Mengenal Uniknya Desa Tuli di Bengkala, Mayoritas Penduduknya Berkomunikasi Pakai Bahasa Isyarat, Kok Bisa?


inNalar.com – Bali sudah menjadi destinasi yang tidak asing lagi didengar oleh penduduk lokal maupun sampai kancah internasional.

Tak hanya kaya akan pesona keindahan alam saja Bali juga dikenal sebagai daerah yang memiliki tingkat toleransi sangat tinggi, dengan tidak mengenal suku, ras serta agama.

Desa Bengkala ini dikenal sebagai desa yang mempunyai kearifan lokal yang sangat unik yaitu dengan mayoritas penduduknya tuli sehingga dalam berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat.

Baca Juga: Mandek 2 Tahun Gara-gara Debat China, Mega Proyek Smelter Terbesar di Kalbar Akhirnya Diteruskan Setelah…

Salah satu toleransi unik tersebut yaitu terletak pada masyarakat di Desa Bengkala, Kubutambahan, Buleleng, Bali.

Diketahui dari jumlah penduduk di desa Bengkala kurang lebih sebanyak 3 ribu jiwa 44 diantaranya merupakan orang yang tuna rungu atau tuli.

Dilansir inNalar.com dari laman situs The Bali Bible, mitos yang terdapat pada Desa Bengkala yang pada dahulunya masyarakat Bengkala yang taat ini harus menentang Raja mereka yang dianggap korupsi.

Baca Juga: Ridwan Kamil Angkat Bicara Atas Kebakaran di TPA Sarimukti, Bermula dari Puntung Rokok Jadi Kobaran Api

Lalu mereka dengan tegas menetapkan sebuah batasan sendiri dan menolak untuk mendengarkan ataupun menanggapi semua perintah Raja yang dianggap tidak masuk akal.

Raja yang bengis itu akhirnya marah dan mengutuk desa tersebut agar menjadi tuli dan bisu selamanya.

Namun terdapat pula penjelasan ilmiah dari desa tuli tersebut, yakni adanya gen resesif pada geografis, DFNB3 yang akhirnya menyebabkan ketulian dan kebisuan daat lahir.

Baca Juga: Telah Ada Sejak 1871, Rumah Adat Kalimantan Selatan Ini Punya Cara Tersendiri Menentukan Ukurannya, Apa Saja?

Meskipun desa ini terbilang unik dengan penduduknya yang tuli, hal yang paling mencolok dari desa bengkala ini adalah kebersamaan yang terjalin di antara penduduk tersebut.

Penduduk di desa sudah menciptakan bahasa isyarat mereka sendiri yang unik untuk dapat mempermudah komunikasi antar satu sama lain.

Di Desa Bengkala bahasa isyarat ini dikenal dengan sebutan “Kata Kolok” yang mempunyai arti “Pembicaraan Orang Tuli”.

Baca Juga: Dijadikan Pengganti Gula, Madu Bisa Sebabkan Diabetes, Mitos atau Fakta? dr Zaidul Akbar Menjelaskan

Bahkan bahas isyarat atau Bahasa Kolok ini sendiri sudah menjadi pembelajaran di Sekolah Dasar mulai dari kelas 1 sampai kelas 6

Diketahui pula keberadaan warga kolok ini telah tercatat dalam sebuah catatan lempengan tembaga pada zaman pemerintahan Paduka Sri Maharaja Aji Jayapangus di tahun 1133-1173 Masehi.

Dan Keberadaan Desa Bengkala ini sendiri juga telah tercatat dalam sebuah prasasti yang dibuat pada 118, Prasasti ini kemudian ditemukan di tahun 1971.

Baca Juga: Kejar Ketertinggalan di Jawa, Pemprov Jawa Timur Kebut PLTP Blawen Ijen Rampung Tahun 2024

Tanggal yang tertera pada Prasasti yaitu 22 Juli yang pada akhirnya dijadikan sebagai peringatan hari lahirnya Desa Bengkala.***

 

Rekomendasi