Mengulik ‘Harta Karun’ dibalik Keganasan Lumpur Lapindo di Sidoarjo, Benarkah Mengandung Aneka Mineral?

inNalar.com – Sebuah desa kecil di Sidoarjo digemparkan oleh lumpur panas yang menyembur dari tanah, tepatnya 17 tahun yang lalu.

Tak ada yang menyangka lumpur ini mampu menenggelamkan 16 desa, 30 pabrik, 77 fasilitas publik dan 25.000 pengungsi.

Untuk mitigasi bencana yang dilakukan oleh pemerintah adalah mengalirkan lumpur menuju ke Selat Madura melalui sungai Porong.

Baca Juga: Punya Tanah Totalnya Rp920 Juta, Harta Kekayaan Walikota Bontang Kalimantan Timur Ini Melambung hingga…

Diketahui, volume aliran lumpur sekitar 30.000-60.000 m3 setiap harinya hingga beberapa tahun terakhir (Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Sukabumi).

Banyak upaya yang telah dilakukan pemerintah dengan menggunakan teknologi canggih dan doa dari jutaan masyarakat untuk menghentikan semburan lumpur itu.

Namun, usaha tersebut hanya sia-sia sudah hampir 2 dekade berlalu lumpur lapindo masih terus mengalir.

Baca Juga: Harta Kekayaan Wali Kota Perempuan Pertama dalam Sejarah Pemerintahan Kota Semarang, Capai Rp 3,3 Miliar?

Melansir dari YouTube INFO menurut Kepala Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo mengatakan menurut sejumlah ahli geologi semburan ini akan berlangsung hingga 40 tahun lamanya.

Sedangkan berdasarkan penelitian ahli geologi dari Oslo University bahwa pada tahun 2021 lalu aliran lumpur lapindo Sidoarjo telah melepaskan 100.000 ton metana setiap tahun ke atmosfer.

Sehingga bencana lumpur lapindo memecahkan rekor sebagai sumber metana terbesar yang ada di dunia.

Baca Juga: Andi Harun, Wali Kota Samarinda dengan Total Harta Rp29 Miliar Ternyata Pernah Raih Penghargaan…

Di sisi lain, akhir-akhir ini publik sempat dihebohkan dengan temuan harta karun langka di dalam lumpur. Benarkah demikian?

Harta karun lumpur lapindo tersebut berupa logam tanah jarang yang didalamnya mengandung Lithium (Li) dan Stronsium (Sr).

Elemen logam tanah jarang yang memiliki segudang manfaat dengan harga lebih mahal dibandingkan emas.

Kandungan logam di dalam lumpur lapindo menjadi salah satu mineral langka yang menambah panjang harta karun energi di Indonesia.

Seorang Ahli geologi Handoko Teguh Wibowo menyatakan dalam semburan Lumpur Sidoarjo ditemukan kandungan mineral  seperti Lithium, dan Stronsium.

Dimana memiliki konsentrasi yang tinggi dan terkandung  dalam hamparan lumpur sekitar 600-700 hektar.

Saat ini, Handoko terus melakukan penelitian dan pengujian ulang di sejumlah titik yang mewakili area lumpur lapindo.

Diketahui, logam jarang ini sangat penting dalam bidang tertentu seperti untuk pembuatan pesawat luar angkasa, lampu energi tinggi dan semikonduktor.

Selain itu, menurut US Geological Survey ada lebih dari 200 produk yang menggunakan logam khususnya ponsel, televisi layar datar, kendaraan elektrik, dan sebagainya.

Tetapi, sangat disayangkan mengingat Indonesia belum memiliki infrastruktur yang berbasis baterai dengan litium belum tersedia.

Bahkan, belum ada yang mengatur tata kelola harta karun berupa litium dan strontium di negeri.

Tentunya, ini menjadi tantangan bagi bangsa kita di masa mendatang untuk mengelola lumpur lapindo dengan cara yang baik.***

Rekomendasi