyek ini mencatat berbagai rekor dunia dan menjadi contoh mega infrastruktur penyeberangan laut.
Proyek ini memberikan pelajaran penting dalam pembangunan serupa di masa depan.
Hingga akhir 2022, pelabuhan darat Zhuhai di jembatan ini telah mencatat nilai impor dan ekspor melebihi 500 miliar yuan.
Selain itu, juga telah melibatkan transaksi dengan 230 negara sejak jambatan tersebut dibuka pada Oktober 2018.*** (Aliya Farras Prastina)
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi