Mengenang Tragedi Petrus Era Soeharto, Masa Orde Baru yang Capai Korban Lebih dari 1000 Hingga Pelanggaran HAM

InNalar.com – Saat berbicara tentang Soeharto, tentu banyak kisah yang bisa dikulik selama dirinya menjabat menjadi presiden.

Hal itu pula yang mengubah Indonesia dari masa orde lama Soekarno, menuju ke orde baru karena terdapat pergantian kepala negara.

Salah satu kisah yang cukup menarik yaitu tentang penembakan misterius, atau petrus yang ceritanya cukup terkenal hingga sekarang.

Baca Juga: Kebijakan Petrus ala Presiden Soeharto Hebohkan Era Orde Baru, Segini Efektivitasnya saat Turunkan Kejahatan

Agar lebih paham, kejadian ini diperkirakan terjadi sekitar tahun 1982 hingga 1985 yang terjadi di wilayah Jakarta dan Jawa Tengah.

Disebut sebagai petrus, sebab operasi ini bersifat rahasia dalam rangka menangkap dan membunuh orang-orang yang dirasa mengancam kedamaian serta ketentraman warga.

Dilansir InNalar.com dari p2k.stekom.ac.id, sebab di sekitar tahun 1980-an saat itu tingkat kejahatan dapat dibilang cukup tinggi.

Baca Juga: Soeharto Ungkap Hal Penting yang Harus Dimiliki Presiden Sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Perang

Meski begitu, selama kejadian ini terjadi ternyata penembak itu tidak pernah tertangkap dan diketahui, karena itulah disebut sebagai penembak misterius (petrus).

Adapun orang-orang yang diincar biasanya adalah gabungan anak liar, atau bisa disingkat juga menjadi Gali.

Walaupun dalam menilai mana yang jadi Gali, penilaian itu tidak ada yang jelas.

Baca Juga: Saking Kacaunya, Kabinet ‘Chaos’ Amir Syarifuddin Sampai Bikin Soeharto Tidak Berselera ke Politik

Bisa saja karena memiliki tato, orang itu dinilai sebagai Gali dan akan ditembak oleh petrus.

Mengerikannya, dari kejadian yang kurang lebih berlangsung selama 3 tahun ini, diperkirakan lebih dari 1000 orang telah menjadi korban.

Bagi para orang yang menjadi korban, biasanya mayat mereka akan dimasukan ke dalam karung, atau bisa saja ditemukan dalam kondisi tubuh yang terikat.

Tentu tindakan petrus di kala pemerintah Soeharto telah melanggar hak asasi manusia (HAM).

Sayangnya, karena saat itu tidak ada yang mengetahui pelakunya tentu hal ini juga tetap menjadi misterius.

Walau akhirnya ada orang yang mengakui hal ini, yaitu presiden Joko Widodo di awal tahun 2023.

Meski pemimpin negara telah mengakui tragedi petrus adalah pelanggaran HAM, tentu kisah ini tidak akan bisa lepas dari Indonesia.***

 

Rekomendasi