Mengenal Tradisi Tumbilotohe di Manado, Peringatan Ramadhan oleh Umat Muslim Etnis Gorontalo

inNalar.com – Kota Manado yang berada di Sulawesi Selatan telah dikenal sebagai tempat penduduk beragama Kristen dengan presentase 62 persen dari total penduduk.

Hal ini diperkuat dengan pembangunan Patung Yesus Memberkati yang ikonik di Kota Tinutuan tersebut.

Namun, meski menjadi minoritas, ternyata beberapa kaum muslim di Manado masih memegang erat kebudayaan lokal yang berbaur dengan adat setempat.

Baca Juga: Hutan ‘Alice In Wonderland’ Ada di Banyuwangi, Jawa Timur! Suguhkan Suasana Bak Negeri Dongeng yang Menawan

Salah satunya adalah perayaan tradisi tumbilotohe yang sudah menjadi kebiasaan dari etnis Gorontalo.

Tradisi ini sendiri merupakan perayaan pasang lampu yang digelar di sepertiga malam terakhir Ramadhan, terutama menjelang Idul Fitri.

Sejarahnya berawal dari masyarakat Gorontalo yang dulu kerap memasang sumbu api di lampu botol sebagai penerang jalan untuk pergi ke masjid.

Baca Juga: Keisya Levronka Banjir Hujatan Usai Podcast Bareng Marlo, Attitude saat Interview Jadi Sorotan Netizen

Penerangan ini dilakukan karena pada masa itu masih belum ada listrik yang menjadi sumber cahaya di masa kini.

Sebelumnya, masyarakat menggunakan wango-wango, yaitu penerangan dari kulit kelapa yang dihaluskan, diruncingkan, lalu dibakar.

Kemudian, mereka mulai menggunakan alat penerangan berupa damar yang bisa menyala cukup lama. Seiring berjalannya waktu, bahan untuk penerangan diganti dengan minyak tanah.

Baca Juga: Kampung Pelosok di Balik Gua dengan Akses Masuk Ekstrem Picu Adrenalin Ini Ada di Kebumen, Jawa Tengah

Kini, lampu-lampu tradisional tersebut lebih dimeriahkan dengan tambahan ribuan lampu listrik dalam tradisi tumbilotohe, khusus di Gorontalo.

Selain menambahkan hiasan seperti janur kuning, masyarakat juga mulai memakai lampu gantung yang lebih modern daripada memakai botol bekas.

Botol-botol ini dipasang dari maghrib sampai waktu menjelang subuh. Banyak juga pedangang yang menjual penerangan tradisional ini dengan harga 1 ribu per botol.

Pemandangan festival tumbilotohe sekilas terlihat mirip dengan perayaan umat Kristen yang menyalakan lampu lilin.

Di festival ini, masyarakat mengadakan lomba antar kampung atau kecamatan, meniup meriam bambu, atraksi bunggo, dan festival beduk.

Etnis Gorontalo yang mayoritas beragama muslim tetap melestarikan festival ini untuk merayakan perayaan Idul Fitri di Manado.

Melalui tradisi tumbilotohe ini, masyarakat Gorontalo menjaga budaya lokal dan merapatkan tali persaudaraan di antara mereka dengan berbagai hiburan.***

Rekomendasi